Posted by: alvianiqbal | March 20, 2010

Menyambut Kumpulan Catatan Akhir Pekan Adian Husaini

Menyambut Kumpulan Catatan Akhir Pekan Adian Husaini

Pesta Buku Jakarta 2009 baru saja usai, 27 Juni-5Juli 2009 di Istora Senayan. Pesta buku yang diselenggarakan oleh IKAPI, Republika, Metro TV dll. ini banyak menyedot perhatian masyarakat se-Jabodetabek khususnya para “kutu buku”.

Salah satu yang menarik dalam acara tersebut adalah bedah buku yang dihadiri oleh penulisnya langsung yaitu Dr. Adian Husaini. Pada kesempatan itu ia didampingi oleh pembicara lain yakni Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub MA, Ruang Anggrek, Sabtu, 4 Juli 2009.

Artikel ini mencoba membahasakan ulang secara tulisan suatu peristiwa tidak sopan (baca: kesombongan intelektual) yang muncul ditengah berlangsungnya sesi tanya jawab pada acara di atas. Adalah seorang penanya (salah satu mahasiswa pasca sarjana Universitas Negeri terkenal di Jakarta) yang tidak puas dengan keterangan-keterangan penulis buku terkait dengan isi bukunya yang berjudul “Membendung Arus Liberalisme di Indonesia” diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar yang awalnya adalah kumpulan pemikiran Adian yang di-onair-kan tiap malam jumat di Radio Dakta Bekasi. Dan kemudian diterbitkan dalam bentuk online di laman http://www.hidayatullah.com.

Lebih spesifik ketidakpuasan sang penanya lagi-lagi menyangkut surat al-Baqarah ayat 62 yang berbunyi Innalladzina amanu walladzina hadu wannashoro wasshobi-ina man amana billahi wal yaumil akhiri falahum ajruhum ‘inda robbihim wala khoufun ‘alaihim wala hum yahzanun. Ayat senada juga terdapat pada surat al-Maidah ayat 69.  Dzahir ayat ini melegitimasi semua agama benar dan semua yang menyembah tuhan, apa pun jalurnya/agamanya pasti masuk surga.

Dalam terjemahan Depag ayat di atas bermakna “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi-in, siapa saja yang di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.
Sang penanya pun maju ke depan, sejurus kemudian ia mulai memaparkan pendapatnya mengenai surat Ali Imran ayat 19 “Innaddina ‘indallahil islam” , menurut ia islam dalam ayat di atas bukan berarti agama Islam karena Allah tidak menyebutkan dinul islam tetapi segala hal (keyakinan) yang bersifat tunduk dan patuh.

Berikutnya mic berganti di tangan pembicara. Yang mula-mula menanggapi beberapa pertanyaan adalah Prof. DR. KH. Ali Mustafa Yaqub MA, namun patut disayangkan ditengah tanggapan beliau menyangkut innaddina indallahil islam bahwa hanya agama Islam lah yang diridhoi Allah, tiba-tiba terdengar suara menyalak tanpa salam tanpa kalam langsung main potong pembicaraan dengan nada tak bersahabat pula “Apa Bapak sudah baca al-Manar! Apa sudah baca tafsir Quraish Shihab!”. Sungguh amat disayangkan hal itu terjadi. Acara ilmiah dikotori dengan ketidak-ilmiah-an. Karena menurut hemat penulis sesuatu yang ilmiah itu lebih layak untuk mengindahkan etika, sopan santun, akhlak, adab dan tata krama.

Tak lama berlangsung mic bergeser ke tangan sang penulis buku. Dr Adian Husaini lantas menjawab pertanyaan (tepatnya pernyataan) penanya dengan coba mengingatkan bahwa ia sudah bosan menanggapi permasalahan ini. Pasalnya ia sudah berulang kali mengatakan kepada tokoh-tokoh liberalisme (Pluralisme Agama) Indonesia bahwa ayat tadi banyak disalahtafsirkan dan mereka lebih memilih penafsiran yang lahir dari pemikiran mufassir jalanan. Bahkan para tokoh liberalisme Indonesia mencoba mengutip pendapat Syekh M. Rosyid Ridho (w.1935 M/1354 H) dalam tafsir al-Manar nya yang tampaknya mendukung pendapat kalangan mereka. Namun, setelah diteliti dan penulis artikel ini rujuk langsung ternyata mereka mengutip pendapat Rosyid Ridho tidak secara holistik. Akhirnya hal tersebut menyimpulkan bahwa Rosyid Ridho mengamini bahwa semua agama benar dan semua yang beriman kepada Allah, hari akhir dan mengerjakan amal saleh apa pun agamanya pasti akan masuk surga. Padahal menurut Adian Husaini kutipan yang mereka sodorkan ke forum ilmiah ternyata hanya sepenggal. Hal ini menyebabkan ruang publik terkelabui.

Sejatinya Rosyid Ridho mengafirmasi dalam tafsir Al-Manar nya terkait dengan surat 2:62 (juz I, Hal. 339 Cet. I, Percetakan Al-Manar: Mesir) bahwa tidak semua agama benar dan masuk surga; terjemahan pernyataan persisnya kurang lebih sebagaimana berikut: “Saya tegaskan terkait uraian makna (tafsir) ayat ini (QS. 2: 62) sebagaimana berikut: Sesungguhnya pemeluk agama-agama ilahiyah-dan mereka adalah orang-orang yang telah sampai kepadanya dakwah seorang nabi sesuai ketentuannya- apabila mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhir ‘sesuai dengan konsep yang sahih’ yang telah dijelaskan oleh nabi-nabi mereka serta mengerjakan amal-amal saleh, maka mereka akan selamat dan diganjar oleh Allah (surga). Namun, apabila mereka beriman ‘tidak sesuai dengan konsep yang sahih’ seperti Musyabbihah (antropomorfisme/Keyakinan yang mempersonalkan Tuhan seperti makhluk), Hululiyah (Keyakinan bahwa Allah menempati/menitis pada sebagian makhlukNya), Ittihadiyah (Keyakinan bahwa Allah menyatu dengan hambanya) dsb. maka mereka tidak akan mendapatkan apa pun dari janji Allah tersebut (surga) kecuali ancaman pedih (neraka) yang tertera dalam ayat-ayat yang lain”.

Akhirnya keberagaman keberagamaan masyarakat Indonesia adalah sebuah keniscayaan. Yang oleh karenanya, sikap saling menghormati dan menghargai sesama makhluk sosial tetap digalakkan, namum dalam keyakinan/keberagamaan tidak dikenal toleransi, karena prinsipnya lakum dinukum waliya din (bagimu agamamu [yang sesat] dan bagiku agamaku [yang benar]). Dan penulis yakin semua agama akan mengatakan bahwa agamanyalah yang paling benar. Oleh karena itu solusi logis menuju persatuan dan menghindar dari perpecahan menurut hemat penulis adalah di ranah apa kita harus berjalan bersama dan di ranah apa kita mesti menentukan arah yang berbeda. Kapan kita gotong royong bersama dan kapan kita harus beribadah di tempat ibadah kita masing-masing tanpa “disama-samakan”. Wallahu A’lam Bis Showwab

Advertisements

Responses

  1. Setuju dengan kesimpulan akhir, bagi yang muslim ( beragama islam ), dituntut tidak hanya beribadah menjalankan 5 waktu, namun perbuatan-perbuatan lainnya yang “dianggap” benar sebaiknya merujuk kepada Al Qur’an dan Sunnah, 2 warisan yang ditinggalkan Nabi Muhammad SAW.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: