Posted by: alvianiqbal | September 14, 2012

Catatan TEMUS Haji-Kita

Catatan TEMUS Haji-Kita
“Khidmatul Hujaj Ibadatun Lana”

Kamis, 6 September 2012/18 Syawwal 1433
(Kalender Hijriah Maroko terlambat sehari dibanding di Saudi dan Indonesia [19 Syawwal], sebab mereka lebaran sehari lebih awal dibanding Maroko)

Setelah sebelumnya—beberapa bulan lalu—diadakan pemberkasan calon-calon Temus (Tenaga Musiman) Haji tahun ini oleh Tim Seleksi Temus PPI Maroko yang secara mufakat memutuskan 10 orang; 8 orang mahasiswa dan 2 mahasiswi—Ini kali ketiga Maroko mendapatkan jatah Temus untuk perempuan walaupun jatahnya hanya dua orang—kemarin, 5 September teman-teman Temus terpilih rapat untuk membahas semua yang terkait persiapan dan pasca Temus. Diantara hasilnya, memutuskan amirul hajj-nya Saudara Burhan Ali, sedang Naib-nya adalah Saudari Ila Khalila. Bang Solehudin ditugasi sebagai yang mengurus visa. Saudara Wak (M. Firmansyah Waruwu) penanggung jawab tiket pesawat. Sisanya sebagai anggota dan tim hore…hahahihi: Bang Labib (Achmad Labib), Ibnu Kholdun, Guntara Nugraha Adiana Poetra, A. Shohibul Muttaqin, Magfirotul Fatkha dan Alvian Iqbal Zahasfan.

Syahadah Tibbiyah
Jam 10.30 kita bergerak menuju klinik An-Nur di bilangan Komra guna memperoleh syahadah tibbiyah (Surat Sehat). Sempat ngelobi pihak klinik. Buntu awalnya. Alasannya karena kita tinggal di daerah Kouass (Baca: Kuwas), maka kudu minta syahadah tibbiyah-nya di daerah Kouas. Sedangkan klinik An-Nur hanya untuk penduduk yg tinggal di daerah DouarEl Garaa (Baca: Duwar Gar’a) dan sekitarnya.

Jadi, di Maroko setiap hay (kampung) ada kliniknya masing-masing. Tidak diperkenankan secara aturan, misalnya yang tinggal di Kouas minta syahadah tibbiyah di klinik milik daerah Duar El Garaa. Akhirnya pihak klinik memberi izin, setelah sebelumnya salah satu diantara kami menyatakan dengan senyuman bahwa kita walaupun tinggal di Kouas tapi kalau belanja sayuran, ayam, atai (teh khas Maroko) di Duar Garaa. Dokternya perempuan cantik paruh-baya dan ramah. Kaca mata menghiasi kedua mata indahnya.

Syahadah tibbiyah tersebut kami peroleh dengan fabour (bahasa Darija Maroko) alias gratis. Alhamdulillah syarat pertama telah sukses kita raih.

Tat’im
Meluncur ke Babul Had (Jantung kota Rabat). Di dekat pemberhentian Grand Taxi (baca: Grong Taksi/Taksi Besar)—untuk membedakan dengan Petit Taxi/Taksi kecil). Lalu apa perbedaannya? Secara ukuran memang beda. Grand Taxi jauh-dekat bayar 5 DH, tak pakai argometer (pengukur tarif pada taksi), murah meriah tapi harus berdesakan duduknya, dengan porsi duduk jok belakang 4 orang dan jok samping sopir, 2 orang. Kalau Petit Taxi, jauh dekat tergantung argometer. Tempat duduk nyaman, tak perlu desak-desakan, karena terbatas hanya untuk tiga orang penumpang, di belakang dua, di depan satu, samping sopir. Untuk tiap kota di Maroko, taksi, baik yang Grand mau pun yang Petit memiliki warna yang berbeda. Di Rabat, Grand Taxi berwarna putih, Petit Taxi berwarna biru. Ada satu lagi taxi, namanya Khattaf (taksi gelap) bisa berupa mobil sedan atau pun pick up pribadi yang digunakan sebagai mobil omprengan. Gampangnya kalau di Indonesia mobil plat hitam diopersaikan seperti plat kuning. Jauh dekat Cuma 5 DH. Khattaf dan Grand Taxi memiliki rute tertentu, berbeda dengan Petit Taxi bisa diajak kemana penumpang suka, asal tebal kantongnya. Petit Taxi di Maroko berbeda dengan Taksi di Indonesia. Bedanya, di sini satu taksi bisa digunakan dua sampai tiga orang berbeda tujuan tapi satu arah dengan argometer masing-masing penumpang. Kalau di Indonesia, jika taksi sudah ditumpangi tidak bisa ditumpangi lagi oleh orang lain kecuali orang itu yang pertama sudah turun. Petit Taxi di Maroko kayak tidak butuh penumpang. Tidak semua taksi yang kita stop mau berhenti. Sebel…seru…—kita melakukan tat’im (vaksinasi).

Vaksinasi berjalan lancar dan cepat saja. Diberi buku kecil berisi keterangan dan stempel. Bayar 180—sekarang alhamdulillah kita bayar lebih murah dibanding kemarin (250 DH)—semoga murahnya pembayaran vaksinasi ini menunjukkan haji mabrur kita kawan-kawan. Disuntik satu-persatu di lengan. Terakhir saudari Ila Khalila (Naib Amirul Hajj) disuntik.

Kain Ihram
Avi dan Ila Kembali ke Hay (Asrama) Moulay Ismail (Asrama Mahasiswa di Musim panas tahun ini). Kita delapan Arjuna melanjutkan perburuan ke Souiko (Pasar Tradisional) Rabat guna mencari kain ihram. Ada yang tipis juga ada yang tebal. Kata Bang Soleh, “Kita cari yang tebal agar tidak kedinginan di sana. Nanti beli lagi yang tipis di sana.” Kita menemukan toko. Tawar menawar. Pesan 8 kain dengan harga miring 180 MAD. Yang jaga toko keluar menanyakan ke Bosnya. Menunggu dia balik. “Maaf kain yang mau kalian beli cuma ada satu”, Ujar penjaga toko. Ya.. apa boleh dikata. Kita cari toko yang lain. Tanya, cari sana-sini. Ketemu juga toko yang komplit. Deal. Tujuh Arjuna membeli kain ihram yang tebal (180 DH setelah ditawar dari harga asli 220), satu arjuna memilih yang tipis (150 DH). Selesai perburuan. Kita berpencar, ada yang pulang ke PPI, ke Hay Nahdlah, ada yang tetap di pasar dan ada yang ziarah kubur.

Alhamdulillah urusan hari ini selesai dengan lancar dan tak terlalu susah. Semoga besok urusan visa dan tiket pesawat juga mudah. Aamiin… Ya Mujibassailiin.

NB: Total pengeluaran hari ini; Vaksin (180)+Kain Ihram (180)+Taksi PP (20 DH)= 380 MAD

Senin, 10 September 2012

Visa oh Visa

Bang Soleh ke Kedutaan Saudi Arabia di Maroko. Awalnya sempat dipersulit di pintu masuk pertama. Hal yang sudah biasa. Akhirnya setelah menunggu lama bisa juga masuk ke kedutaan setelah melobi dan melobi petugas keamanan. Kesulitan tersebut dirasa wajar tiap kali kita ke sana. Bahkan dari tahun ke tahun untuk urusan mendapat visa Temus haji hampir selalu mengalami kendala keterlambatan.

Tahun kemarin Temus haji terlambat datang ke Saudi Arabia. Sebab keterlambatan visa. Demikian pula Bang Soleh saat di kedutaan Saudi, ia dijanjikan oleh Sekpri Dubes Saudi baru minggu depan akan mendapat visa. Padahal sudah ada surat pengantar dari KBRI dan nota dari Kementrian Haji di Jedah yang menyatakan kita Temus haji Indonesia. Tapi mereka menyangka kita haji biasa seperti laiknya mahasiswa biasa yang ingin berangkat sendiri, bukan tugas negara. Jika demikian konsekuensinya harus mengikuti aturan yang diberlakukan terhadap masyarakat biasa, baik orang Indonesia ataupun Maroko dll. Karena menurut mereka, temus haji yang resmi adalah mereka yang berangkat dari Indonesia.

Untuk mempercepat turunnya visa harus ada turun tangan langsung dari pihak KBRI guna menyatakan bahwa kita Temus Haji dan bukan haji pribadi. Hingga diharapkan visa lebih cepat turun. Karena dikhawatirkan jika minggu depan baru berangkat kita akan terlambat dalam mengikuti penataran dan membimbing jama’ah. Dan keterlambatan visa akan mempersulit dalam booking tiket pesawat. Bisa jadi kita terkena denda atau mahalnya harga tiket yang tidak menentu.

Selasa, 11 September 2012
Raja Saudi ke Maroko

Bang Soleh, Bang labib dan Pak Arif (Mang Arif) ke Kedutaan Saudi Arabia. Tahun ini visa haji dipegang oleh Konsulat General Saudi, Muhammad ‘Ayid Al-Balawi karena kata Mang Arif mungkin raja Saudi, Abdullah sedang ke Maroko dan Dubes Maroko kemungkinan besar sibuk menemaninya selama di sini.

Visa haji biasanya ditangani langsung Dubes Saudi, sebab ada indikasi motif jual beli visa. Masih menurut Mang Arif yang kala itu berbagi pengalaman kepada Bang Soleh dan Bang Labib “Jika skenario seperti ini (visa ditangani oleh Konsulat General Kedutaan Saudi Arabia dan bukan oleh Dubes insya Allah visa akan segera turun.”

Rabu, 12 September 2012
Kedekatan

Benar yang dikatakan Mang Arif, visa turun hari ini. Cuma berselang sehari saja. KBRI sangat dekat dengan Konsuler General Kedutaan Saudi tersebut. KBRI sering mengundangnya di momen-momen KBRI.

Kamis, 13 September 2012                                                                                                                                                                                                            Muhamad ‘Ayid Al-Balawi
Berada di KBRI jam 09.15 membantu menyebarkan undangan 67éme Anniversaire de la Fete d’Indépendance de la République d’Indonésie ke kedutaan-kedutaan dan beberapa instansi penting di Rabat. Sembari menunggu Pak Parman, Pak Dedi, Sidi Felasi dan Sidi Hassan menyiapkan undangan saya berkunjung ke kantor Pak Arif. Menanyakan proses turunnya visa yang ajaib terbilang cepat dibanding 5 tahun terakhir. Beliau selalu hadir membantu kita (PPI Maroko) ketika dalam kesulitan urusan visa. Di samping memang tugas dan keahlian beliau di bidang ini. Dia orang yang baik dan ceria. Khas manggambarkan kepribadian orang Bandung yang lemah lembut.

Menurut Pak Arif kemudahan visa Temus tahun ini boleh jadi karena Dubes Saudi untuk Maroko sedang menemani raja Saudi yang tengah berkunjung di Maroko. Sehingga urusan visa yang selama ini dipegang langsung olehnya dialihkan kepada Konsuler General Saudi, Muhamad ‘Ayid Al-Balawi. Nah, Al-Balawi ini orang yang dekat dengan KBRI. Oleh karenanya, disampaikan oleh Pak Arif ke Bang Soleh dan Bang Labib “Jika skenarionya kayak begini, insya Allah visa akan  segera turun. Namun jika skenarionya kayak tahun sebelum-sebelumnya (ditangani langsung oleh Dubes Saudi) maka akan sulit visa cepat turun”, demikian kira-kira yang diutarakan Pak Arif kepada Bang Soleh dan Bang Labib.

Benar saja yang dikatakan Pak Arif, skenario baru ini membawa angin segar kepada temus haji tahun ini; Visa turun esok harinya (rabu, 12/09/2012) setelah sebelumnya (Senin, 10/09) Bang Soleh memasukkan berkas ke keduataan Saudi. Dan (Selasa, 11/09) Bang Soleh dan Bang Labib didampingi oleh pejabat lokal staf KBRI bidang urusan ke-visa-an, Pak Arif meluncur menuju kedutaan Saudi. Lobi-lobi sulit dihindari di sana. Akhirnya (rabu, 12/09) yang ditunggu-tunggu turun juga. Alhamdulillah berkat kerja keras, doa dan solawat teman-teman Temus 2012 yang hanya didengar antar Rabb dan dirinya saja di tengah malam nan sunyi. Sidi Hassan nongol dari balik pintu kantor Pak Arif seraya berkata “Shofi? Yalla namsyi”

Kamis malam,  22.00 GMT, 13 Sept 2012                                                                                                                                                                           Tiket Pesawat

Bang Muhammad Firmansyah Waruwu membawa kabar gembira; tiket pesawat akhirnya kelar. Alhamdulillah.  Ada dua opsi awalnya; Pertama tawaran dari Mas Shohib, di kota Kenitra sebuah travel menawarkan harga 8200 MAD Dirham, PP. begasi 46 Kg. tapi berangkatnya tgl 19. Salah seorang senior PPI yang sekarang menjadi lokal staf di KBRI bidang keuangan atau bendahara, Pak Mas’ud Thahir. Seorang yang tidak banyak bicara tapi banyak kerja dan suka membantu. Beliau memiliki travel di Indonesia. Alhamdulillah setelah beliau kita mohon bantuannya akhirnya beliau bersedia membantu urusan tiket kita. Berangkat tanggal 17/09,  jam 11.00 GMT. Dengan bagasi 35 Kg.

Tiket yg one way ada 4; Sholehudin, Guntara, Firmansyah dan Labib. Harganya 5468 Dirham perkepala. Dan yang return ada 6; Shohibul, Burhan, Ila, Alvian, Magfirotul/Avi, Kholdun. Harganya 8407 MAD. Yang return akan kembali tanggal 02/12 sampai di Maroko tgl 03/12 jam 08.30 pagi insya Allah bi idznillah.

Jumat, 14 Sept 2012                                                       

Pamitan ke Pak Dubes

Sekitar jam 10.15 delegasi Temus Haji Maroko diterima oleh Bapak Dubes RI untuk kerajaan Maroko, H. Tosari Widjaja. Beberapa delegasi Temus ada yang langsung pulang ke tanah air setelah Temus karena mereka telah menyelesaikan studi S2nya. Pertama Bang Labib mengutarakan ucapan terima kasih atas motivasi dan bantuan KBRI selama ini dan memohon maaf atas segala khilaf. Berikutnya Bang Soleh mengutarakan hal yang hampir serupa tapi lebih panjang dan sistematis. Disusul oleh Wak (Firmansyah). Ada satu lagi yang mau boyong ke tanah air, tapi dia tidak bisa hadir, sebab harus menjalani sidang tesisnya di kota pendidikan, Fes. Ia adalah Guntara putra kebanggaan Depok.

Kepada yang hendak boyong Pak Dubes berpesan untuk dapat melanjutkan pendidikannya dan berkiprah di tanah air atau kembali lagi. Dan untuk tidak lupa mengirimkan undangan pernikahan hahahihi… semua tertawa di ruangan pertemuan KBRI pagi jumat itu. Beliau berpesan kepada delagasi untuk profesional dalam berkhidmat kepada para jamaah. Dan meniatkan Temus semata-mata untuk Allah (ibadah).

Senin, 17 Sept 2012

Meluncur ke Aeroport Mohamed V

Kesepuluh delegasi bertolak ke bandara Internasional Maroko dari sekretariat tercinta PPI Maroko jam 05.30. Camion yang dikemudikan Sidi Kodir sedia mengantarkan mereka di pagi buta.

~aiz~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: