<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Madunya Ilmu</title>
	<atom:link href="http://alvianiqbal.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://alvianiqbal.wordpress.com</link>
	<description>Kemalingan Harta 'Yes', Kemalingan Iman 'No'</description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Nov 2011 21:30:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='alvianiqbal.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Madunya Ilmu</title>
		<link>http://alvianiqbal.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://alvianiqbal.wordpress.com/osd.xml" title="Madunya Ilmu" />
	<atom:link rel='hub' href='http://alvianiqbal.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>MAROKO KUDATANG</title>
		<link>http://alvianiqbal.wordpress.com/2011/09/03/maroko-kudatang/</link>
		<comments>http://alvianiqbal.wordpress.com/2011/09/03/maroko-kudatang/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Sep 2011 00:14:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alvianiqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alvianiqbal.wordpress.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[Refleksi Setahun di Maroko  Oleh Alvian Iqbal Zahasfan* Maroko kudatang, demikian tertulis di buku diaryku tertanggal 20/6/2010. Di sana tergores rencana persiapan-persiapanku menghadapi ujian beasiswa S2 di PBNU. Setahun sebelumnya ketika saya kursus bahasa Inggris di Pare-Kediri (Mahesa dan BEC) bertekad bahwa setelah selesai kursus saya akan kembali ke Jakarta untuk mengadu nasib. Kuobok-obok info [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=158&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Refleksi Setahun di Maroko</strong></p>
<p><strong> </strong>Oleh <strong>Alvian Iqbal Zahasfan*<br />
</strong><br />
Maroko kudatang, demikian tertulis di buku <em>diary</em>ku tertanggal 20/6/2010. Di sana tergores rencana persiapan-persiapanku menghadapi ujian beasiswa S2 di PBNU. Setahun sebelumnya ketika saya kursus bahasa Inggris di Pare-Kediri (Mahesa dan BEC) bertekad bahwa setelah selesai kursus saya akan kembali ke Jakarta untuk mengadu nasib. Kuobok-obok info beasiswa di internet. Kutanya sana-sini perihal beasiswa. Kudapatkan dua informasi beasiswa, pertama beasiswa dalam negeri yang diselenggarakan oleh Kemenag. Kedua, beasiswa luar negeri yang diadakan oleh PBNU.</p>
<p>Kuikuti kedua beasiswa tersebut. <em>Alhamdulilah</em> saya ditakdirkan ke Maroko. Sesuatu yang tak terprediksikan sebelumnya. Dulu saya bercita-cita ke Al-Azhar Kairo. Tapi masuknya malah di Al-Azhar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang dulu direktori oleh Bapak Abdus Somad Kamba, sekarang menjadi (Fakultas Dirasat Islamiyah) karena satu dan lain hal (seperti faktor politis).</p>
<p>Kupersiapkan seluruh persyaratan yang diminta penyelenggara beasiswa PBNU yang bekerjasama dengan Kementerian Wakaf Dan Urusan Keislaman Maroko. Materi ujian diantaranya, hafalan Quran. Kuhafalkan 3 juz. Kubaca sejarah NU dan ajaran-ajarannya. Kubaca keindonesiaan dan keislaman, karena materi ujiannya meliputi; hafalan quran, keindonesiaan, keislaman dan ke-NU-an. Kalau tesnya di PP Muhammadiyah mungkin saya harus baca ke-Muhammadiyah-an bukan ke-NU-an (tergantung penyelenggara). Setelah kupersiapkan secara ilmiah, kuimbangi dengan persiapan ilahiah. Kuberdoa dengan memelas ke Yang Maha Kuasa. Solat Dhuha dan Tahajud tidak ketinggalan kulakoni. <em>Bismillah</em> tanggal 25 Juni 2010 pas bertepatan dengan tanggal HUT-ku digelar ujian beasiswa di gedung PBNU di bilangan Kramat Raya Jakpus.</p>
<p>Alangkah semangat dalam dada membuncah antara harap dan cemas menghadapi ujian, tapi batinku mengatakan, “Inilah saatnya kumelejit, mengadu nasib. Aku harus bisa, kan kujawab pertanyan para penguji dengan sesempurna mungkin. Selebihnya terserah Allah.”</p>
<p>Kutunggu pengumuman hasil tes beriringan solat malam dan doa yang tak putus-putus. Akhirnya nongol juga tuh pengumuman, Senin 5 Juli 2010 11:08 (demikian tertera di laman NU Online, file:///E:/maroko/MAROKO%20LULUS_files/page.htm). <em>Alhamdulillah</em>, namaku tertera di sana. Sujud syukurku langsung menukik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nah, kini waktunya mempersiapkan finansial. Karena tiket pesawat ke Maroko ditanggung peserta. Ah, enggan aku meminta ke ortu. Ortu sudah banyak terbebani olehku. Adikku ada tiga. Tabunganku tidak cukup. Ya… akhirnya kuputer akal. kubuat proposal. Kala itu bertepatan dengan bulan Ramadan 1431 H/2010 M. Atas nama <em>Ibnus Sabil</em>—<em>bismillah</em>—kubikin proposal dengan tema “Proposal Tiket Pesawat” tidak tanggung-tanggung kubuat sekitar 30 proposal:</p>
<p>1. Al-Azhar Peduli Umat,</p>
<p>2. Amanah Takaful,</p>
<p>3. Baitul Maal Pupuk Kaltim,</p>
<p>4. Baitul Maal Muamalat,</p>
<p>5. BAMUIS Bank BNI,</p>
<p>6. Baitul Maal Pupuk Kujang,</p>
<p>7. Baitul Maal BUKOPIN,</p>
<p>8. Baituzzakah PERTAMINA,</p>
<p>9. BAZIS DKI Jakarta,</p>
<p>10. Baznas,</p>
<p>11. Bank Indonesia,</p>
<p>12. BPZIS Bank Mandiri,</p>
<p>13. BSM Umat,</p>
<p>14. Dompet Dhuafa,</p>
<p>15. DPUDT-Pusat,</p>
<p>16. SDM IPTEK,</p>
<p>17. LAZ DDI,</p>
<p>18. LAZ IPHI,</p>
<p>19. LAZIS Garuda,</p>
<p>20. LAZIS Muhammadiyah,</p>
<p>21. LAZIS NU,</p>
<p>22. LAZNAS BMT,</p>
<p>23. PKPU,</p>
<p>24. PORTAL INFAQ,</p>
<p>25. PT. Asuransi Astra Buana Syariah,</p>
<p>26. PT. Djarum Indonesia,</p>
<p>27. PT. Surya Madistrindo,</p>
<p>28. Rumah Zakat Indonesia,</p>
<p>29. YBM BRI,</p>
<p>30. PT. UFO BKB Syariah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Berbekal pengalaman berorganisasi di beberapa lembaga dalam dan luar kampus akhirnya proposal siap disebar. Dari ketigapuluh proposal yang dibuat, yang terkirim hanya 18 saja. Mungkin kami (saya dan teman-temanku, Taufiq dan Habibullah Siregar) sudah kelelahan mencari alamat dan mengantarkan langsung ke tempat yang dituju. Belum lagi mencari lokasi alamat perusahaan di Jakarta gampang-gampang susah. Sebagian besar proposal, kami antar langsung. Dan sisanya dengan terpaksa kami kirim via pos. Entah berapa ongkos yang telah kami keluarkan demi proposal berjudul “Tiket Pesawat” ini. Mungkin—seingat saya—sekitar 500 ribuan.</p>
<p>Proposal disebar ke lembaga-lembaga zakat yang saat itu tengah naik daun, juga ditujukan ke perusahaan-perusahaan, diantaranya PT. UFO BKB Syariah Jakarta. Alhamdulillah usaha menyebarkan proposal diterik mentari di siang bolong bulan puasa tidak sia-sia. Bahkan hampir saja saya dan seorang yang menemaniku kecelakaan (jatuh dari motor karena bersenggolan dengan pengendara lain) saat hendak mengantarkan proposal ke seorang Big Bos (PT. UFO BKB Syariah Jakarta) kenalan saya, sampai celanaku robek dan kaki kiri luka.</p>
<p>Melalui tulisan ini kuucapkan banyak terima kasih dan doa semoga pihak-pihak yang telah membantu saya dibalas oleh Allah dengan balasan yang jauh lebih banyak dan barokah. Diantara instansi yang membantu saya adalah;</p>
<p>1. BAZNAS, (Dini dan Dewi/ mereka yang meng-interview-ku apakah saya layak menerima bantuan atau tidak)</p>
<p>2. Baitul Maal BUKOPIN (Bapak Nur Cholis/orang dalam),</p>
<p>3. Amanah Takaful (Bpk. Jaelani/bukan orang dalam, dia sekedar mengatakan kepadaku; “Minggu depan datang kesini ya Pak Alvian”. Kujawab “InsyaAllah Pak, terima kasih”. Lalu kututup telepon),</p>
<p>4. PT. UFO BKB Syariah (Pak Fico dan Pak Imron/Big Bos dan tangan kanannya yang tahun lalu kukenal).</p>
<p>Jadi dari 30 proposal yang dibuat yang terkirim hanya 18. Dan yang membantu hanya 4 saja. Alhamdulillah walau Cuma 4 yang penting cukuplah untuk beli tiket pesawat guna menimba ilmu di negeri terbenamnya mentari, negeri eksotik seribu benteng, negeri para sufi dengan <em>zawiyah</em>nya. Kini hampir genap setahun saya berada di Maroko. Pertama kali kaki menjejakkan di bumi Maghrib/Morocco/Maroc tanggal 27 September, setelah sebelumnnya <em>take off</em> dari Bandara SUTA tgl 26 September dengan dua kali transit, di Doha sekitar 5 jam dan di Libya 30 menit (sebelum revolusi tentunya).</p>
<p>Lewat tulisan ini saya ingin mengekspresikan KEDAHSYATAN ILMU kepada segenap para pembaca. Ceritanya, Sang Big Bos PT. UFO BKB Syariah yang saya kenal waktu wisuda di Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah menghampiriku seraya memperkenalkan diri dan memujiku karena saya meraih ranking tiga di pesantren tersebut dan terkesan dengan pesan dan kesan yang kutulis di album wisudawan, seraya berkata, “Kapan-kapan main ke kantorku ya! InsyaAllah, Pak, Jawabku”. Selang setahun berlalu, masa berganti dan kebutuhan mendesak, setelah memutar otak—untuk mencari uang yang cepat guna membeli tiket pesawat—akhirnya kuteringat kenalanku itu yang ternyata seorang Big Bos yang setahun lalu tidak kusangka kalau dia seorang Big Bos karena kerendahan hati dan kesederhanaannya.</p>
<p>Singkat cerita saya bertemu dengan beliau untuk kedua kalinya di kantornya yang megah di bilangan Ancol. Sejurus kemudian kami terlibat obrolan ringan seputar proposal saya; “Kamu mau belajar ke Maroko” Ujar Pak Fico. “Iya Pak”. “Kamu butuh duit berapa?”. “Ya… kalau tiketnya sih kata penyelenggara beasiswa (PBNU) sebesar 8,5 juta Pak”. “O.. ya sudah, besok hari senin kamu datang kesini lagi, ngisi acara Doa Pagi (Semacam ceramah/motivasi) ya? Ya sekitar 15 menit aja. Jam berapa Pak? jam 08.00, tapi usahakan jam 07.30 kamu sudah di sini. Ok?” Baik Pak, InsyaAllah”.</p>
<p>Seiring mentari pagi ibukota di hari senin yang terkenal super sibuk itu kukenakan baju, celana dan sepatu baru guna mengisi Doa Pagi di sebuah perusahaan (suatu momen yang istimewa). Tepat jam 07.30 saya sampai di kantor Pak Fico berkat Bus-Way yang mengantarku dengan lancar.</p>
<p>Kaki sudah di atas podium. Di depanku sekitar 100 orang siap mendengarkan “Doa Pagi”ku. <em>Assalamuaikum wa rahmatullahi wabarokatuh!</em>&#8230;. lalu mengalirlah huruf per huruf, kata perkata hingga menjalin menjadi untaian kalimat yang menggugah dan mencerahkan mereka. “Semoga bermanfaat”, ujar batinku. Selepas acara tersebut Pak Fico menyalamiku sembari mengucapkan, “Dahsyat… Terima kasih Alvian”. Saya diajak ke ruang pribadinya, “Kamu mau <em>cash</em> atau <em>check</em>?” Pak Fico menanyaiku. “Kalau <em>check</em> kukasi sekarang kamu cairkan sendiri, kalau <em>cash</em> tunggu sebentar, biar dicairkan dulu sama karyawan”. Setelah berpikir, kujawab “<em>Cash</em> aja Pak”. Baik tunggu di sini ya, saya kasih 10 jt. 1,5nya bonus… mau teh apa kopi Vian? “Terima kasih Pak, teh aja”.</p>
<p>Subhanallah betapa dahsyatnya ilmu itu. Hanya menyampaikan ilmu sekitar 15 menit dibayar 10 jt. <em>Subhanallah</em> tak henti-hentinya saya terkagum dan syukur kepada Yang Maha Mengetahui. Betapa ilmu itu memang luar biasa, DAHSYAT. Bagaimana dengan orang-orang yang berilmu yang jauh di atas saya. Boleh jadi uang itu datang sendiri tanpa harus “ngoyo” dikejar. Mari kita mencari ilmu <em>Lillahi Ta’ala</em>, masalah rezeki bakal ngikut. <em>Wallahu A’lam wa akhiru da’wana ‘anil hamdulillahi rabbil ‘alamin</em></p>
<p>Hay Soussi Deux, Rabat-Maroko, 2-3 Syawal 1432 H/1-2 September 2011</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>* Alvian Iqbal Zahasfan SSI, Lc</em></p>
<p>Jember, 25 Juni 1983</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Alumni Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Syarif Hidayatullah 2008</p>
<p>Alumni Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Jakarta 2009</p>
<p>Mahasiswa S2 Dar el Hadith el Hassania Rabat-Maroko 2010-2013</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alvianiqbal.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alvianiqbal.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alvianiqbal.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alvianiqbal.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alvianiqbal.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alvianiqbal.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alvianiqbal.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alvianiqbal.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alvianiqbal.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alvianiqbal.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alvianiqbal.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alvianiqbal.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alvianiqbal.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alvianiqbal.wordpress.com/158/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=158&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alvianiqbal.wordpress.com/2011/09/03/maroko-kudatang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f77160558335e892feae1c8507f2919f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alvianiqbal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Resonansi 3</title>
		<link>http://alvianiqbal.wordpress.com/2011/01/09/resonansi-3/</link>
		<comments>http://alvianiqbal.wordpress.com/2011/01/09/resonansi-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Jan 2011 01:58:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alvianiqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alvianiqbal.wordpress.com/?p=156</guid>
		<description><![CDATA[Kamis, 06 Januari 2011 pukul 09:30:00 Ragam Otoritas Islam Oleh Azyumardi Azra Siapa sebenarnya pemegang otoritas keagamaan dalam Islam? Kenapa umat Islam-khususnya di Indonesia-tidak bersatu di bawah satu otoritas keagamaan tunggal sehingga tidak ada lagi perbedaan-perbedaan, misalnya, yang paling mencolok, dalam penetapan awal dan akhir Ramadhan. Pertanyaan seperti ini sering muncul dalam berbagai seminar, diskusi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=156&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kamis, 06 Januari 2011 pukul 09:30:00</p>
<p>Ragam Otoritas Islam</p>
<p>Oleh Azyumardi Azra</p>
<p>Siapa sebenarnya pemegang otoritas keagamaan dalam Islam? Kenapa umat Islam-khususnya di Indonesia-tidak bersatu di bawah satu otoritas keagamaan tunggal sehingga tidak ada lagi perbedaan-perbedaan, misalnya, yang paling mencolok, dalam penetapan awal dan akhir Ramadhan. Pertanyaan seperti ini sering muncul dalam berbagai seminar, diskusi, dan sentimen publik. Ujungnya tidak hanya sering menimbulkan pandangan yang lebih merupakan idealisasi, bahkan juga sekaligus rasa frustrasi di kalangan umat.</p>
<p>Adanya perbedaan-perbedaan yang tidak pernah selesai seperti-dan bahkan tampaknya merupakan keniscayaan Islam Indonesia-bersumber dari otoritas yang sejak semula terpencar dalam tradisi Sunni. Berbeda dengan tradisi arus utama Syi&#8217;ah yang sentralistik karena terpusat pada imam yang merupakan otoritas agama dan politik tunggal. Tradisi Sunni pada masa klasik dan pertengahan setidaknya telah terpencar ke dalam dua sumbu: otoritas ulama, yang terpencar ke dalam berbagai mazhab dan aliran, dan otoritas politik-sultan atau raja, yang tidak jarang menggunakan kekuasaan politik untuk menguasai dan mengarahkan otoritas keagamaan untuk kepentingan politiknya sendiri.</p>
<p>Sejak masa kolonialisme Eropa yang menguasai banyak wilayah dunia Muslim dan pasca Perang Dunia II yang diikuti kemerdekaan banyak negara Muslim, otoritas agama kian terpencar. Ini banyak terkait dengan bentuk dan modus relasi keduanya dalam konteks negara-bangsa. Banyak negara mengintegrasikan Islam dengan menjadikan diri sebagai negara Islam atau membuat Islam sebagai agama resmi negara. Dalam modus seperti ini, otoritas agama menjadi bagian integral otoritas negara. Karena itu, hal-hal yang menyangkut Islam, seperti penetapan awal dan akhir Ramadhan, menjadi bidang otoritas lembaga agama, seperti mufti yang sekaligus bagian dari struktur kekuasaan negara yang harus dipatuhi segenap warga Muslim.</p>
<p>Negara-bangsa Indonesia tidak menganut kedua model tersebut. Indonesia bukan negara Islam, meski penduduknya 88,7 persen beragama Islam. Islam juga bukan agama resmi negara karena Indonesia tidak memiliki agama resmi, yang ada hanya agama yang diakui negara, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Sebab itu, Islam-seperti juga agama-agama tadi-berada di tangan umatnya sendiri. Sekalipun ada Kementerian Agama sejak kabinet pertama pasca kemerdekaan, ia tidaklah kemudian menjadi pemegang otoritas Islam, dan apalagi kementerian ini tidaklah khusus berkenaan dengan urusan masyarakat Islam, tetapi juga komunitas-komunitas agama lain.</p>
<p>Dengan begitu bisa dipahami mengapa otoritas agama Islam Indonesia menjadi terpencar dan terus kian terpencar dalam masa lebih belakangan ini ketika berbagai faktor terus bekerja memengaruhi otoritas agama. Pada awalnya di masa kesultanan, otoritas agama berpusat pada ulama yang berada pada lembaga-lembaga pendidikan Islam, seperti dayah, surau, dan pesantren.</p>
<p>Pada masa kolonial Belanda, otoritas agama menjadi terpencar di antara ulama yang berada pada lembaga-lembaga Islam yang uzlah dari kekuasaan kolonial dengan ulama yang menjadi bagian dari struktur pemerintahan kolonial. Pada dasawarsa-dasawarsa awal abad 20, pemencaran otoritas agama kian meningkat dengan munculnya berbagai organisasi Islam sejak dari Jami&#8217;at Khair, Muhammadiyah, NU, dan seterusnya. Sejauh menyangkut otoritas dalam bidang fikih, organisasi-organisasi ini memiliki lembaga fatwanya masing-masing yang tidak saling mengikat satu sama lain.  Ragam otoritas agama jelas kian meningkat dan semakin cair dalam dua dasawarsa terakhir ketika terjadi ekspansi pendidikan tinggi Islam yang menghasilkan kian banyak lulusan yang by training ahli tentang Islam. Pada saat yang sama juga terkait dengan peningkatan kelas menengah Muslim yang mencari otoritas agama yang sesuai dengan latar belakang pendidikan dan lingkungan sosio-ekonomis. Tidak kurang pentingnya adalah adopsi liberalisasi politik dan ekspansi globalisasi yang sedikit banyak membuat memudarnya otoritas agama tradisional. Berbagai perkembangan ini menjadi subjek pokok pembahasan buku suntingan Azyumardi Azra, Kees van Dijk, dan Nico JG Kaptein, Varieties of Religious Authority: Changes and Challenges in 20th Century Indonesian Islam (Singapore: ISEAS, 2010).</p>
<p>Di tengah ragam otoritas agama yang terus memencar itu, bagaimana menyikapinya? Karena pemencaran itu merupakan keniscayaan. Yang perlu dikembangkan adalah sikap tasamuh, toleransi satu sama lain. Pada saat yang sama perlu diminimalisasi kecenderungan dominatif dan hegemonif di antara otoritas tersebut. Dan, tidak kurang pentingnya adalah mengembangkan sinergi di antara berbagai otoritas, sehingga dapat menimbulkan suasana psikologis yang nyaman dan damai bagi umat dalam keimanan keislamannya dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alvianiqbal.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alvianiqbal.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alvianiqbal.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alvianiqbal.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alvianiqbal.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alvianiqbal.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alvianiqbal.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alvianiqbal.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alvianiqbal.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alvianiqbal.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alvianiqbal.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alvianiqbal.wordpress.com/156/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alvianiqbal.wordpress.com/156/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alvianiqbal.wordpress.com/156/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=156&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alvianiqbal.wordpress.com/2011/01/09/resonansi-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f77160558335e892feae1c8507f2919f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alvianiqbal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Resonansi 2</title>
		<link>http://alvianiqbal.wordpress.com/2011/01/08/resonansi-2/</link>
		<comments>http://alvianiqbal.wordpress.com/2011/01/08/resonansi-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Jan 2011 22:38:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alvianiqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alvianiqbal.wordpress.com/?p=154</guid>
		<description><![CDATA[Jumat, 07 Januari 2011 pukul 14:34:00 Transformasi 2011 &#160; Zaim Uchrowi Pagi itu pagi terakhir 2010. Para stafnya pun belum datang. Tapi, ia sudah ada di kantor: Duduk di kursi yang biasa dipakainya. Bukan di kursi kerja, bukan pula di kursi tamu. Tapi, di kursi rapat. Ia mengaku nyaman di kursi itu. Posisinya menghadap ke [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=154&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="date_news"><em>Jumat, 07 Januari 2011 pukul 14:34:00</em></div>
<h1>Transformasi 2011</h1>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Zaim Uchrowi</strong></p>
<p>Pagi itu pagi terakhir 2010. Para stafnya pun belum datang. Tapi, ia sudah ada di kantor: Duduk di kursi yang biasa dipakainya. Bukan di kursi kerja, bukan pula di kursi tamu. Tapi, di kursi rapat. Ia mengaku nyaman di kursi itu. Posisinya menghadap ke pintu ruang kerjanya yang selalu terbuka. Bahkan, langsung menghadap pintu luar tempat tamu keluar masuk menemui sekretarisnya.</p>
<p>Ia ingin pastikan orang tak sulit menemuinya. &#8220;Kalau ada yang bisa saya bantu ya saya bantu. Kalau tidak ya tidak,&#8221; ucapnya ringan. Seringan anggapannya bahwa ia tak ingin jadi beban siapa pun. Bahkan, untuk jadi beban stafnya sendiri. Ia tak terganggu bila stafnya datang lebih lambat atau pulang lebih cepat darinya. Yang penting tertib datang ke kantor dan mengerjakan tugas dengan baik.</p>
<p>Baginya, soal biasa untuk pulang kantor bersama dengan para stafnya. Biasanya ia duduk di kursi depan Camry dinasnya yang baru, di samping sopir. Sedangkan kursi belakang dijejali dengan tiga atau empat orang sejurusan yang akan sama-sama naik Kereta Rel Listrik (KRL) dari Jakarta ke Bintaro. Ia pulang balik ke kantor dengan kereta. Hal biasa bagi banyak orang termasuk para pegawai negeri. Namun, tidak bagi seorang dirjen. Apalagi dirjen bidang yang sangat penting dan memberikan pemasukan bagi negara sepertinya. &#8220;Ini praktis,&#8221; katanya sambil menunjukkan tiket KRL.</p>
<p>Cara pikir praktisnya dan tak terkungkung formalitas birokrasi membawanya pada efektivitas kerja luar biasa. Sebuah program yang pada periode sebelumnya berbiaya Rp 32 miliar berhasil ia tekan menjadi cuma kurang dari setengah miliar. Tumpukan surat 27 ribu yang belum terkirim dari kantornya ia selesaikan dalam seminggu. Meja-meja kerja para direkturnya ia minta bersih dari tumpukan berkas.</p>
<p>&#8220;Berkas memang harus diperiksa dengan seksama. Tapi yang saya tahu, seksama selalu diikuti dengan kata dalam tempo secepat-cepatnya,&#8221; katanya. Istilah yang dipetiknya dari teks proklamasi. Sistem administrasi yang pada periode sebelumnya sangat berbau kepentingan pejabatnya ia perbarui. Biayanya cuma separuh dari penghasilan bulanan negara  dari sistem tersebut.  Dan, ia tak mengambil keuntungan pribadi sedikit pun. Hidupnya biasa saja tak berlebihan. Tapi, ia juga tak merasa kekurangan.</p>
<p>Ia salah satu dari sedikit pejabat publik yang sungguh berorientasi kerja dan bukan kursi jabatan. Beberapa menit bersamanya di hari terakhir tahun silam, membuat saya optimistis. Selalu ada harapan bagi bangsa ini untuk berubah. Selalu ada sosok-sosok transformatif yang lebih mementingkan tugas dibanding diri sendiri buat kebaikan bersama. Kemauan untuk mentransformasi keadaan sekitar itu yang perlu kita tumbuhkan di semua lini. Itu hanya terjadi ketika kita siap memulainya dengan mentransformasi diri sendiri, menjadi sosok transformatif seperti dirjen luar biasa itu.</p>
<p><span style="color:#ff0000;">Tulus, mengedepankan akal sehat, tak bias kepentingan pribadi, tak marah, terus berkomunikasi, tak jaga gengsi, dan tetap membumi menjadi kunci buat mentransformasi.</span> Dengan itu pula, pada tingkat dan ruang lingkup berbeda tentu, saya mentransformasi Balai Pustaka. Menyusun ulang model bisnis, mengantarkan 75 persen karyawan memasuki dunia baru lewat pensiun dini, menata ulang struktur finansial, hingga harus memindah fisik kantor adalah rangkaian kerja di akhir dan awal tahun ini. Alhamdulillah, transformasi itu berjalan relatif baik.</p>
<p>Hari pertama Tahun Baru belum lama berlalu. Hijriah apalagi Masehi. Suatu waktu yang tepat bagi umat dan bangsa ini merancang transformasi semua hal di negeri tercinta ini, seperti yang dilakukan rekan itu pada direktorat jenderal yang dipimpinnya. Sekaranglah waktu yang tepat buat memulai berhijrah. Itu tentu harus dimulai dengan mentransformasi dan menghijrahkan karakter diri sendiri, sesuai petunjuk Nabi: &#8220;mulailah dari dirimu sendiri&#8221;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alvianiqbal.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alvianiqbal.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alvianiqbal.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alvianiqbal.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alvianiqbal.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alvianiqbal.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alvianiqbal.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alvianiqbal.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alvianiqbal.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alvianiqbal.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alvianiqbal.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alvianiqbal.wordpress.com/154/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alvianiqbal.wordpress.com/154/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alvianiqbal.wordpress.com/154/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=154&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alvianiqbal.wordpress.com/2011/01/08/resonansi-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f77160558335e892feae1c8507f2919f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alvianiqbal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Resonansi 1</title>
		<link>http://alvianiqbal.wordpress.com/2011/01/04/resonansi-1/</link>
		<comments>http://alvianiqbal.wordpress.com/2011/01/04/resonansi-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Jan 2011 03:16:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alvianiqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[RESONANSI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alvianiqbal.wordpress.com/?p=150</guid>
		<description><![CDATA[Riedl Zaim Uchrowi Hari-hari sekarang boleh jadi terbilang hari-hari paling menarik dalam hidup Alfred Riedl. Di usia 60 tahun, saat ini ia bisa saja memilih menikmati hidup di kota kelahirannya, Wina. Menyelinap sebentar di rintik salju menuju konser musik atau berbincang dengan sahabat di kafe untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Tapi, ia memilih yang panas ketimbang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=150&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Riedl</p>
<p>Zaim Uchrowi</p>
<p>Hari-hari sekarang boleh jadi terbilang hari-hari paling menarik dalam hidup Alfred Riedl. Di usia 60 tahun, saat ini ia bisa saja memilih menikmati hidup di kota kelahirannya, Wina. Menyelinap sebentar di rintik salju menuju konser musik atau berbincang dengan sahabat di kafe untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Tapi, ia memilih yang panas ketimbang sekadar hangat. Ia memilih gemuruh dibanding senyap.</p>
<p>Gemuruh sudah dirasakannya sejak hampir 40 tahun silam. Saat ia pindah ke Belgia dan bermain di kompetisi liga sepak bola negeri itu. Untuk beberapa musim ia menjadi pencetak gol terbanyak. Aplaus sudah biasa ia terima sejak muda. Namun, bukan tepuk tangan melainkan kerja keras menaklukkan tantangan yang paling ia minati. Sepak bola negeri panas bernama Indonesia ini sungguh dunia yang menantang.</p>
<p>Di negeri manapun sepak bola bukan sekadar olahraga. Sepak bola juga cermin macam apa masyarakat atau bangsa yang memainkannya. Tak terkecuali di sini, bangsa yang umumnya bertubuh kecil dan bertulang ringkih ini. Bagaimana bangsa dengan tubuh dan tulang demikian itu harus bertarung fisik selama sedikitnya 90 menit? Seberapa daya tahan yang dimiliki pula kalau makanannya nasi?</p>
<p>Seorang Riedl tentu tahu, nasi berperan dalam kekalahan Tiongkok melawan pasukan Jenghis Khan pada abad 13. Dengan sekali kenyang makan daging, pasukan Mongolia siap bertempur dua hari penuh. Sedangkan, tentara China harus sibuk mencari makan lagi setiap 5-6 jam karena sudah kembali lapar. Berapa banyak para pemain utama PSSI-sebagaimana penduduk negeri ini-yang basis makanannya daging dan bukan nasi?</p>
<p>Tak sekadar fisik, mental pun bermasalah. Ibnu Batutah, penjelajah dunia di abad pertengahan, konon membuat catatan tentang masyarakat nusantara yang pernah di kunjunginya. &#8220;Masyarakat ini masyarakat lembek karena dimanja alam.&#8221; Sejarahmembenarkan tudingan itu. Begitu gampang masyarakat ini dijajah. Determinasi dan kegigihan yang sepatutnya bagian dari karakter Pancasila, sama sekali belum tegak. Taufik Hidayat, salah seorang pebulutangkis paling berbakat yang pernah dilahirkan dunia, hampir selalu loyo dihadapan Lin Dan yang punya determinasi.</p>
<p>Masyarakat lembek menyuburkan sikap oportunis. Masyarakat lembek cenderung permisif pada sepak terjang para oportunis. Mereka pemakai jalan pintas, korup dan enggan berusaha secara wajar, suka membuat intrik, dan siap mengorbankan apa pun demi keuntungan pribadi, politik maupun ekonomi. Sejak zaman Mataram, orang-orang macam ini telah bergentayangan menguasai tataran elite masyarakat hingga sekarang. Sosok-sosok begini yang mengkapitalisasi kemenangan tim asuhan Riedl selama ini hingga tim itu berantakan lagi di Bukit Jalil Malaysia.</p>
<p>Integritas, ketulusan, kesungguhan, kedisiplinan, dan kerja keras merupakan fondasi sukses sejati. Itu dinafikan otoritas sepak bola kita yang mengambil jalan pintas naturalisasi. Langkah bagus pada satu sisi. Ada gen mental berbeda yang tersuntikkan pada gen lembek ini lewat sosok seperti Gonzalez-pemain temperamental yang kini sangat matang itu. Tapi, bila mentalitas bangsa masih seperti sekarang, pencapaian apa pun akan tetap rapuh, gampang roboh. Apalagi dengan mentalitas elite tanpa etika dan tak peduli Tuhan seperti sekarang. Termasuk elite komunitas bola.</p>
<p>Alfred Riedl, sejauh ini dan semoga terus, tak terbawa arus norak Indonesia macam itu. Ia tampak lebih fokus pada substansi membangun fondasi sepak bola. Menang-kalah bukan hal terpenting. Tak perlu sorak berlebihan kalau menang. Tak pula harus sibuk menghibur diri kalau kalah. Membangun fondasi secara benar lebih penting. Itu yang Indonesia secara menyeluruh perlukan saat ini, termasuk dalam urusan sepak bola. Urusan yang dipakai Riedl untuk ikut mewarnai Indonesia agar lebih baik. Melakukan itu tentu lebih mengasyikkan buatnya dibanding sekadar memandangi tumpukan salju dari kaca jendela rumahnya di Wina yang beku.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alvianiqbal.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alvianiqbal.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alvianiqbal.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alvianiqbal.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alvianiqbal.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alvianiqbal.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alvianiqbal.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alvianiqbal.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alvianiqbal.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alvianiqbal.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alvianiqbal.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alvianiqbal.wordpress.com/150/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alvianiqbal.wordpress.com/150/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alvianiqbal.wordpress.com/150/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=150&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alvianiqbal.wordpress.com/2011/01/04/resonansi-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f77160558335e892feae1c8507f2919f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alvianiqbal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sahih Bukhari Tidak Sahih Lagi?</title>
		<link>http://alvianiqbal.wordpress.com/2010/03/20/sahih-bukhari-tidak-sahih-lagi/</link>
		<comments>http://alvianiqbal.wordpress.com/2010/03/20/sahih-bukhari-tidak-sahih-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 05:53:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alvianiqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alvianiqbal.wordpress.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Sahih Bukhari Tidak Sahih Lagi? Bulan lalu Republika Online (10/8/2009) menurunkan sebuah wawancara dengan Prof. Dr. Muhibbin MAg, guru besar dan pembantu Rektor I IAIN Walisongo, Semarang. Isinya mempersoalkan kitab Sahih Bukhari. Wawancara tersebut menarik untuk ditanggapi mengingat respon dari pembaca cukup banyak dan beragam. Dari yang Ilmiah sampai yang tak layak untuk “dikunyah”. Secara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=143&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Sahih Bukhari Tidak Sahih Lagi?<br />
</strong></p>
<p style="text-align:left;"><strong><br />
</strong>Bulan lalu Republika Online (10/8/2009) menurunkan sebuah wawancara dengan Prof. Dr. Muhibbin MAg, guru besar dan pembantu Rektor I IAIN Walisongo, Semarang. Isinya mempersoalkan kitab Sahih Bukhari. Wawancara tersebut menarik untuk ditanggapi mengingat respon dari pembaca cukup banyak dan beragam. Dari yang Ilmiah sampai yang tak layak untuk “dikunyah”.</p>
<p>Secara ilmiah ditemukan dalam perjalanan sejarah ilmu hadis beberapa Huffadz atau ahli hadis yang mempersoalkan hadis-hadis yang termuat dalam Sahih Bukhari. Sebut saja misalnya Imam Abul Hasan ad-Daruquthni (385 H/995 M) dalam kitabnya at-Tatabbu’, Abu Mas’ud ad-Dimasyqi (401 H), Abu Ali al-Ghassani (498 H/1104 M) dll. Mereka banyak melemparkan kritik ilmiah kepada hadis-hadis Bukhari. Namun kritikan mereka pada empat abad berikutnya ditanggapi serupa oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (852 H/1449 M).</p>
<p>Jadi kajian pro kontra kesahihan hadis-hadis Bukhari sudah klasik dan telah banyak dijawab dan diperbincangkan oleh ulama klasik. Oleh karenanya, seseorang yang mengkaji polemik ini hendaklah merujuk kepada sumber klasik juga. Setidaknya kitab Hadyus Sari (Muqaddimah Fathul Bari fi Syarhi Sahihil Bukhari) karya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani.</p>
<p>Dalam Muqaddimah Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar mengulas panjang lebar tentang kitab Sahih Bukhari. Seperti latar belakang penyusunannya, penamaan, metodologi dan sebagainya. Ada sepuluh pasal di dalamnya. Diantaranya pasal kedelapan yang mengupas kritikan para ahli hadis (kritikus hadis) terhadap Sahih Bukhari. Dan kritikan-kritikan itu diurai dengan apik oleh Imam Ibnu Hajar.</p>
<p>Adapun pendapat Prof. Dr. Muhibbin MAg. yang menyatakan dalam wawancaranya bahwa ditemukan hadis-hadis dhaif (lemah) bahkan hadis maudhu’ (palsu) di dalam Sahih Bukhari, menurut hemat penulis hal ini merupakan suatu kesimpulan yang tampak tergesa-gesa.</p>
<p>Ada bebarapa alasan yang dapat diajukan di sini terkait di atas. Pertama, perbedaan pendapat tentang kesahihan kitab Bukhari telah dijawab oleh pakar hadis kenamaan seperti Imam Ibnu Hajar al-Asqali dalam karyanya Hadyus Sari (pengantar kitab Fathul Bari).</p>
<p>Kedua, sekalipun pro kontra kesahihan hadis-hadis Bukhari terjadi di kalangan para ahli hadis, namun tidak dijumpai dari para pakar hadis yang diakui kapabilitas dan kredibilitasnya menyatakan ada hadis maudhu’ atau palsu dalam Sahih Bukhari. Paling jauh para kritikus hadis hanya menilai dhaif.</p>
<p>Dalam Hadyus Sari, Imam Ibnu Hajar menukil sebuah riwayat dari Imam Abu Ja’far al-Uqaili (322 H/934 M), ketika Imam Bukhari menyelesaikan kitabnya (Sahih Bukhari) ia menyodorkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Ali bin al-Madini dan ulama ktirikus hadis lainnya, mereka menilainya sahih kecuali empat hadis. Belum lagi setiap kali hendak menulis hadis, Imam Bukhari shalat dua raka’at, guna meminta petunjuk dari Allah.</p>
<p>Ketiga, Imam Ibnus Sholah (643 H/1245 M) dalam kitab Ulumul Hadis (Muqaddimah Ibnus Sholah) menukil ijma’ para ulama bahwa kitab yang paling sahih setelah Alquran adalah kitab Sahih Bukhari.</p>
<p>Keempat, penamaan pribadi yang diberikan oleh Imam Bukhari terhadap kitab kumpulan hadisnya&#8211;yang kemudian terkenal atau disingkat oleh khalayak dengan Sahih Bukhari&#8211;adalah al-Jami’ as-Sahih al-Musnad al-Mukhtashar min Hadisi Rasulillah shallahu alaihi wa sallam wa Sunnahi wa Ayyamihi (Kompilasi Ringkas Hadis-hadis Sahih Rasulillah SAW yang Bersanad).</p>
<p>Jika diamati dari penamaan ini, Imam Bukhari hendak menyatakan bahwa kitabnya berisi kumpulan hadis-hadis sahih. Secara tidak langsung ia juga mempertaruhkan tanggung jawabnya kepada Nabi SAW dan umat Islam jika didapati menyantumkan hadis-hadis palsu yang kelak diamalkan oleh umat tanpa melalui penelitian terlebih dahulu.</p>
<p>Sementara itu jika benar terdapat hadis palsu yang dimuat oleh Imam Bukhari dengan sengaja dalam kitabnya tersebut maka secara otomatis ia telah memesan kapling tanah di neraka. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Dr.  Muhibbin MAg. pada akhir wawancaranya “Bagi para mubalig, kami menyarankan, hendaknya tidak asal mengutip hadis. Jangan selalu mengatakan bahwa itu hadis Nabi. Padahal, sesungguhnya bukan. Rasul menyatakan, barang siapa yang berbohong atas namaku maka tempatnya di neraka. Man kadzdzaba alayya muta&#8217;ammidan fal yatabawwa&#8217; maq&#8217;adahu minan nar. Telitilah kembali hadis-hadis yang ada sebelum diamalkan. Sudah benarkah itu hadis Nabi SAW. Jangan asal termuat dalam Shahih Bukhari, lalu diklaim sahih. Tanyakan pada yang lebih paham tentang hadis”.</p>
<p>Adapun alasan-alasan dan bukti ilmiah yang diajukan oleh Prof. Muhibbin untuk memperkuat argumennya bahwa terdapat hadis dhaif dan palsu dalam Sahih Bukhari, diantaranya adalah adanya kontradiksi hadis dengan Alquran, kontradiksi antar hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari sendiri dalam kitabnya, kontradiksi dengan fakta sejarah, adanya perawi-perawi yang dhaif, mungkar (semi pembohong) dan kadzdzab (pembohong), adanya hadis yang sifatnya prediksi atau ramalan yang bersifat politis dan mengandung fanatisme golongan, adanya sanad yang munqothi’ (terputus) dan lain sebagainnya. Tentu saya kira bukan di ruang ini untuk menanggapinya satu persatu.</p>
<p>Secara global, jika ditinjau secara filosofis, ada beberapa hal yang perlu disepakati bersama: Pertama, bagaimana kita memahami hadis yang zahirnya bertentangan dengan Alquran atau hadis lainnya atau fakta historis. Ilmu kritik hadis menawarkan; al-jam-u wat taufiq (kompromisasi), naskh manskuh (peniadaan hukum atas hukum lainnya), tarjih (mengunggulkan salah satu) dan tawaqquf (stagnan/mendiamkan).</p>
<p>Sedangkan perangkat dalam konsep al-jam-u wat taufiq diantaranya ta’wil (pemalingan teks dari makna zahirnya kepada makna yang sesuai dan mendekati kebenaran), kajian kontekstual hadis secara sosio-geografis, sosio-kultural, sosio-historis, sosio-medis, sosio-psikologis, dan sebagainya. Seperti dalam hadis-hadis tentang &#8220;amal yang paling utama adalah shalat pada awal waktu, atau berbakti kepada kedua orang tua dan sebagainnya”.</p>
<p>Kedua, bagaimana kita memahami sanad hadis dan perawi yang bermasalah di Sahih Bukhari sesuai dengan kaidah jumhur (mayoritas) ulama. Sebab laiknya kaedah yang digunakan oleh Imam ad-Daruquthni untuk mengkritik Sahih Bukhari menurut Ibnu Hajar lemah dan melawan jumhur ulama kritikus hadis.</p>
<p>Kesimpulannya, ulama menyatakan bahwa Sahih Bukhari dan Muslim adalah kitab yang paling sahih setelah Alquran. Dan hal ini tidak menafikan adanya sanad yang dhaif dalam keduanya dan juga tidak menafikan adanya hadis sahih di luar keduanya.</p>
<p>Lebih elok kita berharap semoga kajian ini tidak sebatas wacana yang berada di awang-awang yang cenderung melupakan esensi dan substansi wujud entitas hadis sebagai sumber pedoman dalam mengarungi samudera kehidupan menuju pulau kedamaian nun abadi. Semoga!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alvianiqbal.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alvianiqbal.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alvianiqbal.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alvianiqbal.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alvianiqbal.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alvianiqbal.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alvianiqbal.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alvianiqbal.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alvianiqbal.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alvianiqbal.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alvianiqbal.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alvianiqbal.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alvianiqbal.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alvianiqbal.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=143&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alvianiqbal.wordpress.com/2010/03/20/sahih-bukhari-tidak-sahih-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f77160558335e892feae1c8507f2919f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alvianiqbal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>17.16 = 17:16?</title>
		<link>http://alvianiqbal.wordpress.com/2010/03/20/17-16-1716/</link>
		<comments>http://alvianiqbal.wordpress.com/2010/03/20/17-16-1716/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 05:47:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alvianiqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alvianiqbal.wordpress.com/2010/03/20/17-16-1716/</guid>
		<description><![CDATA[17.16 = 17:16? Beberapa hari lalu di sebuah stasiun televisi, ustadz yang kondang dengan dzikirnya itu melempar wacana gempa Padang dilihat dari sudut agama. Yang –menurut hemat penulis— wacana tersebut cukup menarik dan penting untuk dikaji ulang. Dianggap menarik karena sejumlah kalangan via sms, milis, facebook, koran menyangsikan wacana tersebut. Dirasakan penting lantaran ngawurnya menafsiri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=140&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>17.16 = 17:16?<br />
</strong></p>
<p>Beberapa hari lalu di sebuah stasiun televisi, ustadz yang kondang dengan dzikirnya itu melempar wacana gempa Padang dilihat dari sudut agama. Yang –menurut hemat penulis— wacana tersebut cukup menarik dan penting untuk dikaji ulang. Dianggap menarik karena sejumlah kalangan via sms, milis, facebook, koran menyangsikan wacana tersebut.</p>
<p>Dirasakan penting lantaran ngawurnya menafsiri Alquran. Yakni mengaitkan waktu terjadinya gempa (17.16) dengan jumlah surat dan ayat dalam Alquran (QS. Al-Isra’ [17]: 16) “Jika Kami berkehendak membinasakan sebuah desa/negeri, maka Kami suruh pejabat-pejabatnya (taat kepada aturan Allah dan rasul-Nya). Tetapi mereka ingkar, maka mereka berhak menerima ancaman, lantas Kami hancurkan mereka (desa dan penduduknya) sehancur-hancurnya”.</p>
<p>Dalam ilmu tafsir terdapat kaidah-kaidah yang harus dikuasai oleh orang yang hendak menafsiri Alquran, diantaranya naskh-mansukh, makiyah-madaniyah, mutlak-muqoyyad, ‘am-khos, muhkam-mutasyabih, asbabun-nuzul, dan sebagainya. Sedangkan mengaitkan waktu gempa dengan nomor urut surat dan ayatnya tidak dikenal —dalam disiplin ilmu tafsir— sebagai salah satu alat untuk menafsiri Alquran. Bahkan ini cenderung mengada-ada.</p>
<p>Karena jika metode analisis ini dianggap benar, maka bagaimana jikalau suatu saat gempa atau tsunami terjadi pada pukul 00.00? hendak diqiyaskan (dianalogikan) ke surat apa dan ayat keberapa? Dan atau dikemanakan surat ke 25 dalam Alquran? Bukankah tragedi demi tragedi kemanusiaan itu terlingkup hanya dalam waktu 24 jam saja! Belum lagi jika menilik perbedaan pendapat mufassirin (ulama tafsir) tentang jumlah surat dalam Alquran; 114, 113 atau 116? Karena sebagian ulama ada yang menggabungkan dua surat menjadi satu, yakni surat al-Anfal dan at-Taubah (113 surat). Sedangkan yang menyatakan 116 surat, seperti Imam as-Suyuthi (w. 911 H/1505 M), memasukkan surat al-Khul’i dan surat al-Hafdi. Meskipun ada yang berpendapat kedua surat tersebut telah dinasakh (dihapus).</p>
<p>Walaupun boleh jadi analisa itu dibenarkan berdasarkan ilham (tafsir isyari), namun masih menyisakan serpihan tanya. Kalaulah benar petaka itu disebabkan karena penduduknya yang lalai dan ingkar atas perintah Tuhan, lantas pertanyaannya, dosa apa dan oleh siapa? (Resonansi Republika, 02 Oktober 2009)  hingga menyebabkan alam murka dengan kehendak Allah Ta’ala. Apakah masyarakat Padang yang dikenal agamis itu? atau justru seharusnya Jakarta dan sekitarnya (termasuk rumah Ust. Arifin Ilham di Depok)? bukankah Jabodetabek sentra segalanya? (Resonansi Republika, 06 Oktober 2009) Mulai bajing loncat hingga orang-orang bejat.</p>
<p>Sementara itu di sisi lain ada aspek penting yang harus segera dikerjakan pascabencana. Manajemen koordinasi penyelamatan korban di lapangan yang tidak silang sengkarut, penyaluran bantuan yang professional alias tidak amburadul dan merata ke semua korban tanpa memandang etnis, ras dan agama, dan recovery infrastruktur dan ekonomi yang cepat dan tepat. Tentu himbauan juru dakwah kepada para korban supaya bersabar dan muhasabah juga penting. Namun dirasa kurang elok berkesimpulan bahwa petaka ini terjadi lantaran dosa masyarakat Padang atau rakyat Indonesia pada umumnya di tengah luka dan duka yang sedang mereka derita.</p>
<p>Pada konteks itulah maksud penulis—sebagai sesama muslim—saling mengingatkan. Dengan harapan semoga Ust. Arifin kedepan bisa lebih bijaksana dan berhati-hati dalam menganalisa masalah keumatan. Sebab kita tahu mengaitkan 17.16 dengan 17:16 hanya mungkin secara positif spekulatif (Resonansi Republika, 06 Oktober 2009).</p>
<p>Karena itu, ketika kelak petaka terjadi kembali di Tanah Air ini–semoga tidak—juru dakwah (da’i) diharapkan mengambil peran sebagai pembawa angin kesejukan dan sebagai pelipur lara mereka. Bukan malah menvonis dosa mereka dan menafsirkan petaka dengan Alquran sesuai selera. Karena kita semua tidak tahu di balik kehendak Tuhan tersebut, apakah ini karena dosa atau ujian? atau kedua-duanya? Wallahu A’lam Bissowab</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alvianiqbal.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alvianiqbal.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alvianiqbal.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alvianiqbal.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alvianiqbal.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alvianiqbal.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alvianiqbal.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alvianiqbal.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alvianiqbal.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alvianiqbal.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alvianiqbal.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alvianiqbal.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alvianiqbal.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alvianiqbal.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=140&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alvianiqbal.wordpress.com/2010/03/20/17-16-1716/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f77160558335e892feae1c8507f2919f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alvianiqbal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menyambut Kumpulan Catatan Akhir Pekan Adian Husaini</title>
		<link>http://alvianiqbal.wordpress.com/2010/03/20/mengingatkan-ust-arifin/</link>
		<comments>http://alvianiqbal.wordpress.com/2010/03/20/mengingatkan-ust-arifin/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 05:44:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alvianiqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alvianiqbal.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Menyambut Kumpulan Catatan Akhir Pekan Adian Husaini Pesta Buku Jakarta 2009 baru saja usai, 27 Juni-5Juli 2009 di Istora Senayan. Pesta buku yang diselenggarakan oleh IKAPI, Republika, Metro TV dll. ini banyak menyedot perhatian masyarakat se-Jabodetabek khususnya para “kutu buku”. Salah satu yang menarik dalam acara tersebut adalah bedah buku yang dihadiri oleh penulisnya langsung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=137&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><strong>Menyambut Kumpulan Catatan Akhir Pekan Adian Husaini<br />
</strong><br />
Pesta Buku Jakarta 2009 baru saja usai, 27 Juni-5Juli 2009 di Istora Senayan. Pesta buku yang diselenggarakan oleh IKAPI, Republika, Metro TV dll. ini banyak menyedot perhatian masyarakat se-Jabodetabek khususnya para “kutu buku”.</p>
<p style="text-align:left;">Salah satu yang menarik dalam acara tersebut adalah bedah buku yang dihadiri oleh penulisnya langsung yaitu Dr. Adian Husaini. Pada kesempatan itu ia didampingi oleh pembicara lain yakni Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub MA, Ruang Anggrek, Sabtu, 4 Juli 2009.</p>
<p style="text-align:left;">Artikel ini mencoba membahasakan ulang secara tulisan suatu peristiwa tidak sopan (baca: kesombongan intelektual) yang muncul ditengah berlangsungnya sesi tanya jawab pada acara di atas. Adalah seorang penanya (salah satu mahasiswa pasca sarjana Universitas Negeri terkenal di Jakarta) yang tidak puas dengan keterangan-keterangan penulis buku terkait dengan isi bukunya yang berjudul “Membendung Arus Liberalisme di Indonesia” diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar yang awalnya adalah kumpulan pemikiran Adian yang di-onair-kan tiap malam jumat di Radio Dakta Bekasi. Dan kemudian diterbitkan dalam bentuk online di laman www.hidayatullah.com.</p>
<p style="text-align:left;">Lebih spesifik ketidakpuasan sang penanya lagi-lagi menyangkut surat al-Baqarah ayat 62 yang berbunyi Innalladzina amanu walladzina hadu wannashoro wasshobi-ina man amana billahi wal yaumil akhiri falahum ajruhum ‘inda robbihim wala khoufun ‘alaihim wala hum yahzanun. Ayat senada juga terdapat pada surat al-Maidah ayat 69.  Dzahir ayat ini melegitimasi semua agama benar dan semua yang menyembah tuhan, apa pun jalurnya/agamanya pasti masuk surga.</p>
<p style="text-align:left;">Dalam terjemahan Depag ayat di atas bermakna “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi-in, siapa saja yang di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.<br />
Sang penanya pun maju ke depan, sejurus kemudian ia mulai memaparkan pendapatnya mengenai surat Ali Imran ayat 19 “Innaddina ‘indallahil islam” , menurut ia islam dalam ayat di atas bukan berarti agama Islam karena Allah tidak menyebutkan dinul islam tetapi segala hal (keyakinan) yang bersifat tunduk dan patuh.</p>
<p style="text-align:left;">Berikutnya mic berganti di tangan pembicara. Yang mula-mula menanggapi beberapa pertanyaan adalah Prof. DR. KH. Ali Mustafa Yaqub MA, namun patut disayangkan ditengah tanggapan beliau menyangkut innaddina indallahil islam bahwa hanya agama Islam lah yang diridhoi Allah, tiba-tiba terdengar suara menyalak tanpa salam tanpa kalam langsung main potong pembicaraan dengan nada tak bersahabat pula “Apa Bapak sudah baca al-Manar! Apa sudah baca tafsir Quraish Shihab!”. Sungguh amat disayangkan hal itu terjadi. Acara ilmiah dikotori dengan ketidak-ilmiah-an. Karena menurut hemat penulis sesuatu yang ilmiah itu lebih layak untuk mengindahkan etika, sopan santun, akhlak, adab dan tata krama.</p>
<p style="text-align:left;">Tak lama berlangsung mic bergeser ke tangan sang penulis buku. Dr Adian Husaini lantas menjawab pertanyaan (tepatnya pernyataan) penanya dengan coba mengingatkan bahwa ia sudah bosan menanggapi permasalahan ini. Pasalnya ia sudah berulang kali mengatakan kepada tokoh-tokoh liberalisme (Pluralisme Agama) Indonesia bahwa ayat tadi banyak disalahtafsirkan dan mereka lebih memilih penafsiran yang lahir dari pemikiran mufassir jalanan. Bahkan para tokoh liberalisme Indonesia mencoba mengutip pendapat Syekh M. Rosyid Ridho (w.1935 M/1354 H) dalam tafsir al-Manar nya yang tampaknya mendukung pendapat kalangan mereka. Namun, setelah diteliti dan penulis artikel ini rujuk langsung ternyata mereka mengutip pendapat Rosyid Ridho tidak secara holistik. Akhirnya hal tersebut menyimpulkan bahwa Rosyid Ridho mengamini bahwa semua agama benar dan semua yang beriman kepada Allah, hari akhir dan mengerjakan amal saleh apa pun agamanya pasti akan masuk surga. Padahal menurut Adian Husaini kutipan yang mereka sodorkan ke forum ilmiah ternyata hanya sepenggal. Hal ini menyebabkan ruang publik terkelabui.</p>
<p style="text-align:left;">Sejatinya Rosyid Ridho mengafirmasi dalam tafsir Al-Manar nya terkait dengan surat 2:62 (juz I, Hal. 339 Cet. I, Percetakan Al-Manar: Mesir) bahwa tidak semua agama benar dan masuk surga; terjemahan pernyataan persisnya kurang lebih sebagaimana berikut: “Saya tegaskan terkait uraian makna (tafsir) ayat ini (QS. 2: 62) sebagaimana berikut: Sesungguhnya pemeluk agama-agama ilahiyah-dan mereka adalah orang-orang yang telah sampai kepadanya dakwah seorang nabi sesuai ketentuannya- apabila mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhir ‘sesuai dengan konsep yang sahih’ yang telah dijelaskan oleh nabi-nabi mereka serta mengerjakan amal-amal saleh, maka mereka akan selamat dan diganjar oleh Allah (surga). Namun, apabila mereka beriman ‘tidak sesuai dengan konsep yang sahih’ seperti Musyabbihah (antropomorfisme/Keyakinan yang mempersonalkan Tuhan seperti makhluk), Hululiyah (Keyakinan bahwa Allah menempati/menitis pada sebagian makhlukNya), Ittihadiyah (Keyakinan bahwa Allah menyatu dengan hambanya) dsb. maka mereka tidak akan mendapatkan apa pun dari janji Allah tersebut (surga) kecuali ancaman pedih (neraka) yang tertera dalam ayat-ayat yang lain”.</p>
<p style="text-align:left;">Akhirnya keberagaman keberagamaan masyarakat Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Yang oleh karenanya, sikap saling menghormati dan menghargai sesama makhluk sosial tetap digalakkan, namum dalam keyakinan/keberagamaan tidak dikenal toleransi, karena prinsipnya lakum dinukum waliya din (bagimu agamamu [yang sesat] dan bagiku agamaku [yang benar]). Dan penulis yakin semua agama akan mengatakan bahwa agamanyalah yang paling benar. Oleh karena itu solusi logis menuju persatuan dan menghindar dari perpecahan menurut hemat penulis adalah di ranah apa kita harus berjalan bersama dan di ranah apa kita mesti menentukan arah yang berbeda. Kapan kita gotong royong bersama dan kapan kita harus beribadah di tempat ibadah kita masing-masing tanpa “disama-samakan”. Wallahu A’lam Bis Showwab</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alvianiqbal.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alvianiqbal.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alvianiqbal.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alvianiqbal.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alvianiqbal.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alvianiqbal.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alvianiqbal.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alvianiqbal.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alvianiqbal.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alvianiqbal.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alvianiqbal.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alvianiqbal.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alvianiqbal.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alvianiqbal.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=137&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alvianiqbal.wordpress.com/2010/03/20/mengingatkan-ust-arifin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f77160558335e892feae1c8507f2919f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alvianiqbal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://alvianiqbal.wordpress.com/2009/09/24/119/</link>
		<comments>http://alvianiqbal.wordpress.com/2009/09/24/119/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Sep 2009 15:10:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alvianiqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[numpang rasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alvianiqbal.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[The Saints Dari mana aku harus memulai tulisan ini? Sebuah tulisan yang timbul dari sebuah kuliah kehidupan. Selepas subuh di bulan ramadhan, di sebuah kota di ujung timur pulau jawa, digelar sebuah pengajian ruitn. Sang Kyai memberi siraman rohani. Mendedah arti penting shalat tahajud dalam kehidupan atau signifikansi ibadah secara umum dan keuntungan yang akan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=119&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>The Saints</strong></p>
<p>Dari mana aku harus memulai tulisan ini? Sebuah tulisan yang timbul dari sebuah kuliah kehidupan. Selepas subuh di bulan ramadhan, di sebuah kota di ujung timur pulau jawa, digelar sebuah pengajian ruitn. Sang Kyai memberi siraman rohani. Mendedah arti penting shalat tahajud dalam kehidupan atau signifikansi ibadah secara umum dan keuntungan yang akan kita peroleh dari ibadah tersebut. Sekarang dan nanti.</p>
<p>Mengawali kuliah paginya, sang Kyai tidak lupa membaca alfatihah yang dihadiahkan (transfer pahala) kepada pengarang kitab yang dijadikan rujukannya. Kemudian ia mengajak para jama’ah bersama-sama membaca istighfar <em>bil</em> <em>jahri</em>, mohon ampun kepada Allah. Usai beristighfar, Kyai menyitir sebuah <em>kalam</em> Allah dari QS Al-Isra’ [17]:79 <em>Wa minal laili fatahajjad bihi nafilatal lak, ‘asa ai yab-‘asaka rabbuka maqomam mahmuda</em> “Dan di sebagian malam bertahajudlah, sebagai nilai tambah bagimu, semoga Tuhanmu membangkitkanmu dengan pangkat yang terpuji”.</p>
<p>Nafilah adalah seni (nilai tambah) dalam mendekat kepada Allah (ibadah individual). Ketika kita mendekat kepadaNya hanya dengan sesuatu yang fardhu saja maka boleh jadi hanya kerontang yang tercecap. Bukankah hidup akan indah bila dilakoni dengan seni? Demikian pula dengan beribadah kepadaNya, yang secara penciptaan kita dicipta untuk beribadah. Bahkan dengan mendekatiNya dengan memperbanyak (istiqomah) ibadah yang sunnah tanpa sadar kita <em>nyeni </em>beribadah kepadaNya.</p>
<p>Sang Kyai menganalogkan <em>nyeni</em> dalam beribadah dengan suatu hubungan antara seorang bapak dengan anaknya. Bapak menyuruh anaknya “Nak, belikan bapak Mangga! Ini uangnya, lima ribu. Anak berangkat membeli mangga seharga tiga ribu rupiah seraya dengan segera memberikan mangga tersebut kepada ayahnya bulat-bulat”. Bandingkan dengan Anak yang membelikan mangga dengan harga yang sama lantas menyerahkan kepada ayahnya dengan keadaan mangga dikupas terlebih dadulu kulitnya kemudian diletakkan di atas sebuah piring cantik lengkap beserta garpunya. Apa yang terjadi kemudian?</p>
<p>Pada kisah pertama boleh jadi sang bapak akan meminta kembaliannya. Namun tidak demikian pada kisah anak kedua, yang boleh jadi dan kemungkinan besar sang bapak akan membiarkan uang kembalian tersebut diambil oleh anaknya.</p>
<p>Ini artinya, betapa indah suatu hubungan yang dilandasi ketaatan yang ditingkahi dengan sentuhan-sentuhan <em>nafilah</em> yang mungkin tampak remeh-temeh.</p>
<p>Tahajud yang terlihat remeh temeh di mata para fuqoha’ karena bersifat nafilah, tapi nafilah di mata <em>the saints</em> amat indah dan asyik. Mengapa dmeikian? Sebab kata sang Kyai hanya dengan <em>nafilah</em> seseorang akan naik pangkat, menjadi wali misalnya. Atau menjadi kekasih Tuhan. Karena menjadi kekasih Tuhan, atau memperoleh pangkat <em>waliyullah</em> tentu tidaklah instan, tak semudah melirikkan bola mata. Semua yang bernilai di dunia ini tentu mengalami prosesi dari bawah dari sesuatu yang sengsara, kecil dan tampak remeh-temeh. Karena yakinlah sengsara akan selalu dibarengi dengan kenikmatan. Ingat! Sengsara membawa nikmat.</p>
<p>Kisah-kisah spiritual yang di luar nalar yang dialami oleh <em>the Saints</em> kiranya di zaman sekarang terasa sebagai sesuatu yang naif dan dianggap <em>khurafat </em>bagi sebagian kalangan yang krisis iman. Namun tidak demikian bagi orang-orang yang keyakinannya kepada Tuhan melebihi keyakinan kepada apapun bahkan kepada rasionya sekalipun. Ketakutannya kepada Tuhan tidak tertandingi dengan semua ketakutan yang semu yang mungkin timbul dari jabatan, pengaruh, kekuasaan dan sebagainnya. Hanya Dia yang ditakuti. Hanya kepada Dia, ia pasrah dan mengiba. Menangis lalu tertawa. Menangis karena takut atas dosa-dosanya. Tertawa karena ketenangan yang menyelimutinya. Ia asyik bercumbu intim dengan kekasihNya.</p>
<p>Lantas apa yang terjadi? apa yang ia minta, Dia beri.  Sungguh nikmat menjadi Wali. Tapi ingat tidak semudah yang kau bayangkan proses panjang berliku menuju gelar kewaliaan. Butuh iman, ilmu, amal, keistiqomahan, dan tentu senyuman-senyuman antarsesama abdi Tuhan dan ruahnya nafilah dalam proses panjang kehidupan, hingga senyuman itu benar-benar kembali kepada pemilikNya, saat ajal datang.</p>
<p>Bentuk nafilah dalam shalat cukup banyak. Pun dalam wirid atau dzikir, <em>nafilah</em> cukup variatif. Demikian shalawat banyak macamnya. Adapun shalat <em>nafilah</em>, diantaranya; Shalat Isyroq, Dhuha, Qabliyah-Ba’diyah, Awwabin (shalat 2 rokaat sampai 10 kali antara maghrib hingga isya’), tarawih, shalat qiyamul lail (shalat tengah malam tanpa didahului dengan tidur), shalat tahajjud (shalat malam dengan didahului tidur), shalat witir, tahiyyatal masjid, shalat tasbih, shalat datang dari perjalan jauh, shalat sunnah mutlak dan lain sebagainnya.</p>
<p>Kata sang Kyai, insyaallah, barangkali Allah mengangkat derajat kita lantaran amalan <em>nafilah</em> ke tingkatan yang terpuji <em>maqomam mahmuda</em>. Amin.</p>
<p>Banyuwangi, 24 Ramadhan 1430 H/15 September 2009</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alvianiqbal.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alvianiqbal.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alvianiqbal.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alvianiqbal.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alvianiqbal.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alvianiqbal.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alvianiqbal.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alvianiqbal.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alvianiqbal.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alvianiqbal.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alvianiqbal.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alvianiqbal.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alvianiqbal.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alvianiqbal.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=119&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alvianiqbal.wordpress.com/2009/09/24/119/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f77160558335e892feae1c8507f2919f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alvianiqbal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://alvianiqbal.wordpress.com/2009/09/01/115/</link>
		<comments>http://alvianiqbal.wordpress.com/2009/09/01/115/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 18:58:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alvianiqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[numpang rasa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alvianiqbal.wordpress.com/?p=115</guid>
		<description><![CDATA[Mengelola Amarah Terkadang hidup di dunia ini jika tidak didzalimi orang lain, kita yang mendzalimi orang lain, atau bahkan acap kali kita mendzalimi diri sendiri tanpa disadari. Setidaknya hal di atas telah lama diindikasikan oleh Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab [33]: 72 “Kami telah menyodorkan amanat (aturan berupa perintah dan larangan) kepada langit, bumi dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=115&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Mengelola Amarah</strong></p>
<p>Terkadang hidup di dunia ini jika tidak didzalimi orang lain, kita yang mendzalimi orang lain, atau bahkan acap kali kita mendzalimi diri sendiri tanpa disadari.</p>
<p>Setidaknya hal di atas telah lama diindikasikan oleh Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab [33]: 72 “Kami telah menyodorkan amanat (aturan berupa perintah dan larangan) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tapi mereka enggan memikulnya karena takut khianat. Dan (akhirnya) amanat itu dipikul oleh manusia (Nabi Adam AS dan keturunannya). Sungguh manusia itu banyak berbuat aniaya dan kebodohan (kepada orang lain maupun dirinya sendiri)”.</p>
<p>Ketika seorang hamba Allah didzalimi oleh hamba yang lain, tentu sedikit banyak emosi meledak dalam dada. Nah, emosi yang meledak tersebut apabila dibiarkan begitu saja, tidak menutup kemungkinan besar akan menumbuhkembangkan bibit-bibit dendam kesumat yang kronis.</p>
<p>Oleh karenanya, seorang mukmin sejati diajarkan oleh agamanya untuk dapat mengelola emosi tersebut dengan baik sesuai tuntunan, agar tidak menjadi dendam kesumat yang akan dapat menghancurkan fokusnya dalam menjalani per-kuliah-an di “Universitas Kehidupan” ini. Yakni <em>hablum minannas wa hablum minallah</em>, menjaga hubungan baik antarmakhluk (manusia, binatang, lingkungan, alam) dan kepada Khaliknya.</p>
<p>Kanjeng Nabi SAW mengajarkan umatnya ketika sedang marah untuk mengambil air wudhu’ atau setidaknya duduk. Jika api amarah masih belum padam hendaklah berbaring [tiduran]. “Sesungguhnya amarah itu datangnya dari setan. Dan setan tercipta dari api. Api hanya dapat dipadamkan dengan air. Oleh karena itu apabila kalian marah maka berwudhu’lah”. (HR Abu Dawud)</p>
<p>Abi Dzar RA berkata, Kanjeng Nabi SAW pernah berpesan kepada kami: “Apabila di antara kalian sedang marah sedang ia dalam posisi berdiri, maka hendaklah ia duduk. Jika api amarah masih berkobar, maka hendaklah berbaring [tiduran]”. (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban)</p>
<p>Satu hal yang menarik dari kandungan hadis di atas. Bahwa emosi, amarah atau murka kepada orang lain atau komunitas lain dapat ditanggulangi dengan cepat dan tepat hanya dengan cara yang mudah, yakni duduk. Duduk di sini dapat diartikan juga “ngopi-ngopi dulu”. Artinya, sebelum melampiaskan amarah hendaknya kita duduk sebentar, barang sejenak duajenak agar kita dapat berpikir dengan kepala dingin, tenang dan logis; langkah bijak apakah yang harus dilakukan kedepan? melampiaskan amarah tersebut dengan aksi nyata [membalas] atau memaafkan dan mencari solusi yang lebih tepat demi kemaslahatan bersama. Karena tidak jarang emosi yang tidak terkelola akan menimbulkan mafsadat yang lebih parah.</p>
<p>Maka, apapun alasannya, apapun motifnya, amarah harus tetap terkontrol, terkendali dan terkelola ketika ia sedang membakar jiwa-jiwa kita. Sebagaimana tuntunan simpel yang telah diajarkan oleh Kanjeng Nabi kita tercinta SAW.</p>
<p>Lebih jauh dari itu semua, Kanjeng Nabi mengajak umatnya untuk memilih “jalan sabar” dalam menghadapi kobaran amarah yang dipantik oleh setan, baik yang berupa jin maupun manusia ketimbang membalas (melampiaskan) amarah. Lihat (Ali ‘Imran [3]: 120 &amp; 186)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alvianiqbal.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alvianiqbal.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alvianiqbal.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alvianiqbal.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alvianiqbal.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alvianiqbal.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alvianiqbal.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alvianiqbal.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alvianiqbal.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alvianiqbal.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alvianiqbal.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alvianiqbal.wordpress.com/115/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alvianiqbal.wordpress.com/115/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alvianiqbal.wordpress.com/115/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=115&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alvianiqbal.wordpress.com/2009/09/01/115/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f77160558335e892feae1c8507f2919f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alvianiqbal</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://alvianiqbal.wordpress.com/2009/09/01/111/</link>
		<comments>http://alvianiqbal.wordpress.com/2009/09/01/111/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 18:27:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alvianiqbal</dc:creator>
				<category><![CDATA[takhrij hadits]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://alvianiqbal.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Ciputat, Kamis, 4 Juni 2009 pukul 01:25-04:00 Mendudukkan Hadis Perpecahan Umat Berangkat dari tema “Aliran Teologi dan Pengaruhnya pada Umat” Islam Digest (Republika, 17/5/2009) lahir tulisan ini. Titik sasarnya (baca: kritik konstruktif) atas sebuah uraian terkait hadis yang dimuat dalam tema di atas. Namun, kiranya perlu diketengahkan disini lebih awal bahwa tulisan ini tidak bermaksud [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=111&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Ciputat, Kamis, 4 Juni 2009 pukul 01:25-04:00</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong>Mendudukkan Hadis Perpecahan Umat</strong></p>
<p>Berangkat dari tema “Aliran Teologi dan Pengaruhnya pada Umat”<em> Islam Digest</em> (Republika, 17/5/2009) lahir tulisan ini. Titik sasarnya (baca: kritik konstruktif) atas sebuah uraian terkait hadis yang dimuat dalam tema di atas. Namun, kiranya perlu diketengahkan disini lebih awal bahwa tulisan ini tidak bermaksud untuk menyulut api permusuhan atau memantik konflik horizontal yang merugikan.</p>
<p>Lantas, apa yang hendak diperkarakan di sini? Dan mengapa harus diperkarakan? Yang menjadi pokok perkara di sini dalah sebuah pernyataan dalam <em>Islam Digest </em>yang menyebutkan bahwa <em>Lalu, bagaimana ungkapan yang juga telah banyak dinisbatkan pada Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa umat Islam nanti akan terbagi menjadi 73 golongan, namun <span style="text-decoration:underline;">semuanya masuk surga</span> dan hanya <span style="text-decoration:underline;">satu yang masuk neraka</span>, yaitu Zanadiqah (Kafir Zindik). Apa maksud dari <span style="text-decoration:underline;">kedua hadis</span> yang serupa, tapi tak sama ini? </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Pernyataan di atas layak diperkarakan, mengingat pernyataan tersebut telah menisbatkan suatu perkataan kepada Rasulullah (w. 11 H/633 M) yang secara ilmiah bukanlah sabdanya atau rasulullah  tidak pernah mengatakannya sama sekali (Hadis <em>Maudhu’</em>/Palsu). Dan, apabila hal ini dibiarkan maka dikhawatirkan kita termasuk dalam “daftar hitam” rasulullah: <em>Barangsiapa yang berbohong atas namaku (memalsukan hadis) secara sengaja maka bersiaplah mengambil posisi di neraka</em>. [HR. Al-Bukhari (w. 256 H/869 M) dan Muslim (w. 261 H/874 M)]</p>
<p>Hadis yang menyebutkan umat Nabi Muhammad akan terpecah hingga 73 golongan ada dua. Yang pertama; menyebutkan semuanya masuk neraka kecuali satu yang masuk surga yaitu <em>ma ana ‘alaihi wa ash-habi</em> adalah riwayat Imam Abu Dawud (275 H/889 M), at-Tirmidzi (279 H/892 M), an-Nasa’i (303 H/915 M), Ibnu Majah (273 H/887 M), al-Hakim (405 H/1014 M), al-Baihaqi (458 H/1066 M) dan Abdul Qahir al-Baghdadi (429 H/1037 M). Adapun kualitas hadis ini menurut Imam at-Tirmidzi <em>hasan </em>(baik/kualifikasi hadis di bawah <em>sahih</em>). Sedangkan Menurut Imam al-Hakim, Imam al-Iraqi (806 H/1404 M) dan Imam as-Suyuthi (911 H/1505 M) sanad-sanad hadis ini dapat dijadikan <em>hujjah</em>, artinya dapat dijadikan argumentasi kuat secara ilmiah. Bahkan menurut Imam al-Kattani (1333 H/1915 M) dalam kitabnya <em>Nadhmul Mutanatsir minal Hadis al-Mutawatir </em>hadis ini adalah termasuk hadis <em>mutawatir </em>(hadis yang dalam setiap jenjang periwayatannya terdapat minimal 10 orang perawi). Jadi, dari segi kualitas dan otentisitasnya, hadis ini tidak diragukan lagi.</p>
<p>Yang kedua; menyebutkan kebalikan dari hadis yang pertama yaitu semuanya masuk surga kecuali Zanadiqah (Qadariyah/isme yang menafikan takdir). Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-‘Uqaili (322 H/934 M) dalam kitabnya <em>al-Dhu’afa</em>, Imam ad-Daruquthni (385 H/995 M) dalam kitabnya <em>al-Afrad</em>, Imam Ibnu ‘Adi (365 H/976 M) dalam kitabnya <em>al-Kamil fi Dhu’afa ar-Rijal</em>. Selanjutnya, hadis ini juga dinukil kembali oleh Imam as-Suyuthi (911 H/1505 M) dalam kitabnya <em>al-La-ali al-Mashnu’ah fi al-Akhbar al-Maudlu’ah</em>, Imam al-Kannani (963 H/1556 M) dalam kitabnya <em>Tanzihus Syariah al-Marfu’ah ‘anil Akhbar as-Syaniah al-Maudlu’ah</em>, <em> </em>Imam al-Harawi/Mula Ali al-Qari (1014 H/1606 M) dalam kitabnya <em>al-Mashnu’ fi Ma’rifatil hadis al-Maudlu’</em> dan Imam as-Syaukani (1250 H/1834 H) dalam kitabnya <em>al-Fawaid al-Majmu’ah fil ahadis al-Maudlu’ah</em>. (Lebih lanjut lihat buku<em> Hadis Hadis Bermasalah </em>karya Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA. Imam Besar Masjid Istiqlal dan Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat).</p>
<p>Menurut Ali Mustafa Yaqub tampaknya sudah dapat ditebak bahwa hadis versi yang kedua ini adalah palsu. Dan menurut ulama memang demikian. Sumber kepalsuan hadis ini adalah empat orang rawi, masing-masing bernama al-Abrad bin Asyras dan Yasin az-Zayyat, keduanya dalam riwayat al-‘Uqaili. Kemudian Utsman bin Affan dan Abu Ismail al-Aili Hafsh bin ‘Umar, keduanya dalam riwayat ad-Daruquthni.</p>
<p>Masih menurut Ali Mustafa Yaqub bahwa ulama kritikus hadis menilai; al-Abrad bin Asyras adalah pemalsu hadis dan pendusta, sedangkan Yasin al-Zayyat dan Utsman bin Affan (bukan Utsman bin Affan <em>Amirul Mukminin</em>) seperti dituturkan oleh Imam an-Nasa-i adalah <em>matruk al-hadis</em> (suatu kualifikasi hadis terburuk sesudah hadis palsu/<em>maudlu’</em>, sebab ia dituduh pendusta karena perilaku sehari-harinya dusta). Demikian pula perawi Abu Ismail al-Aili Hasfh bin Umar juga seorang pendusta.</p>
<p>Dengan demikian jelaslah sudah bahwa hadis perpecahan umat versi kedua ini yang menyebutkan bahwa seluruh <em>firqah </em>(golongan) itu akan masuk surga kecuali <em>firqah</em> Zindiq/Qadariyah, adalah hadis palsu. Di samping karena faktor rawinya yang ternyata adalah para pendusta dan pemalsu hadis, masih ada faktor lain yang memperlemah kualitas hadis ini. Karenanya, ia tidak dapat disebut hadis yang kontroversi dengan hadis yang pertama, karena kualitasnya sangat berbeda. Dan sebagai hadis palsu, hadis versi kedua ini tidak layak lagi untuk disebut-sebut, apalagi dijadikan dalil atau <em>hujjah</em>. Ia hanya boleh disebut-sebut dalam rangka untuk diterangkan kepalsuannya. (Lihat <em>Hadis Hadis Bermasalah </em>karya Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yakub, MA. Penerbit Pustaka Firdaus, Cet. V, Hal. 60-66)</p>
<p><strong>Ahlussunnah Wal Jama’ah</strong></p>
<p>Dalam literatur hadis tidak ditemukan redaksi “<em>Ahlussunnah Wal Jama’ah</em>”. Sejatinya yang termaktub dalam literatur hadis adalah redaksi “<em>Ma ana ‘alaihi wa ash-habi </em>”.</p>
<p>Istilah atau nama <em>Ahlussunnah Wal Jama’ah</em> pada masa Nabi dan Sahabat belum dikenal. Istilah ini baru muncul pasca Abu al-Hasan al-Asy’ari (324 H/936 M) dan Abu Manshur al-Maturidi (333 H/944 M). Dan, Istilah ini merupakan “bikinan” (ijtihad) para ulama pasca kedua Imam tersebut, karena berkat mereka berdua faham/ajaran Rasulullah berkibar kembali. Sebab, merekalah yang telah memformulasikan kembali (menghidupkan/memperjuangkan) ajaran Rasulullah dan para sahabat yang kala itu dibungkam oleh kekuasaan Abbasiyah yang berfaham Muktazilah (Liberal). Oleh karena itu tidak mengherankan apabila seorang ulama besar pakar bahasa, Imam Murtadla az-Zabidi (1205 H/1790 M) menyatakan dalam kitabnya <em>Ithafus Sadatil Muttaqin </em>(Syarah kitab <em>Ihya’ Ulumuddin</em>) juz II, hal. 6, bahwa: “Apabila diucapkan Ahlussunnah Wal Jama’ah maka artinya adalah para pengikut Imam al-Asy’ari dan Imam al-Maturidi”.</p>
<p>Maka, keberadaan redaksi hadis yang menyebutkan bahwa golongan yang selamat adalah <em>Ahlussunnah Wal Jama’ah</em> adalah palsu (tidak pernah diriwayatkan oleh Imam Ahmad (241 H/855 M), at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan at-Thabarani (360 H/971 M) atau yang lain. Alias tidak pernah terlontarkan dari mulut rasulullah. Yang ditemukan adalah redaksi <em>ma ana ‘alahi (alyaum) wa ash-habi</em> (tidak sebagaimana yang tertulis dalam buku <em>Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan Mungkinkah? </em>Karya Prof. Dr. H. M. Quraish Shihab, Lentera Hati, Cet. II, hal 43-44. Dan tidak sebagaimana tercantum dalam karya KH. Siradjuddin Abbas <em>I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah</em>,<em> </em>Pustaka Tarbiyah, Cet. III, hal. 22)</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Jaga persatuan</strong></p>
<p>Perpecahan umat merupakan keniscayaan tak terbantahkan. Hal itu termaktub dalam Al-Quran dan Hadis Nabi. Bahkan secara faktual<em> </em>memang demikian. Kita melihat entitas lahirnya bermacam aliran; Syiah, Khawarij, Murjiah, Qadariyah/Muktazilah, Jabriyah/Fatalisme, Wahabiyah/Salafi, Ahmadiyah, Ikhwanus Shafa, Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin/Hizbul Ikhwan (PKS), Ateisme dan isme-isme yang lain. Bahkan perpecahan itu (baca: perbedaan) terjadi di negeri tercinta kita; Muhammadiyah, NU, Persis, al-Irsyad, MMI, NII, LDII, DDII, FPI, JIL, PKS (Ikhwanul Muslimin), HTI, SYAHAMAH dan ormas lainnya di Indonesia yang mencapai sekitar tiga puluhan, bahkan mungkin lebih.</p>
<p>Perbedaan adalah <em>rahmah</em>. Perpecahan tentu mengandung <em>hikmah</em>. Karena Tuhan tidak main-main dengan kehendakNya. Kendati demikian adanya harus dijelaskan bahwa sampai di ranah mana kita mesti melangkah bersama dan di ranah mana pula kita mesti menentukan arah yang berbeda. Inilah sesungguhnya sikap dan cara yang logis dalam upaya menuju persatuan dan perdamaian. Karena pembentengan akidah lebih penting ketimbang pesan-pesan <em>ukhuwah</em>.</p>
<p>Akhirnya, tulisan ini bukan berarti tidak respek terhadap upaya-upaya pemersatuan umat (seperti ICIS I, II, III dan World Peace Forum I, II) yang mengikat kuat persaudaraan dalam Islam. Kami (baca: penulis) juga tidak bermaksud untuk menoreh luka lama atau menyiramkan air garam di atas luka itu. Bagaimana pun, upaya pemersatuan dan merajut ikatan persaudaraan adalah baik dan harus terus diperjuangkan bersama. <em>Wa’tashimu bihablillahi jami’an wala tafarraqu </em>[3:103]<em> </em></p>
<p>*Alvian Iqbal Zahasfan S.S.I, Lc. <em>Pemerhati sosial-agama</em></p>
<p><em>Alhamdulillah dimuat di Majalah AULA Edisi Oktober 2009 No. 10 Tahun XXXI<br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/alvianiqbal.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/alvianiqbal.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/alvianiqbal.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/alvianiqbal.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/alvianiqbal.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/alvianiqbal.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/alvianiqbal.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/alvianiqbal.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/alvianiqbal.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/alvianiqbal.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/alvianiqbal.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/alvianiqbal.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/alvianiqbal.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/alvianiqbal.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=alvianiqbal.wordpress.com&amp;blog=6676091&amp;post=111&amp;subd=alvianiqbal&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://alvianiqbal.wordpress.com/2009/09/01/111/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f77160558335e892feae1c8507f2919f?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">alvianiqbal</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
