Posted by: alvianiqbal | February 21, 2013

Al-Qadli Iyyadl dan Walipitu

Al-Qadli Iyyadl dan Walipitu

Oleh Alvian Iqbal Zahasfan*

                Membahas tokoh itu sangat menarik apalagi tokoh yang satu ini, anda harus membacanya, terutama bagi anda yang tinggal di Maroko, sebab, kalau bukan karena dia, Maroko tidak bakalan dikenal atau disebut-sebut (Laula Al-Iyyadl lama ‘urifa/dzukiro Al-Maghrib). Entah siapa yang memunculkan adagium itu. Tapi terlepas dari siapa yang memunculkannya namun memang pantas dia disebut-sebut karena memang dia mempunyai kontribusi tidak sedikit terhadap perjalanan sejarah, pemikiran, keilmuan dan politik Maroko di abad keenam hijriah.

                Ia lahir tahun 476 H di kota Sebta/Ceuta/ سبت, sebuah kota yang secara geografis terletak di benua Afrika, menempel di ujung utara Maroko, namun pasca kolonial Portugis (1415 M) kemudian beralih ke Spanyol setelah pada tanggal 1 Januari 1668 Raja Afonso VI dari Portugal secara resmi menyerahkan Ceuta ke Raja Carlos II dari Spanyol, hingga tahun 1956 Maroko merdeka Spanyol tetap bersikeras menganeksasi Ceuta bagian dari Spanyol.

                Nama asli beliau adalah Musa bin ‘Iyyadl. Bermadzhab Maliki, berakidah Asy’ari. Ia disebut Mukhodrim ad-Daulatain artinya ia hidup di dunia kerajaan. Tumbuh dewasa saat masa kemunduran (daur ad-dho’f) Kerajaan Al-Murobitin (537-541 H /1142-1146 M) dan cengkraman kekuatan baru Kerajaan Al-Muwahidin (541-668 H / 1156-1269 M).[1] Yang pada masa itu juga kejayaan Islam di Andalusia mulai melemah disebabkan terpecah ke muluk at-thowaif (raja-raja daerah), ego dan hawa nafsu dikedepankan, raja-raja enggan membantu raja lainnya yang sesama muslim, ironisnya mereka malah bersekutu dengan Raja Nasrani Alfonso VI dan Raja Sancho II. [2]

                Ia mulai mengembara menimba ilmu ke Andalusia ketika umurnya menginjak kepala tiga. Setelah berguru di sana sebanyak lebih kurang 100 guru dari bermacam disiplin ia balik ke Sebta. Di tanah kelahirannya itu ia langsung diundang masyarakatnya untuk mengisi acara-acara ilmiah. Waktu berselang ia diangkat menjadi Qadli (Hakim) di sana, kemudian dimutasi menjadi Qadli di Gornatoh (Granada). Dari sinilah kemudian ia digelari dengan Al-Qadli karena pernah menjabat Qadhi di Maroko dan di Andalusia. Karena tuduhan politis ia ditangkap lalu diasingkan ke Marakech tahun 543 H–Ibukota kerajaan Al-Muwahidin–setelah sebelumnya dituduh menggerakkan kegoncangan politik dan huru-hara di Sebta melawan Al-Muwahidin yang kala itu diperintah oleh raja kedua Al-Muwahidin yakni Abdul Mukmin bin Ali Al-Kumi. Setahun setelah diasingkan Al-Qadli Iyyadl wafat di kota yang sekarang dikenal sebagai kota wisata Maroko.[3] Ia wafat karena diracuni. Konon katanya yang meracuni orang Yahudi. [4]

                  Dia ulama yang multi talenta, bukan hanya sekedar ulama yang jago pidato dan piawai berceramah tapi ia juga seorang pujangga dan penulis yang al-fakih, al-muhaddis, al-mufassir, al- muarrikh, al-ushuli, al-lughowi. Bagi anda yang ingin mengetahui biografi Rasulullah SAW bisa membaca kitabnya yang berjudul Asy-syifa bi Ta’rif Huquq al-Mustofa, hanya satu jilid. Untuk mengenal siapa guru-gurunya bisa membaca kitabnya Al-Ghunyah. Sebagaimana disebutkan oleh putranya Al-Qadli Iyyadl bahwa ayahnya mempunyai guru 100 orang dari berbagai disiplin ilmu. Diantaranya; Al-Qadli Abul Walid, Ibnul Arabi Al-Mu’afiri, Abu Ali Al-Ghozzani, Abul Abbas Al-‘Adzri. [5] Yang ingin tahu ulama-ulama pelopor madzhab Maliki bisa membaca kitabnya Tartibul Madarik wa Taqribul Masalik fi Ma’rifati A’lam Madzhab al-Imam Malik empat juz, yang kelima indeks dan daftar isi. Ia juga mensyarahi (menjelaskan) kitab Sahih Muslim, nama kitabnya Al-Ikmal Fi Syarhi Sahih Muslim, tapi sayangnya belum dicetak, masih dalam bentuk manuskrip. Kitab tersebut menyempurnakan kitab Al-Muallim fi syarhi muslim karya Imam Al-Maziri.[6] Yang ingin membaca sejarah ia memiliki Jami’u At-Tarikh, berisi sejarah penguasa-penguasa Andalusia dan Maroko, termasuk sejarah Sebta dan ulamanya. Yang ingin baca ilmu hadis bisa membaca Masyariqul Anwar fi Iqtifai Sahih al-Atsar, kitab ini tentang penjelasan ghoribul hadis (hadis-hadis yang rumit pemahamannya), kitab ini konsentrasi di tiga kitab sahih; Al-Muwatho’, Al-Bukhori dan Muslim. Yang ingin membaca hikmah-hikmah dan cerita-cerita yang mencengangkan bisa membaca At-Tanbihat. [7]

                Ada yang menarik di Indonesia, walaupun Al-Qadli Iyyadl Maliki tetapi Hadrotusy Syekh Hasyim Asy’ari pendiri Ormas terbesar di Indonesia, NU banyak menukil pendapat beliau dalam bukunya “al-Tibyan fi Nahyi ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqrab wa al-Akhwan”. Ini mengindikasikan bahwa sekalipun KH. Hasyim Asyari bermadzhab Syafii tapi ia tidak segan untuk menjadikannya sebagai rujukan dan teladan. Benar kata Dubes RI untuk kerajaan Maroko, H. Tosari Wijaya; “Maroko adalah guru ulama-ulama Indonesia.”

                Yang masih penasaran atau ingin kenal lebih dekat lagi dengan Al-Qadli Iyyadl bisa membaca biografinya di buku Azhar Ar-Riyadl fi Akhbari Al-Qadli ‘Iyyadl 5 jilid besar karya Al-Maqqori selesai ditulisnya tahun 1038 H. atau yang ditulis oleh anaknya Abu Abdillah Muhammad berjudul At-Ta’rif Bi Al-Qadli ‘Iyyadl.  

                Walipitu

                Al-Qadhi Iyyadl termasuk salah satu Walipitu (Wali tujuh) yang diagungkan dan ramia diziarahi oleh masyarakat Maroko. Biografi singkat wali-wali tersebut sebagaimana berikut:
1) (Sidi) Yusuf Bin Ali As-Shonhaji (w. 593 H / 1196 M)

2) Al-Qadli ‘Iyyad

Nama lengkapnya Iyyadl bin Musa bin Iyyadl bin ‘Amr عمرو[8] Bin Musa Bin Iyyadl Bin Muhammad bin Abdillah bin Musa bin iyyadl As-Sibti Al-Yahshubi.[9] Nasab Al-Yahshubi merujuk ke Yahsub bin Malik salah satu kabilah Humair, kabilah di Yaman Al-Kohtoniyah. Nenek moyangnya hijrah ke kota Basthoh, salah satu daerah di Gornatoh (Granada). Kemudian hijrah ke Fes. Lalu buyutnya, Amr hijrah ke Sebta tahun 373 H / 893 M. Keluarganya kemudian terkenal di sana dengan keluarga ahli takwa (ulama). Nah, di sinilah Al-Qadli Iyyadl lahir 15 Sya’ban 476 H / 28 Desember 1083 M). Ia tumbuh dan belajar ke ulama Sebta. Kemudian mondok/mesantren ke Andalusia tahun 503. Menjadi Qadli umur 35 Tahun, umur 28 sudah bermunadzoroh (mengisi acara-acara ilmiyah).

Wafat malam jumat, tengah malam Jumadal Akhir, dikebumikan di Marakech 544 H.
Ia lama menjadi Qadli di Sebta, kemudian dimutasi menjadi Qadli di Granada (532 H) tapi jabatannya tidak berumur panjang di sana. Dikebumikan di Bab Ilan di belakang pagar kota Marakech.[10]

3) Imam As-Suhaily (gurunya Imam Ibnu Dihyah)

Suhaily adalah nama suatu lembah di Malaga, Andalusia.  Dikebumikan di Marakech di Bab-Asy-Syariah, kini bernama Bab Ar-Rabb. (w. 581 H/ 1185 M) dia satu-satunya dari Walipitu yang nasabnya ke Andalusia. Dalam ziarah Walipitu dia yang terakhir diziarahi. Salah satu dai Al-Muwahidun. Dia yang mengarang Ar-Raudh Al-Unf, sebuah kitab tentang Siroh Nabawiyah. Kata guru bahasa Arab penulis di Dar El Hadith El Hassania buku ini sangat bagus; detil dan bahasanya indah.

 
4) Abu Al-Abbas As-Sibti (Ahmad bin Ja’far Al-Khozroji)

Lahir di Sebta (524 H/1192 M) wali terbesar kota Marakech.  Ayahnya wafat. Uminya mengirimnya ke penjahit supaya belajar agar bisa mendapat uang dengan ketrampilan tersebut. Tapi ia kabur ke pondoknya Syekh Abi Abdillah Muhammad Al-Fakhor. Kemudian ia dijemput oleh ibunya di pesantren tersebut. Sang Syekh usul ke ibunya Abu Al-Abbas bahwa ia akan tetap mendidik anaknya sekaligus memberi uang ke Ibunya sebagai ganti ia mencari nafkah dari menjahit. Deal.

Pada tahun 539 H / 1144 M tahun ketika Al-Muwahidun merebut kekuasaan Al-Murobithun sebab kematian Yusuf bin Tasyfin, Abu Al-Abbas pergi ke Marakech guna mencari guru dengan niatan menuntut ilmu, umurnya baru 16 tahun. Sayangnya Marakech waktu itu tengah dikepung oleh musuh (Muharam-Syawal 541 H /1146 M), oleh karenanya ia naik gunung Jiliz (Gueliz) dengan pembantunya untuk bersembunyi dan bertapa di sana selama 40 tahun. Pada zaman Al-Ya’qub ia turun gunung, mengakhiri pertapaannya, kemudian dibangunkan rumah dan pesantren untuk mengayomi umat.  Wafat di Marakech, 3 Jumadal Akhir 601 H / 1204 M.

5) Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli

Dari keturunan Idris bin Abdillah bin Al-Hasan Al-Mutsanna bin Al-Hasan As-Sibti Bin Ali Bin Abi Tholib. Besar dan tumbuh di kampungnya Jazulah, salah satu daerah di kawasan Sus. Setelah belajar di kampungnya ia dikirim keluarganya ke Fes. Berguru ke Syekh Ahmad Zaruq.

Meninggal diracun selepas sholat subuh, Kamis 16 Rabiul Awwal 870 H / 1465 M. Disemayamkan awalnya di Afughol daerah Syayadzomah kemudian setelah 20 tahun jasadnya dipindah ke Marakech. Dia menempati ziarah keempat. Bagi anda yang ingin mengambil berkahnya silahkan ziarah hari jumat karena pada hari itu khataman pembacaan kitab Dalailul Khoirot.

6) Abdul Aziz At-Tabba’

Lengkapnya Abu Faris Abdul Aziz bin Abdul Haq At-Tabba’ Al-Harror Al-Marokusyi. Menempati urutan kelima dalam ziaroh. Dia muridnya Imam Al-Jazuli. Wali ini wali gaul yang menganjurkan untuk bergumul dengan masyarakat. Ia mensinergikan antara ritual religi, budaya, kegiatan ekonomi dan kehidupan sosial. Ia bagaikan Sunan Kalijaga. Banyak orang percaya bahwa keberkahannya bisa mengobati kemalasan dan membangkitkan kecerdasan. petilasannya sekarang dikenal dengan nama Haumah Sidi Abdul Aziz antara kampung Al-Mawasin dan Amashfuh. Wafat 914 H / 1529 M.

7) Abdulllah Al-Ghazwani

Lengkapnya Abdullah bin ‘Ajjal Al-Ghazwani. Muridnya Abdul Aziz At-Tabba’. Beliau memiliki kitab bernama, Annuqtoh Al-Azaliyah fi Sirri Ad-Dzat Al-Ilahiyah (Titik Azali kupas tuntas Rahasia Dzat Ilahi. Al-Allamah Abdullah Al-Hibthi berkata, “Saya bersaksi bahwa dia (Abdullah Al-Ghazwani) termasuk al-Arif billah (wali Allah), dia lebih banyak menjawab dengan prilaku (teladan) dari pada dengan perkataan (ceramah).” Wafat 935 H.[11]

***

                Terlalu ringkas artikel ini untuk membahas ulama-ulama di atas, di samping waktu penulisan yang tidak banyak. Tapi cukup sebagai kail bagi mereka yang haus ilmu dan teladan. Penulis yakin di sana-sini masih banyak kekurangan, maka jika nanti ada yang mengkoreksi atau melengkapinya alangkah baik sebagai penyempurna. Semoga bermanfaat.

                Akhirnya, semoga kita semua mendapat keberkahan dari ilmu dan kualitas kesalehan tingkat tinggi mereka serta diberi kekuatan dan kemauan menziarahi dan meneladaninya. Aamiin. [aiz]   

*Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana Dar El Hadith El Hassania Semester IV, tingkat akhir.


([1] Mukadimah kitab Asy-Syifa hal. 5

([2] Almaghrib Abro at-Tarikh Jilid 1. Hal. 162-169

[3]) Mukadimah kitab Asy-Syifa hal.6

[4]) Footnote kitab Al-A’lam hal. 99 juz. 5

([5]  Azharur Riyadl, Hal. 476

[6])Menurut Ibnu Kholdun nama kitab Al-Maziri adalah Al-Muallim bi Fawaid Muslim, beliau tidak sampai selesai mensyarahinya, lalu dilanjutkan dan disempurnakan oleh Al-Qadli Iyyadl dengan judul Ikmalul Muallim. Kedua kitab itu dibaca oleh Imam An-Nawawi dengan pembacaan yang holistik, komprehensif dan konstruktif ini mewujud kitab Syarah Sahih Muslim yang sekarang masyhur dibaca orang. Lihat Mukaddimah Ibnu Kholdun juz 1, Hal. 254.

[7]) Wafayatul A’yan wa Anbau Abna-iz Zaman Juz, 3. hal. 483 

[8]) Ada perbedaan; satu ulama seperti Ibnul Abar mengatakan ‘Amr,

 ulama yang lain, seperti Muhammad bin Jabir al-Wadi Asyi dan Abul Qosim Al-Malahi,  mengatakan ‘Umarun, yakni ada huruf Nun setelah Waw

[9] (  12Azharur Riyadl fi Akhbari Al-Qadli Iyyadl, hal

 

([10]  Mausuah A’lam Al-Maghrib Hal. 356 juz. 1cet. 1, 1980

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: