Posted by: alvianiqbal | March 7, 2012

Sang Pencerah VS Sang Pencerca

Seusai menonton film besutan Hanung Bramantyo ini, penulis berusaha mengikat sekerat nilai-nilai moral yang menurut penulis bermanfaat dan penting, yang boleh jadi menurut pembaca, sebaliknya. Tapi itu tak menjadi soal. Yang terpenting adalah menulis apa yang bisa ditulis. Karena tidak akan berhenti dunia tulis-menulis ini hanya dengan pujian dan cercaan. Karena menulis hanyalah pengikatan ide-ide yang terserak di kepala dan hati yang diharapkan abadi nan rapi.

Pertama, Membaca. Dahlan muda membaca bukan sekedar buku, tetapi juga lingkungan masyarakat. Ia merasa janggal dan sangsi dengan kelakuan penduduk (orang Islam kejawen) Kauman kala itu. Ia berpola dengan menyembunyikan sesajen milik salah satu penduduk yang baru saja diletakkan di bawah rindang kayu besar yang dianggap oleh si pemberi sesajen mempunyai kekuatan. Dan ritual itu merupakan ritual lumrah di zaman Darwis (nama Dahlan muda sebelum berangkat haji).

Kedua, Dahlan memiliki istri yang solehah. Istri yang memilihnya dengan bukan dengan solat istikhoroh, bukan berarti istikhoroh itu tidak penting atau meremehkannya, tetapi karena Walidah, istri Dahlan sudah begitu yakin terhadap pilihannya. Ketika gelombang kehidupan menghantam rumah tangga mereka, ketika suami mulai redup api perjuangannya, sang istri menghalau gelombang, sang istri membawakan secerca cahaya harapan. Ia sulutkan cahaya itu pada sumbu api perjuangan sang suami tercinta.

Ketiga, pengembaraan merebut ilmu tidak cukup sekali hanya di Mekah, tetapi dua kali ia mengembara ke Mekah dilanjutkan Syiria dan negara-negara timur tengah lainnya yang merupakan basis ilmu keislaman. Ia tidak melulu membaca buku keislaman tapi juga merambah ke bacaan pergerakan.

Pembacaan Kyai Dahlan yang tanpa batas membuka cakrawala berpikirnya semampu otaknya menampung. Bahkan ia sendiri tidak tahu apakah yang ia lakukan itu benar. Karena yang mengetahui hakikat kebenaran hanyalah Allah Ta’ala. Ia hanya berusaha, berikhtiar mengamalkan yang ia telah ketahui. Ia mendirikan sekolah gratis dari uang saku pribadi dan keluarga. Ia juga mendirikan sebuah organisasi. Yang kemudian terkenal besar dengan Muhammadiyah (pengikut Kanjeng Nabi Muhammad).

Ia berpesan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”. Artinya apa? Artinya berorganisasilah dengan ikhlas, tanpa digaji namum semangat mengabdi kepada ummat tetap tinggi. Hanya ridho Allah yang mereka cari. Pesan Kyai Dahlan ini singkat padat, lentur bisa dianalogikan dengan segala hal yang berbentuk lembaga apapun itu namanya. Silahkan kata “Muhammadiyah” pada pesan tersebut anda ganti dengan organisasi/lembaga anda masing-masing.

Dan tokoh ikhlas itu kini menitis/termanifestasi pada nama yang mirip, yakni Dahlan Iskan. Dahlan Iskan adalah orang Muhammadiyah yang telah tercerahkan oleh Ahmad Dahlan (walaupun mereka beda masa). Ia telah membuktikannya dengan menyulap PLN dengan profesionalismenya dan kesuksesan yang nyata dan sepeserpun ia tidak memungut gajinya, yang mana gaji itu adalah gaji dari APBN(R) RAKYAT INDONESIA. Lalu apakah ada pejabat Negara yang mau bekerja dengan tidak digaji? Wong cilik nyeletuk, “Lha wong digaji saja tidak bekerja, atau bolehlah ia bekerja, tapi apakah pekerjaannya maksimal? Atau para pejabat Negara itu malah tega main Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (menggunakan fasilitas Negara dan Rakyat demi anak, istri, cucu, cicit, dan keluarganya yang tak terkait dengan pekerjaan Negara alias pelesir)?”

Pesan lain dari Kyai Dahlan, “Jangan fanatik, karena fanatik itu ciri orang bodoh”. Ia tidak pernah menghalangi perbedaan. Ia menghormati perbedaan. Namun ia menentang aksi onar dan pengrusakan. Ia mudah bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat bahkan dengan menir-menir kolonial, organisasi Boedi Oetomo dll.

Ia tidak kaget dengan sesuatu yang baru (yang datangnya dari Barat/orang kafir). Karena ia memandang sesuatu pada esensi bukan kulit. Contohnya ketika ia mendirikan Madrasah Diniyah Ibtidaiyah (Sekolah agama pemula) dengan menggunakan bangku, kursi, papan tulis dan instrument biola tak ayal seorang tokoh masyarakat (Kyai) memprotesnya. Karena mungkin tokoh tersebut tidak membaca apa yang Kyai Dahlan baca, tidak melihat apa yang Kyai Dahlan lihat. Perbedaan presepsi dan wawasan menyebabkan perselisihan yang seharusnya tidak terjadi. Pikiran Kyai Dahlan maju melesat meninggalkan pemikiran masyarakatnya yang terbelakang dan kolot. Ibarat lokomotif TGV dengan gerbong kereta ekonomi kelas teri.

Ia membuka mata masyarakat Kauman kala itu. Ia merubah presepsi masyarakat tentang Kyai, “Kyai itu bau, tidak pakai sepatu jika mengajar, dan pendidikan agamanya tidak up to date alias tidak kreatif dan monoton tidak sejalan dengan semangat kemajuan zaman”.Tapi Kyai Dahlan berhasil membawa Kauman ke arah perubahan yang signifikan, tidak sekedar urusan keagamaan tapi juga sosial, ekonomi dan politik kemerdekaan Indonesia. Maka tidaklah berlebihan jika ia disebut pahlawan dan sudah pas jika sineas Hanung Bramantyo menjuluki filmnya ini dengan Sang Pencerah.

Bagaimana dengan saya dan Anda? Apakah anda Sang Pencerah (solusi bangsa/umat/lingkungan) berikutnya? Atau Anda adalah Sang Pencerca (bagian dari masalah bangsa/umat/lingkungan)? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Ayo berubah! Ayo membaca ulang diri kita masing-masing! Tidak usah saling menyalahkan dan mengklaim kebenaran, karena kita semua salah kecuali kebenaran dan Yang Maha Benar. Wallahu A’lam Bis Sowab

Aula PPI Maroko, 07 Maret 2012, 02.00 GMT, edited at 03.53 AM
~AIZ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: