Posted by: alvianiqbal | February 3, 2012

Bu Dubes Yang Saya Kenal

Refleksi 40 hari wafatnya Ibu(ku) Makhsusoh Ujiati

Tidak lama saya mengenalnya. Dialah Ibuku, ibu semua warga Indonesia di Kerajaan Maroko, (Almh.) Mahsusoh Ujiati. Sekitar satu tahun sekian bulan saya mengenalnya. Terhitung dari pertama kali kakiku menginjakkan bumi Maroko (27 Sept 2010).

Namun perkenalan yang pendek itu sangat berkesan dalam bagiku. Berikut ini akan saya utarakan seikat kuntum pengalaman-pengalamanku dengannya.

Ia adalah sosok yang agamis. Setiap hari jumat ia selalu menggelar pengajian. Sependek pengetahuanku, pengajian itu diikuti oleh Ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan (Istri-istri diplomat Indonesia di Maroko, baik home staff maupun local staff ) juga diikuti oleh beberapa orang Maroko dan non Maroko. Pengajian dimulai dengan Tadarusan, yakni satu orang membaca dan yang lain menyimak. Ibu Dubes sebagai guru yang mengingatkan ketika muqriah (pembaca Al-Quran) salah dalam membaca (baik makhroj, harakat maupun pelafalannya).

Usai Tadarusan, acara dilanjutkan dengan acara Tafaqquh fid Din (mengkaji ilmu fikih). Ibuku dan Ibu kita semua ini cerdas orangnya. Salah satu isi pengkajian Tafaqquh Fid Din yang saya dengar (menguping)—maklum beberapa bulan sebelum Ibu dipanggil Allah, saya selalu menyempatkan diri jumatan di KBRI selepas kuliah (disamping sebagai ajang silaturrahmi dengan KBRI, saya juga bisa makan enak ala Indonesia selepas jumatan, yummy3x…), tetapi detik-detik Ibu dipanggil oleh Allah saya tidak bisa jumatan di KBRI lagi karena selepas jumatan saya harus mengikuti kuliah ekstra Bahasa Spanyol di Dar El Hadith El Hassania—Ibu membacakan Ayat jika tidak salah
“إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat dan yang mensucikan diri) [Al-Baqoroh:222]”.

Ibuku menjelaskan kepada ibu-ibu pengkajian Tafaqquh Fid Din, “Kita tidak hanya dituntut mensucikan hati dari dosa-dosa hati, tetapi ayat ini juga bisa diartikan mensucikan anggota badan, terutama bagian kewanitaan dan yang berkaitan dengannya, seperti haid dll”.

“Subhanallah luar biasa” gumam hati kecilku sembari kukunyah bakwan di tangan. Betapa cerdas ibuku ini. Itu yang terlontar dari pikiranku. Berualang kali saya baca ayat di atas, namun belum pernah terpikir dalam akal saya penafsiran yang seperti itu.

Kedua

Ia adalah manusia pembelajar. Dia selalu membaca. Ini saya buktikan dengan tanggapan-tanggapan beliau saat saya menghadiri acara diskusi yang diadakan di KBRI yang bekerjasama dengan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Maroko. Ia memberikan tanggapan dan masukan-masukan yang sangat brilian. Saya terkagum.

Dan yang lebih dahsyat lagi, di beberapa event dan momen Bapak Dubes, Tosari Widjaja (Suami Almarhumah) seusai menyampaikan pendapat dan pengarahan, hampir tidak kelewatan ia menawarkan kepada Bu Dubes untuk memberikan tambahan ide maupun komentar. Benar, ternyata terkadang ada yang tidak dilihat dan dipikirkan Pak Dubes terpikirkan dan terlihat oleh Bu Dubes. “Maka hasilnya… sempurna”, Batinku berujar seusai diskusi.

Ketiga

Ia seorang nasionalis tulen. Pernah pada acara Indonesian Day ke-66 yang digelar di Wisma Duta, ketika para undangan dari diplomat-diplomat asing dipersilahkan menyumbangkan lagu, Istri Dubes Malaysia menyayikan lagu jika tidak salah Apuse, spontan Ibuku menegurnya dan memintanya untuk menyayikan lagu yang lain, “Eh itu kan lagu milik Indonesia, nyanyikan lagu Malaysia saja…”, Tegur Ibuku.

Keempat

Ia adalah seorang seniman. Lukisan-lukisannya menjadi bukti nyata, betapa beliau sungguh lembut hatinya. Mencintai seni dan peradaban. Ia lukis panorama alam Indonesia, Portugal dan Maroko beserta fisikal orang-orang dan adat istiadatnya. Terakhir ia belajar melukis kaligrafi. Ia merasa ajalnya sudah dekat, diambilnya kanvas, ditumpahkan firasat tersebut dalam warna-warni kaligrafi yang khas;

إلهي
قد قرب أجلي
وضعفت قوتي
وجئتك بذنوبي
لا تحملها الجبال
ولا تغسلها البحار
بل أسألك العفو
يا غفار
كل المخلوقات تحت قهر عظمة الله
مخصوصة طاساري ويجايا

Roja’ Ila Allah
My 1st Caligraphy
Augustus 2011

Artinya:
Duhai Tuhanku
Sungguh telah dekat ajalku
Dan telah melemah kekuatanku
Aku datang kepada-Mu dengan memikul dosa-dosaku
yang gunung-gunung tak sanggup memikulnya
dan samudera tak mampu membasuhnya
Tetapi, Aku mohon ampunan-Mu
Duhai Dzat Yang Maha Pengampun

Semua makhluk di bawah kekuasaan keagungan Allah
Makhsusoh Tosari Widjaja

Demikian sekuntum pengalaman-pengalaman saya selama mengenal Bu Dubes. Saya bersaksi kepada Allah bahwa beliau adalah wanita sholehah, senyuman selalu tersungging di bibirnya dalam suka maupun duka. Ibuku boleh jadi marah, namun kemarahannya ia simpan sendiri, sekilat ia tampilkan wajah kesabaran di depan saudara-saudara dan anak-anaknya.

Kesaksian saya rasa tidak perlu. Karena kesaksian realitas sudah cukup membuktikannya. Realitas Bu Dubes sebelum tidak sadarkan diri; waktu itu, selepas sholat Jumat di KBRI Rabat-Maroko seperti biasa Bu Dubes dengan para istri-istri diplomat makan siang bersama. Selepas makan mereka berbincang. Nah pada waktu itu salah satu jama’ah Tafaqquh Fid Din Ibu Fauziah Buzube’ meminta nasehat kepada beliau. Bu Dubes membuka surat Yasin. Di tengah menjelaskan Surat Yasin itulah Ibu Dubes tiba-tiba pingsan tidak sadarkan diri.

Seolah petir si siang bolong berita itu menyambar telingaku. “Ah masa Bu Dubes pingsan? Padahal kan kemarin sehat-sehat saja?” Batinku tertegun penuh tanya.

Dua jumat dirawat di rumah sakit terbaik di Maroko, Cheikh Zaid. Selama itu pula ikhtiar lahir batin dilakukan oleh keluarga; keluarga dalam arti hakiki, keluarga PPP, Keluarga Muslimat NU, keluarga KBRI, Keluarga PPI dll. Ikhtiar telah dimaksimakan, tetapi keputusan tetaplah di Takdir Allah.
Tepat 21 Desember 2011, 20.30 GMT bertepatan tanggal 22 Desember 2011, 03.30 Ibuku, Ibukita semua menghembuskan nafasnya yang terakhir untuk memenuhi panggilan Allah. Panggilan yang akan didengar dan dicicipi oleh setiap yang bernyawa. Maut.

Penutup
Semoga artikel singkat ini ada manfaatnya. Tentu kebaikan dan kiprah beliau di ranah dan bidang lainnya masih banyak. Namun, demikianlah artikel ini sebagaimana judulnya “Bu Dubes yang kukenal”. Saya yakin orang lain memiliki pengalaman berbeda dengan beliau. Tergantung kedekatan dan pendek panjangnya interaksi. Alla kulli hal (however) Aku mohon kepada-Mu, Duhai Tuhanku, Duhai Yang Maha Pengampun, ampuni dosa-dosa kami khususnya dosa ibu kami tercinta, Makhsusoh Ujiati. Dan tempatkanlah ia di tempat yang Kaucinta dan Kauridhoi.

Ditulis pada 01.07 GMT, Kamis, 02/Feb/2012, Kantor PPI Maroko.
Diedit pada 18.07 GMT, Jumat, pas adzan Magrib, 03/Feb/2012, Kantor PPI Maroko.
~AIZ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: