Posted by: alvianiqbal | February 5, 2013

Aku, Istri dan Buku*

Oleh Alvian Iqbal Zahasfan

Ketika bercengkrama dengan orang-orang hebat penggila buku, aku terbawa menyukai buku. Ketika banyak orang mengkoleksi barang-barang mulai dari keris, motor, mobil, tas, pacar hingga istri, aku tergugah untuk mengkoleksimu, dirimu duhai buku.

Tiap kali pameran buku aku membelimu. Aku menghafal nama-namamu. Entah berapa kardus besar yang sudah kulakban. Isi kardus itu tiada lain adalah kamu. Mungkin engkau lama kesal kepadaku, setelah empat tahun kutinggalkan di Jakarta.

Kini di bumi senja ini aku bertemu saudara-saudaramu. Kuletakkan saudara-saudaramu di tempat yang sama, kardus. Setelah tugas Temus Haji kukeluarkan saudara-saudaramu dari kardus-kardus itu. Saudara-saudaramu kususun menumpuk vertikal di meja baruku. Tapi…

Tapi mereka tampak acuh seraya berkata ketus kepadaku, “Kau sudah malas denganku ya? Kau bosan denganku? Ngapain sih kau tata aku? kalau ujung-ujungnya juga kau ga merabaku. Kembalikan saja aku di kardus itu!” Hardik mereka. “Aku hangat di sana, bukankah sekarang musim dingin! Kau biarkan saja aku di luar seperti sekarang tanpa tatapan mata keinginan-tahumu dan sentuhan hangat rabaan tanganmu dan dekapan pemahamanmu.”

“Hai orang berkacamata minus! Rabalah lekuk-lekuk tubuhku yang seksi ini. Mengapa kau enggan sekali meraba detil-detil tubuhku yang menyimpan permata dan kelezatan nomer wahid di dunia? Bukankah kata Az-Zamakhzari Al-Mu’tazili ladzdzatul ladzdzadz al-ilmu (Kelezatan yang terlezat adalah ilmu).”

“Hohoho… ternyata kau selama ini takut toh merabaku. Kenapa sih kau takut merabaku? Apa kau takut ketika merabaku menemukan benjolan kesulitan arti kata-kataku atau susunan kalimatku atau gremerku. Padahal aku asyik-asyik aja loh. Kau merabaku saja, aku sudah senang. Tak perlu kau tahu seluruh kosa-kataku, atau memahamiku dengan dalam. Aku cuma butuh belaianmu dan tatapan mata semangatmu mulai cover depanku sampai daftar isiku. Persetan dengan kesulitan. Kesulitan hanya akan membuatmu enggan membelaiku. Lalu kau biarkan aku tergeletak di meja coklatmu, menumpuk vertikal gitu? teganya dirimu. Terlalu… (ucapkan seperti Bang Rhoma. pen)”      

“Gila, kau hamburkan uangmu untuk menikahiku?! Tapi setelah menikahiku dengan susah payah kau campakkan saja diriku tanpa belaian?! Apa? Tujuanmu menikahiku hanya sekedar untuk pajangan? Koleksi belaka? lebih edan lagi kau berdalih siapa tahu aku bisa dinikmati anak-cucumu?! Aku ga butuh belaian anak-cucumu! Yang aku mau belain dan rabaan tangan dan pembacaanmu, Sayang. Kau dulu, baru anak dan cucumu.”

“Kenapa sih kanda takut amat membelaiku dan merabaku? Dinda ini sudah halal untukmu Kanda! Bukankah kita sudah akad nikah di Darul Aman setahun lalu? Berdosa kanda menurut syariat membiarkan istri kedinginan selama setahun, apalagi seperti sekarang pas musim dingin. Tuh lihat minggu kemarin kanda menikahi tiga istri baru, masih muda-muda dan mungil-mungil. Yang pertama kulitnya biru-putih berhalaman 157 namanya Maqosidus Syariah Minan Nadzor Ilas Suluk bapaknya namanya Prof. Dr. Ahmad Bu’ud. Istri baru pertamamu itu kau cicipi saja madunya sampai halaman 62. Setelah itu kau loncat ke istri ketigamu yang namanya Bidayatul Hidayah binti Al-Ghozali. Kau pindah ranjang ke istri muda yang lebih mungil berat tubuhnya, 128 halaman, dasar. Tapi kau merabanya ogah-ogahan, ga serius, berhenti di halaman 40.”

“Lebih parah, istri keduamu tak kau sentuh sama sekali mulai akad nikah di KUA Darul Aman hingga sekarang. Coba cari dia! Pasti ia masih memakai gaun pengantinnya, belum ia lepas gaunnya itu, sampai sekarang kau pun masih bisa membaca tulisan di dalam gaunnya; Maktabah Darul Aman Mutakhosssis fil Kitab al-Arobi. Kasian istri keduamu itu, siapa namanya? Coba kau singkap gaunnya, biar kau ga lupa lagi namanya. Buruan singkap gaunnya! Namanya tertulis di dada moleknya.  

Srek…srek…srek… kini kusingkap perlahan-lahan gaunmu duhai istri keduaku seraya kubisikkan ditelingamu dengan sayu “Maafkan kandamu ini, Sayang, yang selama akad nikah membiarkan Dinda tetap memakai gaun pengantin, meskipun jujur Dinda lebih gemuk dari istri pertama dan ketiga Kanda. Berat Dinda 188 halaman. Maafkan kanda duhai Dinda Dzohirotul Ikhtilaf fil Mujtama’ An-Nabawi: Madzohiruha, Simatuha, Wasailu tadbiriha binti Ad-Duktur Muhammad An-Nasiri.  Bersambung [aiz]

*Dimuat di http://www.alvianiqbal.wordpress.com

  

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: