Posted by: alvianiqbal | March 20, 2010

Sahih Bukhari Tidak Sahih Lagi?

Sahih Bukhari Tidak Sahih Lagi?


Bulan lalu Republika Online (10/8/2009) menurunkan sebuah wawancara dengan Prof. Dr. Muhibbin MAg, guru besar dan pembantu Rektor I IAIN Walisongo, Semarang. Isinya mempersoalkan kitab Sahih Bukhari. Wawancara tersebut menarik untuk ditanggapi mengingat respon dari pembaca cukup banyak dan beragam. Dari yang Ilmiah sampai yang tak layak untuk “dikunyah”.

Secara ilmiah ditemukan dalam perjalanan sejarah ilmu hadis beberapa Huffadz atau ahli hadis yang mempersoalkan hadis-hadis yang termuat dalam Sahih Bukhari. Sebut saja misalnya Imam Abul Hasan ad-Daruquthni (385 H/995 M) dalam kitabnya at-Tatabbu’, Abu Mas’ud ad-Dimasyqi (401 H), Abu Ali al-Ghassani (498 H/1104 M) dll. Mereka banyak melemparkan kritik ilmiah kepada hadis-hadis Bukhari. Namun kritikan mereka pada empat abad berikutnya ditanggapi serupa oleh Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (852 H/1449 M).

Jadi kajian pro kontra kesahihan hadis-hadis Bukhari sudah klasik dan telah banyak dijawab dan diperbincangkan oleh ulama klasik. Oleh karenanya, seseorang yang mengkaji polemik ini hendaklah merujuk kepada sumber klasik juga. Setidaknya kitab Hadyus Sari (Muqaddimah Fathul Bari fi Syarhi Sahihil Bukhari) karya Imam Ibnu Hajar al-Asqalani.

Dalam Muqaddimah Fathul Bari, Imam Ibnu Hajar mengulas panjang lebar tentang kitab Sahih Bukhari. Seperti latar belakang penyusunannya, penamaan, metodologi dan sebagainya. Ada sepuluh pasal di dalamnya. Diantaranya pasal kedelapan yang mengupas kritikan para ahli hadis (kritikus hadis) terhadap Sahih Bukhari. Dan kritikan-kritikan itu diurai dengan apik oleh Imam Ibnu Hajar.

Adapun pendapat Prof. Dr. Muhibbin MAg. yang menyatakan dalam wawancaranya bahwa ditemukan hadis-hadis dhaif (lemah) bahkan hadis maudhu’ (palsu) di dalam Sahih Bukhari, menurut hemat penulis hal ini merupakan suatu kesimpulan yang tampak tergesa-gesa.

Ada bebarapa alasan yang dapat diajukan di sini terkait di atas. Pertama, perbedaan pendapat tentang kesahihan kitab Bukhari telah dijawab oleh pakar hadis kenamaan seperti Imam Ibnu Hajar al-Asqali dalam karyanya Hadyus Sari (pengantar kitab Fathul Bari).

Kedua, sekalipun pro kontra kesahihan hadis-hadis Bukhari terjadi di kalangan para ahli hadis, namun tidak dijumpai dari para pakar hadis yang diakui kapabilitas dan kredibilitasnya menyatakan ada hadis maudhu’ atau palsu dalam Sahih Bukhari. Paling jauh para kritikus hadis hanya menilai dhaif.

Dalam Hadyus Sari, Imam Ibnu Hajar menukil sebuah riwayat dari Imam Abu Ja’far al-Uqaili (322 H/934 M), ketika Imam Bukhari menyelesaikan kitabnya (Sahih Bukhari) ia menyodorkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Ali bin al-Madini dan ulama ktirikus hadis lainnya, mereka menilainya sahih kecuali empat hadis. Belum lagi setiap kali hendak menulis hadis, Imam Bukhari shalat dua raka’at, guna meminta petunjuk dari Allah.

Ketiga, Imam Ibnus Sholah (643 H/1245 M) dalam kitab Ulumul Hadis (Muqaddimah Ibnus Sholah) menukil ijma’ para ulama bahwa kitab yang paling sahih setelah Alquran adalah kitab Sahih Bukhari.

Keempat, penamaan pribadi yang diberikan oleh Imam Bukhari terhadap kitab kumpulan hadisnya–yang kemudian terkenal atau disingkat oleh khalayak dengan Sahih Bukhari–adalah al-Jami’ as-Sahih al-Musnad al-Mukhtashar min Hadisi Rasulillah shallahu alaihi wa sallam wa Sunnahi wa Ayyamihi (Kompilasi Ringkas Hadis-hadis Sahih Rasulillah SAW yang Bersanad).

Jika diamati dari penamaan ini, Imam Bukhari hendak menyatakan bahwa kitabnya berisi kumpulan hadis-hadis sahih. Secara tidak langsung ia juga mempertaruhkan tanggung jawabnya kepada Nabi SAW dan umat Islam jika didapati menyantumkan hadis-hadis palsu yang kelak diamalkan oleh umat tanpa melalui penelitian terlebih dahulu.

Sementara itu jika benar terdapat hadis palsu yang dimuat oleh Imam Bukhari dengan sengaja dalam kitabnya tersebut maka secara otomatis ia telah memesan kapling tanah di neraka. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh Prof. Dr.  Muhibbin MAg. pada akhir wawancaranya “Bagi para mubalig, kami menyarankan, hendaknya tidak asal mengutip hadis. Jangan selalu mengatakan bahwa itu hadis Nabi. Padahal, sesungguhnya bukan. Rasul menyatakan, barang siapa yang berbohong atas namaku maka tempatnya di neraka. Man kadzdzaba alayya muta’ammidan fal yatabawwa’ maq’adahu minan nar. Telitilah kembali hadis-hadis yang ada sebelum diamalkan. Sudah benarkah itu hadis Nabi SAW. Jangan asal termuat dalam Shahih Bukhari, lalu diklaim sahih. Tanyakan pada yang lebih paham tentang hadis”.

Adapun alasan-alasan dan bukti ilmiah yang diajukan oleh Prof. Muhibbin untuk memperkuat argumennya bahwa terdapat hadis dhaif dan palsu dalam Sahih Bukhari, diantaranya adalah adanya kontradiksi hadis dengan Alquran, kontradiksi antar hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari sendiri dalam kitabnya, kontradiksi dengan fakta sejarah, adanya perawi-perawi yang dhaif, mungkar (semi pembohong) dan kadzdzab (pembohong), adanya hadis yang sifatnya prediksi atau ramalan yang bersifat politis dan mengandung fanatisme golongan, adanya sanad yang munqothi’ (terputus) dan lain sebagainnya. Tentu saya kira bukan di ruang ini untuk menanggapinya satu persatu.

Secara global, jika ditinjau secara filosofis, ada beberapa hal yang perlu disepakati bersama: Pertama, bagaimana kita memahami hadis yang zahirnya bertentangan dengan Alquran atau hadis lainnya atau fakta historis. Ilmu kritik hadis menawarkan; al-jam-u wat taufiq (kompromisasi), naskh manskuh (peniadaan hukum atas hukum lainnya), tarjih (mengunggulkan salah satu) dan tawaqquf (stagnan/mendiamkan).

Sedangkan perangkat dalam konsep al-jam-u wat taufiq diantaranya ta’wil (pemalingan teks dari makna zahirnya kepada makna yang sesuai dan mendekati kebenaran), kajian kontekstual hadis secara sosio-geografis, sosio-kultural, sosio-historis, sosio-medis, sosio-psikologis, dan sebagainya. Seperti dalam hadis-hadis tentang “amal yang paling utama adalah shalat pada awal waktu, atau berbakti kepada kedua orang tua dan sebagainnya”.

Kedua, bagaimana kita memahami sanad hadis dan perawi yang bermasalah di Sahih Bukhari sesuai dengan kaidah jumhur (mayoritas) ulama. Sebab laiknya kaedah yang digunakan oleh Imam ad-Daruquthni untuk mengkritik Sahih Bukhari menurut Ibnu Hajar lemah dan melawan jumhur ulama kritikus hadis.

Kesimpulannya, ulama menyatakan bahwa Sahih Bukhari dan Muslim adalah kitab yang paling sahih setelah Alquran. Dan hal ini tidak menafikan adanya sanad yang dhaif dalam keduanya dan juga tidak menafikan adanya hadis sahih di luar keduanya.

Lebih elok kita berharap semoga kajian ini tidak sebatas wacana yang berada di awang-awang yang cenderung melupakan esensi dan substansi wujud entitas hadis sebagai sumber pedoman dalam mengarungi samudera kehidupan menuju pulau kedamaian nun abadi. Semoga!

Advertisements

Responses

  1. assalamua’alaikum
    maaf ane mo brtanya, klo hadits mutawatir itu apa..? syukron

    • waalaikumus salam warahmah
      Maaf mau menjawab hadis mutawatir itu menurut sebagian ulama adalah hadis yang dalam setiap tranmisinya diriwayatkan oleh sejumlah (10) perawi yang mustahil mereka bersepakat dalam dusta.
      la sykur alal wajib

  2. tidaklah benar menganggap sesuatu itu tidak benar padahal ia tidak mengetahui apakah itu benar atau tidak. kayak orang mencukur kepala orang plontos aja …..!
    saya setuju bahwa Hadits “Al-Jami’ as-Shahih” Imam Bukhori termasuk hadis yang shoheh. sebab Imam bukhori sendiri sebagai Amirul Mukminin fil Hadits sudah terbukti.
    Bersama gurunya Syekh Ishaq, beliau menghimpun hadits-hadits shahih dalam satu kitab, dimana dari satu juta hadits yang diriwayatkan oleh 80.000 perawi disaring lagi menjadi 7275 hadits. Diantara guru-guru beliau dalam memperoleh hadits dan ilmu hadits antara lain adalah Ali bin Al Madini, Ahmad bin Hanbali, Yahya bin Ma’in, Muhammad bin Yusuf Al Faryabi, Maki bin Ibrahim Al Bakhi, Muhammad bin Yusuf al Baykandi dan Ibnu Rahwahih. Selain itu ada 289 ahli hadits yang haditsnya dikutip dalam kitab Shahih-nya.
    Imam Bukhari senantiasa membandingkan hadits-hadits yang diriwayatkan, satu dengan lainnya, menyaringnya dan memilih mana yang menurutnya paling shahih. Sehingga kitabnya merupakan batu uji dan penyaring bagi hadits-hadits tersebut. Hal ini tercermin dari perkataannya: “Aku susun kitab Al Jami’ ini yang dipilih dari 600.000 hadits selama 16 tahun.”

    • hahahihi mencukur kepala yang gundul, keren tuh bahasanya

  3. mungkin jga sih banyak org tdk brtnggung jawab speninggal imam bukhori yg mnysupkan hadits dhaif/maudhu kdlm ktabnya d tmbah lgi bnyaknya prcetakan2 yg tdk amanah masa skrg ini. mknya jgn aneh jaman skrg sring kjdian dlm ktab yg sama tpi ada isi yg brbda.

  4. gurunya para muhadisin itu ibnu kuzaimah bahkan bukhari datang k kelas beliau,dan saya setuju kita jgn berfikir kuno,kita hrs kritis,masa nabi musa ngejar batu sambil telanjang bulat?? itukan pelecehan k atas nabi

  5. Sebagai tambahan info bisa dibaca disini: http://syukrillah.wordpress.com/2014/04/18/kontroversi-status-kesahihan-hadis-dalam-kitab-shahih-al-bukhari/

  6. Saya tidak menemukan di dalam kitab shahih bukhari tentang nabi isra mi’raj sebelum di angkat jadi rosul,lalu tampilkan hadits yang kedua secara lengkap,karena setelah saya baca,yang di tanggung dosanya karena tangisan keluarganya hanyalah bagi orang kafir,karena sebenarnya seluruh amal kita telah terputus kecuali 3 perkara


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: