Posted by: alvianiqbal | August 27, 2012

Syarat Menjadi Pemimpin

Syarat Menjadi Pemimpin*

Montgomery mendefinisikan leadership (kepemimpinan), “Kemampuan dan kemauan untuk menggerakkan laki-laki dan perempuan agar sama-sama berusaha mencapai suatu tujuan bersama”.

Ada tujuh sifat dalam kepemimpinan yang merupakan ciri-ciri fundamental:

1.    PD [Percaya Diri]

Jika seseorang pemimpin tidak percaya pada diri sendiri, dari siapa lagi dia mengharapkan? PD di sini merupakan suatu keyakinan atas kepandaian dan kemampuan diri sendiri yang berdasarkan pada pendidikan dan pengalaman.

2000 tahun yang lalu, Hannibal yakin bahwa dia bisa memimpin pasukan yang terdiri dari 60.000 orang dan puluhan gajah menerobos badai salju yang ganas lewat pegunungan Alpen untuk menyerang Roma dalam salah satu kisah penyerbuan yang paling berani dalam sejarah manusia.

Kepercayaan pada diri sendiri itu telah dipupuk dan ditanamkan oleh ayahnya. Jenderal besar Chartago Hamilcar telah mengajar putranya dalam kemahiran taktik dan strategi hingga Hannibal sebagai pemimpin perang dalam zamannya tidak menemui tandingannya.

Berbeda dengan kata orang-orang dulu bahwa pemimpin-pemimpin dilahirkan dan bukan dibuat, ternyata bahwa keahlian kepemimpinan nyatanya dapat diajarkan, dipupuk dan bisa dikuasai oleh seseorang.

2.    Inisiatif

Apalah artinya seorang pemimpin yang tidak mempunyai inisiatif dan daya cipta. Tidaklah dapat dikatakan pemimpin sekiranya sang pemimpin hanya menunggu-nunggu aksi dari anak buah dan baru ditanggapi.

Inisiatif pemimpin sangat memegang peranan. Barangkali di dunia akan terus berkobar peperangan yang dahsyat sekiranya Roosevelt tak berinisiatif untuk membentuk persekutuan dunia yang kemudian lahir dengan Preambule Atlantik Charter.

Maka suatu organisasi, partai atau serikat buruh akan hidup sekiranya pemimpinannya mempunyai inisiatif di samping kemampuan menyelesaikan problem-problem dari bawah.

3.    Energi

Seorang pemimpin harus bersedia melakukan segala sesuatu yang dituntut anak buahnya. Bahkan lebih daripada itu ia harus bisa bekerja lebih keras, bisa memusatkan perhatian lebih lama, bisa menahan lebih lama, bisa menahan lebih lama banyak bahaya, memikul beban tambahan, menempuh jarak lebih jauh, artinya berani menanggung resiko. Energi ini datangnya dari dalam.

John Wesley, pendiri Methodis orangnya berbadan kecil. Tinggi badannya hanya 1,60 M. tetapi tiap pagi ia bangun jam 4, acapkali jam 5 ia sudah bergerak dan berkhutbah. Tiap tahun ia melakukan perjalanan berkuda lebih dari 8000 KM. dan berkhutbah kepada siapa pun yang mau mendengarkannya.

Malam hari ia menulis buku atau menciptakan lagu-lagu. Selama hidupnya 87 tahun, ia sangat sedikit sekali ngaso (istirahat). Energy yang dimiliki dicurahkan untuk berbuat kebaikan, dan dia mampu mengendalikan diri. Oleh karena itulah banyak orang mencintai John Wesley dan mengikutinya.

4.    Menentukan Sikap Dengan Waktu Yang Tepat

Sifat ini merupakan suatu percampuran sifat waspada, sebagian daya cipta dan melihat ke depan. Jadi perasaan juga sangat berharga dan menentukan. Presiden AS, Woodrow Wilson menulis, “Tidak akan pernah berhasil memimpin orang-orang yang hidup sezamannya.”

Karir Wilson sendiri memberikan bukti luar biasa mengenai ini. Ia telah memimpin AS masuk ke dalam PD I ketika negerinya telah siap, dan bukan sebelumnya. Tetapi kemudian, ketika ia mau memaksakan ikutsertanya AS dalam Volkenbound, UNO sebelum PD II, negerinya belum mencapai saatnya (timingnya) kurang pas, dan usahanya itu akhirnya mengalami kegagalan total.

Pemimpin yang sama, negerinya sama, tetapi saatnya salah, tidak mempunyai perasaan menentukan sikap dan waktu yang tepat adalah tidak berbeda dengan rencana Gestapu/PKI. Berantakan!

5.    Kejernihan Berpikir

Seorang pemimpin harus dapat:

  1. Berpikir logis
  2. Menimbang-nimbang berbagai ihtimalat (kemungkinan)
  3. Mengambil keputusan-keputusan
  4. Mengutarakan pikiran dan ide-idenya secara jelas dalam kata-kata.

Kata Pericles, “Seseorang yang pandai berpikir tetapi tidak pandai mengutarakan apa yang dipikirkannya ke dalam kata-kata sama saja dengan orang yang tidak pandai berpikir”.

Teringat kata Amin Rais dulu sewaktu penulis baca di sebuah Koran, “Mahasiswa itu harus bisa mengutarakan pikiran dan ide-idenya melalui lisan dan tulisan.” Dari sini dipahami bahwa seseorang yang tidak bisa mengekspresikan pikirannya melalui lisan dan tulisan bukan mahasiswa dalam arti yang sebenarnya.

Berpikir secara runtut akan menambah simpati anak buah di samping perasaan segan dan dihormati oleh lawan-lawan serta dapat menunjukkan kedewasaannya.

6.    Kegigihan

Ketabahan, demikian kata orang adalah kemampuan untuk bertahan lebih lama lagi barang lima menit. Sedang pemimpin tidak saja harus memiliki sendiri sifat ini, ia harus juga bisa mengilhamkannya pada oran lain.

Mungkin salah seorang pemimpin handal di zaman kita(Pak Dubes Muda) adalah Sir Winston Churchill yang tidak pernah ragu-ragu mengatakan hal-hal senyatanya kepada rakyat/bawahannya, meskipun sering kali mengejutkan. Seorang Inggris pernah berkata tentang Churchill, “Saya kira di dalam sejarah tidak pernah ada orang yang mengatakan hal-hal yang demikian mengerikan, namun dapat memberikan rakyatnya perasaan dan semangat yang demikian besarnya.”

Jadi Jelas bahwa suatu program baru berhasil dan sukses apabila ada perjuangan yang gigih dari pemimpin dan dapat meyakinkan anak buahnya.

7.    Keberanian

Mungkin kata yang lebih tepat adalah kenekatan. Sifat laki-laki yang kuat ini mirip dengan sifat berani tetapi lebih dinamis. Ia keluar dalam bentuk kecenderungan untuk meraih kesempatan yang timbul, kesediaan untuk mencoba-coba, suatu sifat optimis yang menjulang tinggi yang menolak dan benci pada pikiran akan kegagalan.

Apa jadinya negeri ini sekiranya tidak ada keberanian berbuat dari pemuda-pemudi di saat yang kritis di mana Gestapu/PKI akan menggulingkan pemerintahan.

Pemimpin-pemimpin tertinggi selalu mempunyai sifat ini. Theodore Roosevelt sangat menghargainya. Katanya, “Jauh lebih baik untuk berani melakukan hal-hal besar, mendapatkan hasil-hasil gemilang, meskipun diselingi dengan kegagalan-kegagalan, daripada menggabungkan diri dengan jiwa-jiwa kerdil, kompromis, yang tidak banyak mendapatkan kesenangan tetapi juga tidak banyak menderita, karena mereka hidup dalam bayangan samar-samar yang tidak kenal kemenangan maupun kekalahan.”

Demikianlah sekedar sumbangan pikiran yang sengaja saya tumpahkan kepada calon-calon kader organisasi yang terbaik. Mudah-mudahan banyak memberi manfaat. Barangkali sumbangan pikiran ini tidak banyak berharga, tetapi lebih tidak berharganya apabila tidak berbuat sama sekali. Oleh karena itu marilah berbuat dan berkarya, perjuangan insya Allah sukses.[]


*Disarikan dan sedikit diutak-atik dari Otobiografi Tosari Widjaja, Karir Politik Anak Desa, Hal. 393-398

Artikel ini disampaikan oleh Pak Tosari pada acara pendidikan Kader IPNU-IPPNU, Jakarta 22 Maret 1968

Advertisements

Responses

  1. sangat bermanfaat

    • syukur kalau bermanfaat Pak Iwan. Iwanuwg.wordpress.com


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: