Posted by: alvianiqbal | September 1, 2009

Mengelola Amarah

Terkadang hidup di dunia ini jika tidak didzalimi orang lain, kita yang mendzalimi orang lain, atau bahkan acap kali kita mendzalimi diri sendiri tanpa disadari.

Setidaknya hal di atas telah lama diindikasikan oleh Allah SWT dalam QS. Al-Ahzab [33]: 72 “Kami telah menyodorkan amanat (aturan berupa perintah dan larangan) kepada langit, bumi dan gunung-gunung, tapi mereka enggan memikulnya karena takut khianat. Dan (akhirnya) amanat itu dipikul oleh manusia (Nabi Adam AS dan keturunannya). Sungguh manusia itu banyak berbuat aniaya dan kebodohan (kepada orang lain maupun dirinya sendiri)”.

Ketika seorang hamba Allah didzalimi oleh hamba yang lain, tentu sedikit banyak emosi meledak dalam dada. Nah, emosi yang meledak tersebut apabila dibiarkan begitu saja, tidak menutup kemungkinan besar akan menumbuhkembangkan bibit-bibit dendam kesumat yang kronis.

Oleh karenanya, seorang mukmin sejati diajarkan oleh agamanya untuk dapat mengelola emosi tersebut dengan baik sesuai tuntunan, agar tidak menjadi dendam kesumat yang akan dapat menghancurkan fokusnya dalam menjalani per-kuliah-an di “Universitas Kehidupan” ini. Yakni hablum minannas wa hablum minallah, menjaga hubungan baik antarmakhluk (manusia, binatang, lingkungan, alam) dan kepada Khaliknya.

Kanjeng Nabi SAW mengajarkan umatnya ketika sedang marah untuk mengambil air wudhu’ atau setidaknya duduk. Jika api amarah masih belum padam hendaklah berbaring [tiduran]. “Sesungguhnya amarah itu datangnya dari setan. Dan setan tercipta dari api. Api hanya dapat dipadamkan dengan air. Oleh karena itu apabila kalian marah maka berwudhu’lah”. (HR Abu Dawud)

Abi Dzar RA berkata, Kanjeng Nabi SAW pernah berpesan kepada kami: “Apabila di antara kalian sedang marah sedang ia dalam posisi berdiri, maka hendaklah ia duduk. Jika api amarah masih berkobar, maka hendaklah berbaring [tiduran]”. (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Satu hal yang menarik dari kandungan hadis di atas. Bahwa emosi, amarah atau murka kepada orang lain atau komunitas lain dapat ditanggulangi dengan cepat dan tepat hanya dengan cara yang mudah, yakni duduk. Duduk di sini dapat diartikan juga “ngopi-ngopi dulu”. Artinya, sebelum melampiaskan amarah hendaknya kita duduk sebentar, barang sejenak duajenak agar kita dapat berpikir dengan kepala dingin, tenang dan logis; langkah bijak apakah yang harus dilakukan kedepan? melampiaskan amarah tersebut dengan aksi nyata [membalas] atau memaafkan dan mencari solusi yang lebih tepat demi kemaslahatan bersama. Karena tidak jarang emosi yang tidak terkelola akan menimbulkan mafsadat yang lebih parah.

Maka, apapun alasannya, apapun motifnya, amarah harus tetap terkontrol, terkendali dan terkelola ketika ia sedang membakar jiwa-jiwa kita. Sebagaimana tuntunan simpel yang telah diajarkan oleh Kanjeng Nabi kita tercinta SAW.

Lebih jauh dari itu semua, Kanjeng Nabi mengajak umatnya untuk memilih “jalan sabar” dalam menghadapi kobaran amarah yang dipantik oleh setan, baik yang berupa jin maupun manusia ketimbang membalas (melampiaskan) amarah. Lihat (Ali ‘Imran [3]: 120 & 186)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: