Posted by: alvianiqbal | January 4, 2011

Resonansi 1

Riedl

Zaim Uchrowi

Hari-hari sekarang boleh jadi terbilang hari-hari paling menarik dalam hidup Alfred Riedl. Di usia 60 tahun, saat ini ia bisa saja memilih menikmati hidup di kota kelahirannya, Wina. Menyelinap sebentar di rintik salju menuju konser musik atau berbincang dengan sahabat di kafe untuk mendapatkan sedikit kehangatan. Tapi, ia memilih yang panas ketimbang sekadar hangat. Ia memilih gemuruh dibanding senyap.

Gemuruh sudah dirasakannya sejak hampir 40 tahun silam. Saat ia pindah ke Belgia dan bermain di kompetisi liga sepak bola negeri itu. Untuk beberapa musim ia menjadi pencetak gol terbanyak. Aplaus sudah biasa ia terima sejak muda. Namun, bukan tepuk tangan melainkan kerja keras menaklukkan tantangan yang paling ia minati. Sepak bola negeri panas bernama Indonesia ini sungguh dunia yang menantang.

Di negeri manapun sepak bola bukan sekadar olahraga. Sepak bola juga cermin macam apa masyarakat atau bangsa yang memainkannya. Tak terkecuali di sini, bangsa yang umumnya bertubuh kecil dan bertulang ringkih ini. Bagaimana bangsa dengan tubuh dan tulang demikian itu harus bertarung fisik selama sedikitnya 90 menit? Seberapa daya tahan yang dimiliki pula kalau makanannya nasi?

Seorang Riedl tentu tahu, nasi berperan dalam kekalahan Tiongkok melawan pasukan Jenghis Khan pada abad 13. Dengan sekali kenyang makan daging, pasukan Mongolia siap bertempur dua hari penuh. Sedangkan, tentara China harus sibuk mencari makan lagi setiap 5-6 jam karena sudah kembali lapar. Berapa banyak para pemain utama PSSI-sebagaimana penduduk negeri ini-yang basis makanannya daging dan bukan nasi?

Tak sekadar fisik, mental pun bermasalah. Ibnu Batutah, penjelajah dunia di abad pertengahan, konon membuat catatan tentang masyarakat nusantara yang pernah di kunjunginya. “Masyarakat ini masyarakat lembek karena dimanja alam.” Sejarahmembenarkan tudingan itu. Begitu gampang masyarakat ini dijajah. Determinasi dan kegigihan yang sepatutnya bagian dari karakter Pancasila, sama sekali belum tegak. Taufik Hidayat, salah seorang pebulutangkis paling berbakat yang pernah dilahirkan dunia, hampir selalu loyo dihadapan Lin Dan yang punya determinasi.

Masyarakat lembek menyuburkan sikap oportunis. Masyarakat lembek cenderung permisif pada sepak terjang para oportunis. Mereka pemakai jalan pintas, korup dan enggan berusaha secara wajar, suka membuat intrik, dan siap mengorbankan apa pun demi keuntungan pribadi, politik maupun ekonomi. Sejak zaman Mataram, orang-orang macam ini telah bergentayangan menguasai tataran elite masyarakat hingga sekarang. Sosok-sosok begini yang mengkapitalisasi kemenangan tim asuhan Riedl selama ini hingga tim itu berantakan lagi di Bukit Jalil Malaysia.

Integritas, ketulusan, kesungguhan, kedisiplinan, dan kerja keras merupakan fondasi sukses sejati. Itu dinafikan otoritas sepak bola kita yang mengambil jalan pintas naturalisasi. Langkah bagus pada satu sisi. Ada gen mental berbeda yang tersuntikkan pada gen lembek ini lewat sosok seperti Gonzalez-pemain temperamental yang kini sangat matang itu. Tapi, bila mentalitas bangsa masih seperti sekarang, pencapaian apa pun akan tetap rapuh, gampang roboh. Apalagi dengan mentalitas elite tanpa etika dan tak peduli Tuhan seperti sekarang. Termasuk elite komunitas bola.

Alfred Riedl, sejauh ini dan semoga terus, tak terbawa arus norak Indonesia macam itu. Ia tampak lebih fokus pada substansi membangun fondasi sepak bola. Menang-kalah bukan hal terpenting. Tak perlu sorak berlebihan kalau menang. Tak pula harus sibuk menghibur diri kalau kalah. Membangun fondasi secara benar lebih penting. Itu yang Indonesia secara menyeluruh perlukan saat ini, termasuk dalam urusan sepak bola. Urusan yang dipakai Riedl untuk ikut mewarnai Indonesia agar lebih baik. Melakukan itu tentu lebih mengasyikkan buatnya dibanding sekadar memandangi tumpukan salju dari kaca jendela rumahnya di Wina yang beku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: