Posted by: alvianiqbal | March 20, 2010

17.16 = 17:16?

17.16 = 17:16?

Beberapa hari lalu di sebuah stasiun televisi, ustadz yang kondang dengan dzikirnya itu melempar wacana gempa Padang dilihat dari sudut agama. Yang –menurut hemat penulis— wacana tersebut cukup menarik dan penting untuk dikaji ulang. Dianggap menarik karena sejumlah kalangan via sms, milis, facebook, koran menyangsikan wacana tersebut.

Dirasakan penting lantaran ngawurnya menafsiri Alquran. Yakni mengaitkan waktu terjadinya gempa (17.16) dengan jumlah surat dan ayat dalam Alquran (QS. Al-Isra’ [17]: 16) “Jika Kami berkehendak membinasakan sebuah desa/negeri, maka Kami suruh pejabat-pejabatnya (taat kepada aturan Allah dan rasul-Nya). Tetapi mereka ingkar, maka mereka berhak menerima ancaman, lantas Kami hancurkan mereka (desa dan penduduknya) sehancur-hancurnya”.

Dalam ilmu tafsir terdapat kaidah-kaidah yang harus dikuasai oleh orang yang hendak menafsiri Alquran, diantaranya naskh-mansukh, makiyah-madaniyah, mutlak-muqoyyad, ‘am-khos, muhkam-mutasyabih, asbabun-nuzul, dan sebagainya. Sedangkan mengaitkan waktu gempa dengan nomor urut surat dan ayatnya tidak dikenal —dalam disiplin ilmu tafsir— sebagai salah satu alat untuk menafsiri Alquran. Bahkan ini cenderung mengada-ada.

Karena jika metode analisis ini dianggap benar, maka bagaimana jikalau suatu saat gempa atau tsunami terjadi pada pukul 00.00? hendak diqiyaskan (dianalogikan) ke surat apa dan ayat keberapa? Dan atau dikemanakan surat ke 25 dalam Alquran? Bukankah tragedi demi tragedi kemanusiaan itu terlingkup hanya dalam waktu 24 jam saja! Belum lagi jika menilik perbedaan pendapat mufassirin (ulama tafsir) tentang jumlah surat dalam Alquran; 114, 113 atau 116? Karena sebagian ulama ada yang menggabungkan dua surat menjadi satu, yakni surat al-Anfal dan at-Taubah (113 surat). Sedangkan yang menyatakan 116 surat, seperti Imam as-Suyuthi (w. 911 H/1505 M), memasukkan surat al-Khul’i dan surat al-Hafdi. Meskipun ada yang berpendapat kedua surat tersebut telah dinasakh (dihapus).

Walaupun boleh jadi analisa itu dibenarkan berdasarkan ilham (tafsir isyari), namun masih menyisakan serpihan tanya. Kalaulah benar petaka itu disebabkan karena penduduknya yang lalai dan ingkar atas perintah Tuhan, lantas pertanyaannya, dosa apa dan oleh siapa? (Resonansi Republika, 02 Oktober 2009)  hingga menyebabkan alam murka dengan kehendak Allah Ta’ala. Apakah masyarakat Padang yang dikenal agamis itu? atau justru seharusnya Jakarta dan sekitarnya (termasuk rumah Ust. Arifin Ilham di Depok)? bukankah Jabodetabek sentra segalanya? (Resonansi Republika, 06 Oktober 2009) Mulai bajing loncat hingga orang-orang bejat.

Sementara itu di sisi lain ada aspek penting yang harus segera dikerjakan pascabencana. Manajemen koordinasi penyelamatan korban di lapangan yang tidak silang sengkarut, penyaluran bantuan yang professional alias tidak amburadul dan merata ke semua korban tanpa memandang etnis, ras dan agama, dan recovery infrastruktur dan ekonomi yang cepat dan tepat. Tentu himbauan juru dakwah kepada para korban supaya bersabar dan muhasabah juga penting. Namun dirasa kurang elok berkesimpulan bahwa petaka ini terjadi lantaran dosa masyarakat Padang atau rakyat Indonesia pada umumnya di tengah luka dan duka yang sedang mereka derita.

Pada konteks itulah maksud penulis—sebagai sesama muslim—saling mengingatkan. Dengan harapan semoga Ust. Arifin kedepan bisa lebih bijaksana dan berhati-hati dalam menganalisa masalah keumatan. Sebab kita tahu mengaitkan 17.16 dengan 17:16 hanya mungkin secara positif spekulatif (Resonansi Republika, 06 Oktober 2009).

Karena itu, ketika kelak petaka terjadi kembali di Tanah Air ini–semoga tidak—juru dakwah (da’i) diharapkan mengambil peran sebagai pembawa angin kesejukan dan sebagai pelipur lara mereka. Bukan malah menvonis dosa mereka dan menafsirkan petaka dengan Alquran sesuai selera. Karena kita semua tidak tahu di balik kehendak Tuhan tersebut, apakah ini karena dosa atau ujian? atau kedua-duanya? Wallahu A’lam Bissowab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: