Posted by: alvianiqbal | April 19, 2016

Tahlilan Ala Maroko

Tahlilan Ala Maroko

Oleh Alvian Iqbal Zahasfan*

Dimuat di Majalah AULA 2013

Pengalaman ini dampak positif dari jejaring sosial Facebook, ketika penulis dikenalkan oleh teman Facebook penulis yang belajar di Al-Azhar Kairo dengan mahasiswa Maroko kenalannya yang juga belajar di sana. Kita bertiga belum pernah kopi darat. Hingga pada Ramadhan tahun lalu penulis ditakdirkan Allah bersua dengan mahasiswa Maroko tersebut, namanya Hafidz Izmim.

Penulis meluncur dengan bus dari ibukota Maroko, Rabat menuju kota Tangier (3 jam perjalanan), dimana teman Maroko baruku itu tinggal. Kota Tangier atau yang dalam bahasa Arabnya disebut Tonjah adalah kota yang cantik mempesona. Ia terletak di ujung utara Maroko berbatasan dengan benua Eropa. Kalau kita berdiri di pinggir pantainya, kita dapat menyaksikan daratan negara matador, saking dekatnya. Perjalanan dari Tangier ke Tarifa (Pelabuhan di Iberia atau Spanyol/nama kota yang diambil dari nama panglima militer Islam, Tharif bin Malik) via feri hanya memakan waktu 45 menit saja.

Juga masih lekat dalam ingatan sejarah kita bahwa dari sebelah kota inilah (Seuta/Sebtah) dulunya Laksamana Islam, Thariq bin Ziyad Al-Barbari 50-102 H/670-720 M (baca: Al-Berberi/Penduduk asli Maroko) menyeberangi selat antara benua Afrika dan Benua Eropa yang kemudian berlabuh di sebuah daratan yang memiliki gunung, dikenal kemudian dengan Jabal Thariq (Gibraltar) tahun 92 H/712 M guna menaklukkan Andalusia atas komando Gubernur Afrika, Musa bin Nusair (Tabi’in 19-97 H/640-716 M) di bawah Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik yang bermarkas di Syam (50-96 H)

Lahir dari rahim kota Tangier para ulama. Diantaranya rahhalah (petualang) yang dibanggakan umat Islam sekaligus dikagumi dan diakui oleh Barat, Ibnu Batutoh (w. 779 H/1378 M). Siapa yang tidak mengenalnya? Petualang yang telah melanglang buana sejauh 140.000 Km selama 24 tahun (725-749 H/1325-1349 M) bahkan sempat mampir ke pulau Sumatera  pada tahun 748 H/1348 M. ketika hendak balik ke Maroko dari Cina dengan kapal lautnya. Kalau pembaca ke Maroko sempatkanlah ziarah ke makamnya yang terletak dekat pasar kota tua Tangeir.

Di samping Ibnu Batutah, ada juga keluarga ulama hadis yang lahir dari rahim kota tersebut. Mereka dikenal dengan sebutan Bin Shiddiq, sebab dari keluarganya banyak yang menjadi ahli hadis. Seperti Ahmad bin Muhammad bin Shiddiq Al-Ghumari, Abdullah bin Muhmmad bin Shiddiq Al-Ghumari, Abdul Aziz bin Muhammad bin Shiddiq Al-Ghumari. Mereka semua saudara kandung yang pakar hadis—yang menurut Syekh Abdullah At-Talidi dalam Al-Muthrib fi Auliyail Maghrib—lahir dari seorang ayah yang alim dan waliyullah, yakni Muhammad bin Shiddiq.

Selain keluarga Bin Shiddiq (al-Usroh ash-Shiddiqiyah) di Maroko juga ada keluarga-keluarga ulama terkenal seperti keluarga Al-Qodiri, keluarga Ibnu Saudah, keluarga Bin Qiron, keluarga Al-Kattani (pengarang kitab Ar-Risalah Al-Mustathrofah), keluarga Al-Jadd (Al-Fasi).

***

Fddanchappo, adalah desanya Hafidz yang berada di atas salah satu bukit Tangier. Di sana penulis benar-benar dimanjakan dengan pemandangan kota pelabuhan Tangier yang elok. Kerlap-kerlip lampu Tangier di waktu malam dan pantai kota Tangier di waktu siang tampak menawan terlihat dari atas rumah Hafidz. Ma kholaqta hadza bathilan, subhanaka faqina adzabannar.

Suatu malam selepas tarawih saya diajaknya berjalan menuju suatu rumah, katanya ada orang yang baru dikubur. Dan keluarganya ingin dibacakan doa-doa. Malam itu penulis di tengah-tengah kerumunan orang-orang Maroko yang hafal Al-Quran. Sebab tradisi mereka dalam mendoakan orang yang meninggal atau yang dikenal dengan sebutan Ttakriya (baca: At-Taqriyah) atau Zerda atau Lila d Tolba (sebutan berbeda-beda tergantung kota) adalah mengundang para huffadzul quran (penghafal Al-Quran) atau semacam Jam’iyah al-Qurro’ wal huffadz di Indonesia.

Kerumunan di atas dipimpin oleh tokoh masyarakat. Mereka lalu membacakan ayat-ayat Al-Quran yang berhubungan dengan maut, seperti kullu nafsin dzaiqotul maut… (setiap jiwa akan merasakan kematian… QS. Alu ‘Imran: 185, Al-Anbiya’: 35, Al-Ankabut: 57). Dilanjutkan dengan syair-syair dan kata-kata mutiara para ulama yang berkaitan dengan kematian, seperti syairnya Imam Ali Zainal Abidin As-sajjad, Laisal ghoribu ghoribas Syami wal Yaman//Innal ghoriba ghoribul lahdi wal kafan (Orang asing bukanlah orang yang datang dari Syam atau Yaman//Sejatinya orang asing adalah orang yang berada di liang lahat dan berbalut kain kafan) atau seperti al-mautu babun wa kullun nasi dakhiluhu (Maut adalah pintu yang setiap manusia akan memasukinya). Setelah itu mereka melantunkan dzikir-dzikir yang ditingkahi dengan shalawat. Terakhir adalah doa.

Ada yang menarik kala mereka berdoa. Ketika doa hampir selesai, seorang jama’ah mendatangi pemimpin Ttakriya (baca: Tahlil) seraya membisikkan “Tolong panjatkan doa juga untuk nenekku yang di alam arwah” tidak lupa sebelum ia berbalik ke tempat duduknya ia memberikan sejumlah uang. Nah, uang tadi lalu diperlihatkan oleh pemimpin tadi kepada para jama’ah seraya mengatakan bahwa Pak Fulan mohon didoakan neneknya yang di alam arwah. Sejurus kemudian sang pemimpin membaca doa lagi yang cukup panjang. Ketika doanya nyaris selesai, ia didatangi oleh seorang jamaah lainnya seraya berkata “Anakku sedang sakit tolong didoakan” sambil tidak lupa ia memberikan uang kepada sang pemimpin. Sang pemimpin Ttakriya kemudian memperlihatkan uang tersebut kepada jamaah seraya berkata “Pak Fulan mohon didoakan anaknya yang sedang sakit supaya lekas sembuh” lalu ia memimpin doa lagi yang cukup panjang. Demikian seterusnya kira-kira sampai 10 orang yang mendatanginya minta didoakan.

Penulis berpikir mungkin mumpung ada momentum doa bersama yang dipimpin oleh orang yang hafal Al-Quran ditengah jama’ah yang banyak hafal Al-Quran, maka orang-orang awam memanfaatkan momen tersebut dengan minta didoakan sekalian bersedekah dengan cara memberi uang kepada sang pemimpin Ttakriya.

Tapi pembaca jangan buruk sangka dulu mengenai uang yang diterima sang pemimpin. Setelah acara, uang dikumpulkan, dihitung lalu dibagikan langsung kepada orang-orang yang telah memimpin atau membaca ayat-ayat Alquran, Shalawat, syair-syair dan kata-kata mutiara yang dilantunkan dengan irama indah.

Nah, karena Hafidz Izmim, teman penulis adalah salah satu orang yang memimpin atau membaca ayat-ayat suci Alquran sebab ia hafal Alquran, maka ia kebagian “rejeki uang doa” tadi. Demikian juga penulis kecipratan “rejeki uang doa” padahal penulis sekedar menjadi pendengar setia tidak ikut memimpin. Benarlah sabda Nabi yang mengatakan, “Dekat dengan penjual parfum, bau wangi. Dekat dengan tukang besi, bau besi” (HR Al-Bukhari Muslim) au kama qol.[]

*Penulis adalah Rais Syuriah PCINU Maroko dan kandidat Master di Dar El Hadith El Hassania, Rabat-Maroko.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: