Posted by: alvianiqbal | February 5, 2012

Menulis Itu Berkah

Berangkat dari pengalaman pribadiku. Kutumpahkan pengalaman tersebut di lembar-lembar kertas. Karena menurutku—dan menurut para penulis—menulis itu membawa berkah.

Beberapa bulan yang lalu di musim panas (juli-agustus) saya diminta menulis oleh seorang teman (Burhan) tentang pengalaman mendapat beasiswa ke Maroko. Gayung bersambut, kebetulan saya juga berhasrat mengabadikan momen lika-liku pencarian beasiswaku, siapa tahu dibaca orang lain khususnya mereka yang ingin mencari beasiswa ke Maroko atau negara lain.

Ternyata benar firasatku. Setelah artikelku dimuat di internet—laman Motivasi-Beasiswa, Website PPI Maroko dan jejaring sosial—berdatangan permintaan nasehat, cara, trik-trik dan file terkait proposal beasiswa yang aku raih. Bahkan aku diminta artikel oleh Universitas UGM Jogjakarta Fakultas Hubungan Internasional yang nantinya dimuat di majalah nasional Airport.

Pujian ini merupakan anugerah yang sangat saya syukuri tanpa membusungkan dada. Betapa bahagianya ketika mendengar saudara-saudara sebangsaku mengucapkan “Ustad Alvian, tulisan antum bagus. Saya harus meningkatkan belajarku. Saya sangat termotivasi dengan tulisan antum”. Ada juga yang menyampaikan “Bagaimana mendapatkan beasiswa tersebut? Kirimin file proposalnya dong! Terima kasih”.

Keberkahan tersebut adalah kebahagian saat berbagi pengalaman dan ilmu kepada orang lain. Prinsip ini didasari firman Allah Ta’ala “Saling tolong menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa” (QS. Al-Maidah: 2).

Keberkahan lainnya tidak sekedar kebahagian rohani, namun juga ekonomi. Bisa saja dan saya pastikan bahwa para penulis handal mendapatkan uang dari tulisannya. Dengan cara menulis, membukukannya lalu dipasarkan melalui penerbit yang kemudian sang penulis mendapatkan royalti dari penerbit setiap kali bukunya terjual. Wah, apalagi jika bukunya best-seller alias laku keras.

Keberkahan berikutnya adalah keliling dunia. Penulis handal bakal kebanjiran jobs dan undangan, seperti mengisi seminar, bedah buku, workshop, lokakarya, pelatihan menulis di belahan bumi Allah ini baik dalam maupun luar negeri. Contohnya, pada bulan Ramadan beberapa tahun silam, penulis perempuan idolaku, Asma Nadia—yang sekarang (mulai Januari 2012) diminta menulis di Resonansi (rubrik favoritku di koran Republika)—diundang ke luar negeri, kalau tidak salah di Eropa untuk mengikuti pelatihan menulis. Subhanallah. Gratis jalan-jalan ke luar negeri mendapat ilmu pula. Sungguh luar biasa keberkahan menulis.
Hampir serupa dengan keberkahan yang di atas, keberkahan yang dinikmati oleh guru saya, Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yakub pada bulan Ramadan beberapa tahun yang lalu mendapat undangan safari dakwah dari perwakilan ICMI di Amerika. Safari dakwah ini merambah ke 15 kota besar di Amerika. Saya yakin, faktor safari tersebut salah satunya karena berkah dari menulis. Karya tulis beliau sekarang sudah mencapai 30an. Dan waktu beliau safari ke USA ia mendapati beberapa bukunya berada di rak warga Indonesia yang berada di sana.
Ada pesan menarik dari guruku di atas tentang berkah menulis. Selepas subuh berjamaah, saat saya mengaji di Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, beliau mengatakan bahwa Imam As-Syafi’i tidak akan dikenal jika ia wafat tidak meninggalkan Al-Umm. Begitu juga Imam Al-Ghozali, orang-orang setelahnya tidak bakal mengenalnya jikalau ia tidak menulis Ihya’ Ulumuddin. Kemudian guru saya di atas memberikan fatwa “nyentrik” kepada santri-santrinya terkait aktivitas tulis-menulis, “Wala tamutunna Illa wa antum Katibun (Dan janganlah kalian meninggal kecuali dalam status sebagai muslim)”. Nah, inilah yang saya sebut “fatwa nyentrik”, tahu kenapa? Karena fatwa tersebut serupa dengan sebuah ayat Alquran yang sangat akrab di telinga kita, yang artinya “Wala tamutunna Illa wa antum Muslimun (Dan janganlah kalian meninggal kecuali dalam status sebagai muslim)”.
Pesan kedua beliau dinukil dari sebuah syair Arab,

الخط يبقى زمانا بعد صاحبه # وصاحب الخط تحت الأرض مدفون
Tulisan itu akan abadi sepeninggal penulisnya
Sedangkan penulisnya di bawah tanah terkubur

Masih banyak keberkahan-keberkahan lain yang menarik dan mengasyikkan. Tetapi keberkahan hakiki yang paling menggiurkan adalah keberkahan dari Tuhan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika penulis ikhlas insyaAllah “Nanti di hari kiamat tinta penulis akan ditimbang seberat tinta syuhada”. Jika Syuhada berjihad dengan pedang maka penulis berjihad melalui pena. Wallahu A’lam bis Showab

Kantor PPI Maroko, 5 Feb 2012, jam 21.25
~AIZ~

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: