Posted by: alvianiqbal | September 24, 2009

The Saints

Dari mana aku harus memulai tulisan ini? Sebuah tulisan yang timbul dari sebuah kuliah kehidupan. Selepas subuh di bulan ramadhan, di sebuah kota di ujung timur pulau jawa, digelar sebuah pengajian ruitn. Sang Kyai memberi siraman rohani. Mendedah arti penting shalat tahajud dalam kehidupan atau signifikansi ibadah secara umum dan keuntungan yang akan kita peroleh dari ibadah tersebut. Sekarang dan nanti.

Mengawali kuliah paginya, sang Kyai tidak lupa membaca alfatihah yang dihadiahkan (transfer pahala) kepada pengarang kitab yang dijadikan rujukannya. Kemudian ia mengajak para jama’ah bersama-sama membaca istighfar bil jahri, mohon ampun kepada Allah. Usai beristighfar, Kyai menyitir sebuah kalam Allah dari QS Al-Isra’ [17]:79 Wa minal laili fatahajjad bihi nafilatal lak, ‘asa ai yab-‘asaka rabbuka maqomam mahmuda “Dan di sebagian malam bertahajudlah, sebagai nilai tambah bagimu, semoga Tuhanmu membangkitkanmu dengan pangkat yang terpuji”.

Nafilah adalah seni (nilai tambah) dalam mendekat kepada Allah (ibadah individual). Ketika kita mendekat kepadaNya hanya dengan sesuatu yang fardhu saja maka boleh jadi hanya kerontang yang tercecap. Bukankah hidup akan indah bila dilakoni dengan seni? Demikian pula dengan beribadah kepadaNya, yang secara penciptaan kita dicipta untuk beribadah. Bahkan dengan mendekatiNya dengan memperbanyak (istiqomah) ibadah yang sunnah tanpa sadar kita nyeni beribadah kepadaNya.

Sang Kyai menganalogkan nyeni dalam beribadah dengan suatu hubungan antara seorang bapak dengan anaknya. Bapak menyuruh anaknya “Nak, belikan bapak Mangga! Ini uangnya, lima ribu. Anak berangkat membeli mangga seharga tiga ribu rupiah seraya dengan segera memberikan mangga tersebut kepada ayahnya bulat-bulat”. Bandingkan dengan Anak yang membelikan mangga dengan harga yang sama lantas menyerahkan kepada ayahnya dengan keadaan mangga dikupas terlebih dadulu kulitnya kemudian diletakkan di atas sebuah piring cantik lengkap beserta garpunya. Apa yang terjadi kemudian?

Pada kisah pertama boleh jadi sang bapak akan meminta kembaliannya. Namun tidak demikian pada kisah anak kedua, yang boleh jadi dan kemungkinan besar sang bapak akan membiarkan uang kembalian tersebut diambil oleh anaknya.

Ini artinya, betapa indah suatu hubungan yang dilandasi ketaatan yang ditingkahi dengan sentuhan-sentuhan nafilah yang mungkin tampak remeh-temeh.

Tahajud yang terlihat remeh temeh di mata para fuqoha’ karena bersifat nafilah, tapi nafilah di mata the saints amat indah dan asyik. Mengapa dmeikian? Sebab kata sang Kyai hanya dengan nafilah seseorang akan naik pangkat, menjadi wali misalnya. Atau menjadi kekasih Tuhan. Karena menjadi kekasih Tuhan, atau memperoleh pangkat waliyullah tentu tidaklah instan, tak semudah melirikkan bola mata. Semua yang bernilai di dunia ini tentu mengalami prosesi dari bawah dari sesuatu yang sengsara, kecil dan tampak remeh-temeh. Karena yakinlah sengsara akan selalu dibarengi dengan kenikmatan. Ingat! Sengsara membawa nikmat.

Kisah-kisah spiritual yang di luar nalar yang dialami oleh the Saints kiranya di zaman sekarang terasa sebagai sesuatu yang naif dan dianggap khurafat bagi sebagian kalangan yang krisis iman. Namun tidak demikian bagi orang-orang yang keyakinannya kepada Tuhan melebihi keyakinan kepada apapun bahkan kepada rasionya sekalipun. Ketakutannya kepada Tuhan tidak tertandingi dengan semua ketakutan yang semu yang mungkin timbul dari jabatan, pengaruh, kekuasaan dan sebagainnya. Hanya Dia yang ditakuti. Hanya kepada Dia, ia pasrah dan mengiba. Menangis lalu tertawa. Menangis karena takut atas dosa-dosanya. Tertawa karena ketenangan yang menyelimutinya. Ia asyik bercumbu intim dengan kekasihNya.

Lantas apa yang terjadi? apa yang ia minta, Dia beri.  Sungguh nikmat menjadi Wali. Tapi ingat tidak semudah yang kau bayangkan proses panjang berliku menuju gelar kewaliaan. Butuh iman, ilmu, amal, keistiqomahan, dan tentu senyuman-senyuman antarsesama abdi Tuhan dan ruahnya nafilah dalam proses panjang kehidupan, hingga senyuman itu benar-benar kembali kepada pemilikNya, saat ajal datang.

Bentuk nafilah dalam shalat cukup banyak. Pun dalam wirid atau dzikir, nafilah cukup variatif. Demikian shalawat banyak macamnya. Adapun shalat nafilah, diantaranya; Shalat Isyroq, Dhuha, Qabliyah-Ba’diyah, Awwabin (shalat 2 rokaat sampai 10 kali antara maghrib hingga isya’), tarawih, shalat qiyamul lail (shalat tengah malam tanpa didahului dengan tidur), shalat tahajjud (shalat malam dengan didahului tidur), shalat witir, tahiyyatal masjid, shalat tasbih, shalat datang dari perjalan jauh, shalat sunnah mutlak dan lain sebagainnya.

Kata sang Kyai, insyaallah, barangkali Allah mengangkat derajat kita lantaran amalan nafilah ke tingkatan yang terpuji maqomam mahmuda. Amin.

Banyuwangi, 24 Ramadhan 1430 H/15 September 2009

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: