Posted by: alvianiqbal | February 3, 2013

Rindu Rasul

Rindu Rasul

Oleh Alvian Iqbal Zahasfan

Setelah Rasulullah SAW wafat pada tahun ke-11 H, Bilal merasakan hari-harinya dipenuhi dengan kerinduan dan kenangan hidup yang mendalam bersama Nabi. Tak tahan itu terus mengganggu hari-harinya, ia pun berhijrah ke Syam (Suriah, sekarang). Namun, kenangan dan kerinduannya akan Rasul selalu ada dalam benaknya.

Suatu malam, ia bermimpi. Orang yang dikasihinya hadir dalam mimpinya. Dalam mimpi itu, Rasul bertanya kepadanya. “Kebekuan apakah ini hai Bilal? Bukankah sudah waktunya engkau mengunjungiku?” Maksudnya sudah lama engkau tidak mengunjungiku wahai Bilal.

Spontan Bilal terjaga dari tidurnya. Ketakutan dan kesedihan tidak dapat ia sembunyikan dari air mukanya. Secepat kilat ia meraih tunggangannya. Meluncur menuju Madinah Al-Munawarah. Sesampai di kuburan Rasulullah, tanpa terasa air matanya tumpah. Ia bolak-balikkan wajahnya di atas pusara kekasihnya.

Al-Hasan dan Al-Husain, cucu Rasulullah, mengetahui hal itu. Mereka mendatangi Bilal. Segera Bilal memeluk dan mencium rindu keduanya. Sejurus kemudian, mereka berkata, “Duhai Bilal, kami ingin sekali mendengarkan lantunan azanmu laiknya engkau azan untuk kakek kami di Masjid ini dulu.” Bilal kemudian mengumandangkan azan, sesuai dengan keinginan kedua cucu Rasul itu.

Maka ketika ia mengumandangkan, “Allahu Akbar”, Kota Madinah gempar. Saat melanjutkan, “Asyhadu alla Ilaha Illallah” kegemparan itu makin menjadi-jadi.

Kala meneruskan, “Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah”, para warga Madinah keluar dari rumahnya seraya bertanya-tanya. “Bukankah Rasulullah telah diutus?” Maksudnya mereka heran dan kaget seolah-olah Rasulullah hidup lagi. Tidak ada hari sepeninggal Rasulullah di Madinah terlihat banyak orang yang menangis baik perempuan maupun laki-laki kecuali hari itu.

Kisah sahabat Bilal ini diriwayatkan—di antaranya—oleh Imam as-Samanhudi dalam Wafa’ul Wafa’ (4/1405) dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq/Sejarah Damaskus (7/137). Kisah ini setidaknya memberi lima pelajaran. Pertama, mimpi bertemu Rasulullah adalah hak. “Dan siapa saja yang melihat Rasulullah dalam tidurnya maka dia benar-benar telah melihatnya SAW, karena setan tidak bisa menyerupainya.” (HR Bukhari-Muslim). 

Ahli hadis abad ke-21 dari Lebanon, Abdullah Al-Harari (w. 2008) menafsiri bahwa seseorang yang pernah bermimpi bertemu Rasulullah maka insya Allah ia akan meninggal husnul khatimah. 

Kedua, ziarah ke pusara Rasulullah merupakan amalan yang baik. Ketiga, menangis dan mencium pusara Rasulullah sebagai ekspresi cinta dan kerinduan adalah hal yang wajar. Rasulullah bersabda, “Seseorang akan dikumpulkan kelak dengan orang yang ia cintai.” (HR Al-Bukhari).

Keempat, azan hendaknya dikumandangkan dengan suara yang nyaring. Sebagaimana Bilal yang bersuara lantang dan ketika azan naik ke atap Masjid an-Nabawi. Kelima, ziarah kubur dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat …” (HR Al-Hakim).

Semoga kita termasuk orang-orang yang rindu kepada Rasulullah, sebagaimana Bilal rindu kepadanya. Testimoni Umar bin Al-Khattab, “Abu Bakar adalah sayyiduna (pemimpin kita) dan yang telah memerdekakan sayyidana, (Bilal).” Wallahu A’lam.

Dimuat di koran REPUBLIKA kolom Hikmah, 24 Mei 2012

Advertisements
Posted by: alvianiqbal | February 3, 2013

Bilal dan Muazin

Bilal dan Muazin

Oleh Alvian Iqbal Zahasfan

Seorang Muslim tidak ragu bahwa azan merupakan salah satu syiar Islam, panggilan menuju shalat dan ibadah, serta media mendekatkan diri kepada Allah. Orang Islam diperintahkan untuk menjawabnya. Jika demikian, tentu azan memiliki keutamaan luar biasa dan pahala yang mewah.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang memanggil kepada Allah …” (Fushshilat [41]: 33). Mujahid (murid Ibnu Abbas RA) mengatakan, ayat tersebut diturunkan berkaitan dengan seorang muazin (tukang azan).

Ummul Mukminin Siti Aisyah RA menjelaskan, “Jika muazin menyeru, Hayya alas shalah, maka sungguh dia telah memanggil (kita) kepada Allah.” Suatu pagi Rasulullah SAW memanggil Bilal bin Rabah RA seraya bersabda, “Duhai Bilal, apa gerangan yang menyebabkanmu mendahuluiku ke surga? Kemarin malam, saya masuk surga, lalu saya mendengar derap sandalmu di depanku.”

Lantas Bilal menjawab, “Duhai Rasul Allah, saya tidak pernah azan sama sekali kecuali setelahnya saya mendirikan shalat sunah dua rakaat. Dan, saya tidak pernah berhadas sama sekali, melainkan setelahnya saya akan segera berwudhu lagi.” Lalu Rasulullah menimpalinya, “Sebab inilah!” (HR Ibnu Khuzaimah dalam sahihnya). Maksudnya, lantaran mengerjakan shalat sunah dua rakaat setelah azan dan berwudhu lagi setelah berhadas itu, Bilal mendapatkan tempat istimewa di surga.

Hadis di atas memberi dua faedah. Pertama, disunahkan shalat dua rakaat seusai mengumandangkan azan. Kedua, disunahkan berwudhu setiap kali berhadas agar senantiasa dalam keadaan suci dan selalu siap, seperti saat hendak shalat, membawa mushaf, tawaf, mengaji, dan belajar. “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang taubat dan orang-orang yang bersuci.” (QS al-Baqarah [2]: 222).

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah bertanya kepada Bilal, “Wahai Bilal, beri tahu saya, perbuatan terhebat apakah yang telah engkau kerjakan dalam Islam? Sungguh saya telah mendengar derap langkah kakimu di depanku di surga.” Bilal menjawab, “Saya tidak pernah melakukan perbuatan hebat, hanya saja saya tidak pernah berwudhu pada waktu siang maupun malam, melainkan saya shalat dengan wudhu tersebut.” (HR Bukhari-Muslim).

Dua hadis tersebut di atas menunjukkan bahwa Bilal bin Rabah RA termasuk salah satu golongan yang diberi kabar gembira akan surga. Sahabat lainnya yang juga dijamin masuk surga oleh Rasul SAW, di antaranya Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, Zubair bin Awam, Tolhah bin Ubaidillah, dan Abdurrahman bin Auf. Alangkah berbahagianya para tukang azan (muazin) jika dapat meniru perbuatan sahabat Bilal di atas. Leher-leher mereka lebih tinggi (menjadi pemimpin) dari manusia-manusia sejagat raya yang pernah diciptakan Allah (HR Muslim).

Selain itu, semua makhluk di muka Bumi ini akan bersaksi untuk mereka pada Hari Kiamat karena pernah mendengar panggilannya (HR Al-Bukhari). Allah mengampuni dosanya (HR Abu Daud dan Ibnu Majah). Dan, Rasul SAW akan memintakan ampunan kepada Allah untuknya (HR Ibnu Majah dan Abu Daud). Wallahu a’lam.

Dimuat di kolom Hikmah koran REPUBLIKA, Rabu 9 Mei 2012

Posted by: alvianiqbal | September 14, 2012

Catatan TEMUS Haji-Kita

Catatan TEMUS Haji-Kita
“Khidmatul Hujaj Ibadatun Lana”

Kamis, 6 September 2012/18 Syawwal 1433
(Kalender Hijriah Maroko terlambat sehari dibanding di Saudi dan Indonesia [19 Syawwal], sebab mereka lebaran sehari lebih awal dibanding Maroko)

Setelah sebelumnya—beberapa bulan lalu—diadakan pemberkasan calon-calon Temus (Tenaga Musiman) Haji tahun ini oleh Tim Seleksi Temus PPI Maroko yang secara mufakat memutuskan 10 orang; 8 orang mahasiswa dan 2 mahasiswi—Ini kali ketiga Maroko mendapatkan jatah Temus untuk perempuan walaupun jatahnya hanya dua orang—kemarin, 5 September teman-teman Temus terpilih rapat untuk membahas semua yang terkait persiapan dan pasca Temus. Diantara hasilnya, memutuskan amirul hajj-nya Saudara Burhan Ali, sedang Naib-nya adalah Saudari Ila Khalila. Bang Solehudin ditugasi sebagai yang mengurus visa. Saudara Wak (M. Firmansyah Waruwu) penanggung jawab tiket pesawat. Sisanya sebagai anggota dan tim hore…hahahihi: Bang Labib (Achmad Labib), Ibnu Kholdun, Guntara Nugraha Adiana Poetra, A. Shohibul Muttaqin, Magfirotul Fatkha dan Alvian Iqbal Zahasfan.

Syahadah Tibbiyah
Jam 10.30 kita bergerak menuju klinik An-Nur di bilangan Komra guna memperoleh syahadah tibbiyah (Surat Sehat). Sempat ngelobi pihak klinik. Buntu awalnya. Alasannya karena kita tinggal di daerah Kouass (Baca: Kuwas), maka kudu minta syahadah tibbiyah-nya di daerah Kouas. Sedangkan klinik An-Nur hanya untuk penduduk yg tinggal di daerah DouarEl Garaa (Baca: Duwar Gar’a) dan sekitarnya.

Jadi, di Maroko setiap hay (kampung) ada kliniknya masing-masing. Tidak diperkenankan secara aturan, misalnya yang tinggal di Kouas minta syahadah tibbiyah di klinik milik daerah Duar El Garaa. Akhirnya pihak klinik memberi izin, setelah sebelumnya salah satu diantara kami menyatakan dengan senyuman bahwa kita walaupun tinggal di Kouas tapi kalau belanja sayuran, ayam, atai (teh khas Maroko) di Duar Garaa. Dokternya perempuan cantik paruh-baya dan ramah. Kaca mata menghiasi kedua mata indahnya.

Syahadah tibbiyah tersebut kami peroleh dengan fabour (bahasa Darija Maroko) alias gratis. Alhamdulillah syarat pertama telah sukses kita raih.

Tat’im
Meluncur ke Babul Had (Jantung kota Rabat). Di dekat pemberhentian Grand Taxi (baca: Grong Taksi/Taksi Besar)—untuk membedakan dengan Petit Taxi/Taksi kecil). Lalu apa perbedaannya? Secara ukuran memang beda. Grand Taxi jauh-dekat bayar 5 DH, tak pakai argometer (pengukur tarif pada taksi), murah meriah tapi harus berdesakan duduknya, dengan porsi duduk jok belakang 4 orang dan jok samping sopir, 2 orang. Kalau Petit Taxi, jauh dekat tergantung argometer. Tempat duduk nyaman, tak perlu desak-desakan, karena terbatas hanya untuk tiga orang penumpang, di belakang dua, di depan satu, samping sopir. Untuk tiap kota di Maroko, taksi, baik yang Grand mau pun yang Petit memiliki warna yang berbeda. Di Rabat, Grand Taxi berwarna putih, Petit Taxi berwarna biru. Ada satu lagi taxi, namanya Khattaf (taksi gelap) bisa berupa mobil sedan atau pun pick up pribadi yang digunakan sebagai mobil omprengan. Gampangnya kalau di Indonesia mobil plat hitam diopersaikan seperti plat kuning. Jauh dekat Cuma 5 DH. Khattaf dan Grand Taxi memiliki rute tertentu, berbeda dengan Petit Taxi bisa diajak kemana penumpang suka, asal tebal kantongnya. Petit Taxi di Maroko berbeda dengan Taksi di Indonesia. Bedanya, di sini satu taksi bisa digunakan dua sampai tiga orang berbeda tujuan tapi satu arah dengan argometer masing-masing penumpang. Kalau di Indonesia, jika taksi sudah ditumpangi tidak bisa ditumpangi lagi oleh orang lain kecuali orang itu yang pertama sudah turun. Petit Taxi di Maroko kayak tidak butuh penumpang. Tidak semua taksi yang kita stop mau berhenti. Sebel…seru…—kita melakukan tat’im (vaksinasi).

Vaksinasi berjalan lancar dan cepat saja. Diberi buku kecil berisi keterangan dan stempel. Bayar 180—sekarang alhamdulillah kita bayar lebih murah dibanding kemarin (250 DH)—semoga murahnya pembayaran vaksinasi ini menunjukkan haji mabrur kita kawan-kawan. Disuntik satu-persatu di lengan. Terakhir saudari Ila Khalila (Naib Amirul Hajj) disuntik.

Kain Ihram
Avi dan Ila Kembali ke Hay (Asrama) Moulay Ismail (Asrama Mahasiswa di Musim panas tahun ini). Kita delapan Arjuna melanjutkan perburuan ke Souiko (Pasar Tradisional) Rabat guna mencari kain ihram. Ada yang tipis juga ada yang tebal. Kata Bang Soleh, “Kita cari yang tebal agar tidak kedinginan di sana. Nanti beli lagi yang tipis di sana.” Kita menemukan toko. Tawar menawar. Pesan 8 kain dengan harga miring 180 MAD. Yang jaga toko keluar menanyakan ke Bosnya. Menunggu dia balik. “Maaf kain yang mau kalian beli cuma ada satu”, Ujar penjaga toko. Ya.. apa boleh dikata. Kita cari toko yang lain. Tanya, cari sana-sini. Ketemu juga toko yang komplit. Deal. Tujuh Arjuna membeli kain ihram yang tebal (180 DH setelah ditawar dari harga asli 220), satu arjuna memilih yang tipis (150 DH). Selesai perburuan. Kita berpencar, ada yang pulang ke PPI, ke Hay Nahdlah, ada yang tetap di pasar dan ada yang ziarah kubur.

Alhamdulillah urusan hari ini selesai dengan lancar dan tak terlalu susah. Semoga besok urusan visa dan tiket pesawat juga mudah. Aamiin… Ya Mujibassailiin.

NB: Total pengeluaran hari ini; Vaksin (180)+Kain Ihram (180)+Taksi PP (20 DH)= 380 MAD

Senin, 10 September 2012

Visa oh Visa

Bang Soleh ke Kedutaan Saudi Arabia di Maroko. Awalnya sempat dipersulit di pintu masuk pertama. Hal yang sudah biasa. Akhirnya setelah menunggu lama bisa juga masuk ke kedutaan setelah melobi dan melobi petugas keamanan. Kesulitan tersebut dirasa wajar tiap kali kita ke sana. Bahkan dari tahun ke tahun untuk urusan mendapat visa Temus haji hampir selalu mengalami kendala keterlambatan.

Tahun kemarin Temus haji terlambat datang ke Saudi Arabia. Sebab keterlambatan visa. Demikian pula Bang Soleh saat di kedutaan Saudi, ia dijanjikan oleh Sekpri Dubes Saudi baru minggu depan akan mendapat visa. Padahal sudah ada surat pengantar dari KBRI dan nota dari Kementrian Haji di Jedah yang menyatakan kita Temus haji Indonesia. Tapi mereka menyangka kita haji biasa seperti laiknya mahasiswa biasa yang ingin berangkat sendiri, bukan tugas negara. Jika demikian konsekuensinya harus mengikuti aturan yang diberlakukan terhadap masyarakat biasa, baik orang Indonesia ataupun Maroko dll. Karena menurut mereka, temus haji yang resmi adalah mereka yang berangkat dari Indonesia.

Untuk mempercepat turunnya visa harus ada turun tangan langsung dari pihak KBRI guna menyatakan bahwa kita Temus Haji dan bukan haji pribadi. Hingga diharapkan visa lebih cepat turun. Karena dikhawatirkan jika minggu depan baru berangkat kita akan terlambat dalam mengikuti penataran dan membimbing jama’ah. Dan keterlambatan visa akan mempersulit dalam booking tiket pesawat. Bisa jadi kita terkena denda atau mahalnya harga tiket yang tidak menentu.

Selasa, 11 September 2012
Raja Saudi ke Maroko

Bang Soleh, Bang labib dan Pak Arif (Mang Arif) ke Kedutaan Saudi Arabia. Tahun ini visa haji dipegang oleh Konsulat General Saudi, Muhammad ‘Ayid Al-Balawi karena kata Mang Arif mungkin raja Saudi, Abdullah sedang ke Maroko dan Dubes Maroko kemungkinan besar sibuk menemaninya selama di sini.

Visa haji biasanya ditangani langsung Dubes Saudi, sebab ada indikasi motif jual beli visa. Masih menurut Mang Arif yang kala itu berbagi pengalaman kepada Bang Soleh dan Bang Labib “Jika skenario seperti ini (visa ditangani oleh Konsulat General Kedutaan Saudi Arabia dan bukan oleh Dubes insya Allah visa akan segera turun.”

Rabu, 12 September 2012
Kedekatan

Benar yang dikatakan Mang Arif, visa turun hari ini. Cuma berselang sehari saja. KBRI sangat dekat dengan Konsuler General Kedutaan Saudi tersebut. KBRI sering mengundangnya di momen-momen KBRI.

Kamis, 13 September 2012                                                                                                                                                                                                            Muhamad ‘Ayid Al-Balawi
Berada di KBRI jam 09.15 membantu menyebarkan undangan 67éme Anniversaire de la Fete d’Indépendance de la République d’Indonésie ke kedutaan-kedutaan dan beberapa instansi penting di Rabat. Sembari menunggu Pak Parman, Pak Dedi, Sidi Felasi dan Sidi Hassan menyiapkan undangan saya berkunjung ke kantor Pak Arif. Menanyakan proses turunnya visa yang ajaib terbilang cepat dibanding 5 tahun terakhir. Beliau selalu hadir membantu kita (PPI Maroko) ketika dalam kesulitan urusan visa. Di samping memang tugas dan keahlian beliau di bidang ini. Dia orang yang baik dan ceria. Khas manggambarkan kepribadian orang Bandung yang lemah lembut.

Menurut Pak Arif kemudahan visa Temus tahun ini boleh jadi karena Dubes Saudi untuk Maroko sedang menemani raja Saudi yang tengah berkunjung di Maroko. Sehingga urusan visa yang selama ini dipegang langsung olehnya dialihkan kepada Konsuler General Saudi, Muhamad ‘Ayid Al-Balawi. Nah, Al-Balawi ini orang yang dekat dengan KBRI. Oleh karenanya, disampaikan oleh Pak Arif ke Bang Soleh dan Bang Labib “Jika skenarionya kayak begini, insya Allah visa akan  segera turun. Namun jika skenarionya kayak tahun sebelum-sebelumnya (ditangani langsung oleh Dubes Saudi) maka akan sulit visa cepat turun”, demikian kira-kira yang diutarakan Pak Arif kepada Bang Soleh dan Bang Labib.

Benar saja yang dikatakan Pak Arif, skenario baru ini membawa angin segar kepada temus haji tahun ini; Visa turun esok harinya (rabu, 12/09/2012) setelah sebelumnya (Senin, 10/09) Bang Soleh memasukkan berkas ke keduataan Saudi. Dan (Selasa, 11/09) Bang Soleh dan Bang Labib didampingi oleh pejabat lokal staf KBRI bidang urusan ke-visa-an, Pak Arif meluncur menuju kedutaan Saudi. Lobi-lobi sulit dihindari di sana. Akhirnya (rabu, 12/09) yang ditunggu-tunggu turun juga. Alhamdulillah berkat kerja keras, doa dan solawat teman-teman Temus 2012 yang hanya didengar antar Rabb dan dirinya saja di tengah malam nan sunyi. Sidi Hassan nongol dari balik pintu kantor Pak Arif seraya berkata “Shofi? Yalla namsyi”

Kamis malam,  22.00 GMT, 13 Sept 2012                                                                                                                                                                           Tiket Pesawat

Bang Muhammad Firmansyah Waruwu membawa kabar gembira; tiket pesawat akhirnya kelar. Alhamdulillah.  Ada dua opsi awalnya; Pertama tawaran dari Mas Shohib, di kota Kenitra sebuah travel menawarkan harga 8200 MAD Dirham, PP. begasi 46 Kg. tapi berangkatnya tgl 19. Salah seorang senior PPI yang sekarang menjadi lokal staf di KBRI bidang keuangan atau bendahara, Pak Mas’ud Thahir. Seorang yang tidak banyak bicara tapi banyak kerja dan suka membantu. Beliau memiliki travel di Indonesia. Alhamdulillah setelah beliau kita mohon bantuannya akhirnya beliau bersedia membantu urusan tiket kita. Berangkat tanggal 17/09,  jam 11.00 GMT. Dengan bagasi 35 Kg.

Tiket yg one way ada 4; Sholehudin, Guntara, Firmansyah dan Labib. Harganya 5468 Dirham perkepala. Dan yang return ada 6; Shohibul, Burhan, Ila, Alvian, Magfirotul/Avi, Kholdun. Harganya 8407 MAD. Yang return akan kembali tanggal 02/12 sampai di Maroko tgl 03/12 jam 08.30 pagi insya Allah bi idznillah.

Jumat, 14 Sept 2012                                                       

Pamitan ke Pak Dubes

Sekitar jam 10.15 delegasi Temus Haji Maroko diterima oleh Bapak Dubes RI untuk kerajaan Maroko, H. Tosari Widjaja. Beberapa delegasi Temus ada yang langsung pulang ke tanah air setelah Temus karena mereka telah menyelesaikan studi S2nya. Pertama Bang Labib mengutarakan ucapan terima kasih atas motivasi dan bantuan KBRI selama ini dan memohon maaf atas segala khilaf. Berikutnya Bang Soleh mengutarakan hal yang hampir serupa tapi lebih panjang dan sistematis. Disusul oleh Wak (Firmansyah). Ada satu lagi yang mau boyong ke tanah air, tapi dia tidak bisa hadir, sebab harus menjalani sidang tesisnya di kota pendidikan, Fes. Ia adalah Guntara putra kebanggaan Depok.

Kepada yang hendak boyong Pak Dubes berpesan untuk dapat melanjutkan pendidikannya dan berkiprah di tanah air atau kembali lagi. Dan untuk tidak lupa mengirimkan undangan pernikahan hahahihi… semua tertawa di ruangan pertemuan KBRI pagi jumat itu. Beliau berpesan kepada delagasi untuk profesional dalam berkhidmat kepada para jamaah. Dan meniatkan Temus semata-mata untuk Allah (ibadah).

Senin, 17 Sept 2012

Meluncur ke Aeroport Mohamed V

Kesepuluh delegasi bertolak ke bandara Internasional Maroko dari sekretariat tercinta PPI Maroko jam 05.30. Camion yang dikemudikan Sidi Kodir sedia mengantarkan mereka di pagi buta.

~aiz~

Posted by: alvianiqbal | August 27, 2012

Syarat Menjadi Pemimpin

Syarat Menjadi Pemimpin*

Montgomery mendefinisikan leadership (kepemimpinan), “Kemampuan dan kemauan untuk menggerakkan laki-laki dan perempuan agar sama-sama berusaha mencapai suatu tujuan bersama”.

Ada tujuh sifat dalam kepemimpinan yang merupakan ciri-ciri fundamental:

1.    PD [Percaya Diri]

Jika seseorang pemimpin tidak percaya pada diri sendiri, dari siapa lagi dia mengharapkan? PD di sini merupakan suatu keyakinan atas kepandaian dan kemampuan diri sendiri yang berdasarkan pada pendidikan dan pengalaman.

2000 tahun yang lalu, Hannibal yakin bahwa dia bisa memimpin pasukan yang terdiri dari 60.000 orang dan puluhan gajah menerobos badai salju yang ganas lewat pegunungan Alpen untuk menyerang Roma dalam salah satu kisah penyerbuan yang paling berani dalam sejarah manusia.

Kepercayaan pada diri sendiri itu telah dipupuk dan ditanamkan oleh ayahnya. Jenderal besar Chartago Hamilcar telah mengajar putranya dalam kemahiran taktik dan strategi hingga Hannibal sebagai pemimpin perang dalam zamannya tidak menemui tandingannya.

Berbeda dengan kata orang-orang dulu bahwa pemimpin-pemimpin dilahirkan dan bukan dibuat, ternyata bahwa keahlian kepemimpinan nyatanya dapat diajarkan, dipupuk dan bisa dikuasai oleh seseorang.

2.    Inisiatif

Apalah artinya seorang pemimpin yang tidak mempunyai inisiatif dan daya cipta. Tidaklah dapat dikatakan pemimpin sekiranya sang pemimpin hanya menunggu-nunggu aksi dari anak buah dan baru ditanggapi.

Inisiatif pemimpin sangat memegang peranan. Barangkali di dunia akan terus berkobar peperangan yang dahsyat sekiranya Roosevelt tak berinisiatif untuk membentuk persekutuan dunia yang kemudian lahir dengan Preambule Atlantik Charter.

Maka suatu organisasi, partai atau serikat buruh akan hidup sekiranya pemimpinannya mempunyai inisiatif di samping kemampuan menyelesaikan problem-problem dari bawah.

3.    Energi

Seorang pemimpin harus bersedia melakukan segala sesuatu yang dituntut anak buahnya. Bahkan lebih daripada itu ia harus bisa bekerja lebih keras, bisa memusatkan perhatian lebih lama, bisa menahan lebih lama, bisa menahan lebih lama banyak bahaya, memikul beban tambahan, menempuh jarak lebih jauh, artinya berani menanggung resiko. Energi ini datangnya dari dalam.

John Wesley, pendiri Methodis orangnya berbadan kecil. Tinggi badannya hanya 1,60 M. tetapi tiap pagi ia bangun jam 4, acapkali jam 5 ia sudah bergerak dan berkhutbah. Tiap tahun ia melakukan perjalanan berkuda lebih dari 8000 KM. dan berkhutbah kepada siapa pun yang mau mendengarkannya.

Malam hari ia menulis buku atau menciptakan lagu-lagu. Selama hidupnya 87 tahun, ia sangat sedikit sekali ngaso (istirahat). Energy yang dimiliki dicurahkan untuk berbuat kebaikan, dan dia mampu mengendalikan diri. Oleh karena itulah banyak orang mencintai John Wesley dan mengikutinya.

4.    Menentukan Sikap Dengan Waktu Yang Tepat

Sifat ini merupakan suatu percampuran sifat waspada, sebagian daya cipta dan melihat ke depan. Jadi perasaan juga sangat berharga dan menentukan. Presiden AS, Woodrow Wilson menulis, “Tidak akan pernah berhasil memimpin orang-orang yang hidup sezamannya.”

Karir Wilson sendiri memberikan bukti luar biasa mengenai ini. Ia telah memimpin AS masuk ke dalam PD I ketika negerinya telah siap, dan bukan sebelumnya. Tetapi kemudian, ketika ia mau memaksakan ikutsertanya AS dalam Volkenbound, UNO sebelum PD II, negerinya belum mencapai saatnya (timingnya) kurang pas, dan usahanya itu akhirnya mengalami kegagalan total.

Pemimpin yang sama, negerinya sama, tetapi saatnya salah, tidak mempunyai perasaan menentukan sikap dan waktu yang tepat adalah tidak berbeda dengan rencana Gestapu/PKI. Berantakan!

5.    Kejernihan Berpikir

Seorang pemimpin harus dapat:

  1. Berpikir logis
  2. Menimbang-nimbang berbagai ihtimalat (kemungkinan)
  3. Mengambil keputusan-keputusan
  4. Mengutarakan pikiran dan ide-idenya secara jelas dalam kata-kata.

Kata Pericles, “Seseorang yang pandai berpikir tetapi tidak pandai mengutarakan apa yang dipikirkannya ke dalam kata-kata sama saja dengan orang yang tidak pandai berpikir”.

Teringat kata Amin Rais dulu sewaktu penulis baca di sebuah Koran, “Mahasiswa itu harus bisa mengutarakan pikiran dan ide-idenya melalui lisan dan tulisan.” Dari sini dipahami bahwa seseorang yang tidak bisa mengekspresikan pikirannya melalui lisan dan tulisan bukan mahasiswa dalam arti yang sebenarnya.

Berpikir secara runtut akan menambah simpati anak buah di samping perasaan segan dan dihormati oleh lawan-lawan serta dapat menunjukkan kedewasaannya.

6.    Kegigihan

Ketabahan, demikian kata orang adalah kemampuan untuk bertahan lebih lama lagi barang lima menit. Sedang pemimpin tidak saja harus memiliki sendiri sifat ini, ia harus juga bisa mengilhamkannya pada oran lain.

Mungkin salah seorang pemimpin handal di zaman kita(Pak Dubes Muda) adalah Sir Winston Churchill yang tidak pernah ragu-ragu mengatakan hal-hal senyatanya kepada rakyat/bawahannya, meskipun sering kali mengejutkan. Seorang Inggris pernah berkata tentang Churchill, “Saya kira di dalam sejarah tidak pernah ada orang yang mengatakan hal-hal yang demikian mengerikan, namun dapat memberikan rakyatnya perasaan dan semangat yang demikian besarnya.”

Jadi Jelas bahwa suatu program baru berhasil dan sukses apabila ada perjuangan yang gigih dari pemimpin dan dapat meyakinkan anak buahnya.

7.    Keberanian

Mungkin kata yang lebih tepat adalah kenekatan. Sifat laki-laki yang kuat ini mirip dengan sifat berani tetapi lebih dinamis. Ia keluar dalam bentuk kecenderungan untuk meraih kesempatan yang timbul, kesediaan untuk mencoba-coba, suatu sifat optimis yang menjulang tinggi yang menolak dan benci pada pikiran akan kegagalan.

Apa jadinya negeri ini sekiranya tidak ada keberanian berbuat dari pemuda-pemudi di saat yang kritis di mana Gestapu/PKI akan menggulingkan pemerintahan.

Pemimpin-pemimpin tertinggi selalu mempunyai sifat ini. Theodore Roosevelt sangat menghargainya. Katanya, “Jauh lebih baik untuk berani melakukan hal-hal besar, mendapatkan hasil-hasil gemilang, meskipun diselingi dengan kegagalan-kegagalan, daripada menggabungkan diri dengan jiwa-jiwa kerdil, kompromis, yang tidak banyak mendapatkan kesenangan tetapi juga tidak banyak menderita, karena mereka hidup dalam bayangan samar-samar yang tidak kenal kemenangan maupun kekalahan.”

Demikianlah sekedar sumbangan pikiran yang sengaja saya tumpahkan kepada calon-calon kader organisasi yang terbaik. Mudah-mudahan banyak memberi manfaat. Barangkali sumbangan pikiran ini tidak banyak berharga, tetapi lebih tidak berharganya apabila tidak berbuat sama sekali. Oleh karena itu marilah berbuat dan berkarya, perjuangan insya Allah sukses.[]


*Disarikan dan sedikit diutak-atik dari Otobiografi Tosari Widjaja, Karir Politik Anak Desa, Hal. 393-398

Artikel ini disampaikan oleh Pak Tosari pada acara pendidikan Kader IPNU-IPPNU, Jakarta 22 Maret 1968

Posted by: alvianiqbal | August 25, 2012

Aku bawakan

aku bawakan bunga padamu
tapi kau bilang masih

aku bawakan resahku padamu
tapi kau bilang hanya

aku bawakan darahku padamu
tapi kau bilang cuma

aku bawakan mimpiku padamu
tapi kau bilang meski

aku bawakan dukaku padamu
tapi kau bilang tapi

aku bawakan mayatku padamu
tapi kau bilang hampir

aku bawakan arwahku padamu
tapi kau bilang kalau

tanpa apa aku datang padamu
wah!

~ Sutardji Calzoum Bachri, 1981

Posted by: alvianiqbal | March 8, 2012

نحن والميراث النبوي (13)

د. عبد الحميد عشاق، Dr. Abdelhamid Achak

عضو المجلس الأكاديمي للرابطة

       قال الله تقدست أسماؤه: “مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتِمَ النَّبِيِينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا” [الاَحزاب، 40].

       إن معرفة النبي صلى الله عليه وسلم، ومعرفة شأنه، ومعرفة الخصائص الثابتة له في نفسه، ومعرفة آثاره في دين الله، ركن أساس وشرط ضروري للإيمان بنبوته صلى الله عليه وسلم، ومحبته واتباعه، واتباع النور الذي أنزل معه. فهاهنا ثلاثة أمور ضرورية متكاملة متلازمة يتوقف عليها تجديد صلتنا برسول الله صلى الله عليه وسلم:

       الأول: المعرفة؛

       والثاني: المحبة؛

       والثالث: الاتباع.

       فلا يمكن أن نتصور اتباعا صحيحا كاملا لهذا النبي دون محبته، ولا تتصور محبته دون معرفته، فالمعرفة هي الركن الأساس في هذه المعادلة؛ وفي علاقة كل مسلم بشخص النبي صلى الله عليه وسلم، وهي الأساس في تحقيق شهادتنا أن محمدا رسول الله صلى الله عليه وسلم، وأذكر هنا أن أحد  علماء العراق وهو صلاح الدين المنجد جمع كتابا ضخما سماه “معجم ما ألف عن رسول الله صلى الله عليه وسلم” قدم له بقوله: “كنت أحاول الإحاطة والشمول، وأتمنى ألا يفوتني اسم كتاب، ولكني رأيت أن ذلك الكمال لا يدرك، ولو قضيت ما تبقى من عمري في ذلك لما انتهيت، فما ألف عن رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يحد”. ترى ماذا قرأنا، أيها الأفاضل، أو كم قرأنا من هذا الزخم الهائل مما ألف عن رسول الله مما لا يحد؟

       أريد أن أقول إننا بحاجة ماسة وضرورة حاقة لأن نقرأ سيرة المصطفى صلى الله عليه وسلم، وأن نتأمل سنته وهديه ومنهجه في الحياة.. ومما يؤسف له أن كثيرا من الناس لا يعرفون من السيرة النبوية إلا الغزوات كأنه صلى الله عليه وسلم كان مجرد مقاتل، أو كأن الإسلام مشروع قتال فحسب؟ وهكذا أهملت الجوانب الحضارية المشرقة في الهدي النبوي؛ والقرآن الكريم عندما تحدث عن النبي لم يذكره بصفته مجاهدا فحسب، ولكن كذلك بصفته الأصلية والغالبة حاملا للنور.. جاء يحمل النور للعالم، ويزكي الأنفس، ويعلم الكتاب والحكمة “هُوَ الَذِي بَعَثَ فِي الاُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَة” [الجمعة، 2].

           قالوا غَزَوتَ وَرُســلُ اللَهِ مــا بُعِثوا          لِقَتلِ نَفسٍ وَلا جاؤوا لِسَفــكِ دَمِ

           جَهْلٌ وَتَضْلِيلُ أَحْلامٍ وَ سَـفْسَـطَةٌ          فَتَحْتَ بِالسَّيْفِ بَعْـدَ الْفَتْحِ بِالْقَلَـمِ

      لقد جاء النبي صلى الله عليه وسلم بكتاب افتتح بقوله تعالى: “اَقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ  خَلَقَ الاِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الاَكْرَمُ الَذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ” [العلق، 1-4] القلم هو البداية؛ وهو رمز المعرفة، وحضارة العلم، وتنوير العقل، وتزكية الضمير.. استمع إلى القرآن وهو يخاطبه بقوله تعالى: “وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ” [القلم، 4]. “وَكَانَ فَضْلُ اللّهِ عَلَيْكَ عَظِيماً” [النساء، 112] لأن اسمه صلى الله عليه وسلم يذكر في كل يوم وفي كل آذان وفي كل إقامة وفي كل صلاة حينما يقول المكلف “السلام عليك أيها النبي” لتؤكد انتماءك إليه، وأنك واحد من الأمة التي اهتدت على يديه، وأنك تتحرك في بيداء الحياة على نور رسالته “السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته، السلام علينا وعلى عباد الله الصالحين “فلا تخلو لحظة من لحظات الكون من ذكره عليه الصلاة والسلام؛ وهذا تصديق لقوله تعالى “ورفعنا لك ذكرك” وانظر إلى سمو هذا الخطاب الجليل “يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِّمَّا كُنتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ” [المائدة، 16]. “وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ” [المائدة، 17].

       الكتاب المبين هو القرآن، فما النور؟ إنه رسول الله صلى الله عليه وسلم الذي يهدي به الله من اتبع رضوانه سبل السلام، وطريق الإصلاح، ويخرجهم من الظلمات إلى النور بإذنه، ويهديهم إلى صراط مستقيم. هل تأملتم هذه الغايات الثلاث التي ما فتئ القرآن يذكر بها في غير ما موضع: الهداية إلى سبل السلام، والإخراج من الظلمات إلى النور، والهداية إلى صراط مستقيم.

       وتوضيحا لمختلف جوانب الشخصية النبوية، وتعريفا بأنواع المقامات التي يصدر عنها التصرف النبوي قال شهاب الدين القرافي رحمه الله: “اعلم أنَّ رسول الله صلى الله عليه وسلم هو الإمام الأعظم، والقاضي الأحكم، والمفتي الأعلم؛ فهو صلى الله عليه وسلم إمام الأئمة، وقاضي القضاة، وعالم العلماء؛ فجميع المناصب الدينية فوضها الله تعالى إليه في رسالته.. غير أنَّ غالب تصرّفه صلى الله عليه وسلم بالتبليغ؛ لأنَّ وصف الرسالة غالب عليه، ثم تقع تصرفاته صلى الله عليه وسلم:

       منها ما يكون بالتبليغ والفتوى إجماعاً [كإبلاغ الصلوات، وإقامتها، وإقامة مناسك الحج]؛

       ومنها ما يُجمع النَّاس على أنَّه بالقضاء [كإلزام أداء الديون، وتسليم السلع، وفسخ الأنكحة]؛

       ومنها ما يُجمع النَّاس على أنَّه بالإمامة [كإقطاع الأراضي، وإقامة الحدود، وإرسال الجيوش]؛

       ومنها ما يختلف العلماء فيه [ كإحياء الموات، والاختصاص بالسلب لمن قتل الحربي]؛ لتردُّده بين رتبتين فصاعداً، فمنهم من يُغلِّب عليه رتبة، ومنهم من يُغَلِّب عليه أخرى .

       ثم تصرفاته صلى الله عليه وسلم بهذه الأوصاف تختلف آثارها في الشريعة؛ فكان ما قاله صلى الله عليه وسلم أو فعله على سبيل التبليغ كان ذلك حكماً عاماً على الثقلين إلى يوم القيامة..

       وكل ما تصرف فيه عليه السلام بوصف الإمامة، لا يجوز لأحد أن يُقدم عليـه إلا بإذن الإمام.. وما تصرف فيـه بوصف القضاء، لا يجوز لأحد أن يُقدم عليه إلا بحكم حاكم..” الفروق (206-1).

       وزيادة في بيان وإبراز هذه الجوانب المتعددة بتعدد النشاط الإنساني،  تنوعت مصنفات العلماء وتواليفهم في تناول هديه وسيرته صلى الله عليه وسلم. ومن ذلك عنايتهم بموضوع الخصائص التي تنصب على تقري وتتبع ما اختص به صلى الله عليه وسلم من أمور تشريعية وقيمية.

       فمن خصائصه عليه الصلاة والسلام أن آيته الكبرى تتجلى في كتابه كما في الحديث الصحيح الذي رواه البخاري في كتاب الاعتصام بالكتاب والسنة: فعن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “ما من الأنبياء نبي إلا أعطي من الآيات ما مثله أومن أو آمن عليه البشر وإنما كان الذي أوتيت وحيا أوحاه الله إلي فأرجو أني أكثرهم تابعا يوم القيامة” [6846 ]. ويلحق بخصوصيات القرآن إعطاؤه خواتم البقرة ولم تعط لنبي قبله، وكذلك إعطاؤه سبعا من المثاني وهي فاتحة الكتاب لما رواه مسلم عن ابن عباس قال: “بينما جبريل قاعد عند النبي صلى الله عليه وسلم، سمع نقيضا من فوقه، فرفع رأسه فقال: هذا باب من السماء فتح اليوم لم يفتح قط إلا اليوم، فنزل منه ملك، فقال: هذا ملك نزل إلى الأرض لم ينزل قط إلا اليوم؛ فسلم وقال: أبشر بنورين أوتيتهما لم يؤتهما نبي قبلك: فاتحة الكتاب، وخواتيم سورة البقرة؛ لن تقرأ بحرف منهما إلا أعطيته”.

       يُتبع في العدد المقبل بحول الله تعالى..

Posted by: alvianiqbal | March 7, 2012

Sang Pencerah VS Sang Pencerca

Seusai menonton film besutan Hanung Bramantyo ini, penulis berusaha mengikat sekerat nilai-nilai moral yang menurut penulis bermanfaat dan penting, yang boleh jadi menurut pembaca, sebaliknya. Tapi itu tak menjadi soal. Yang terpenting adalah menulis apa yang bisa ditulis. Karena tidak akan berhenti dunia tulis-menulis ini hanya dengan pujian dan cercaan. Karena menulis hanyalah pengikatan ide-ide yang terserak di kepala dan hati yang diharapkan abadi nan rapi.

Pertama, Membaca. Dahlan muda membaca bukan sekedar buku, tetapi juga lingkungan masyarakat. Ia merasa janggal dan sangsi dengan kelakuan penduduk (orang Islam kejawen) Kauman kala itu. Ia berpola dengan menyembunyikan sesajen milik salah satu penduduk yang baru saja diletakkan di bawah rindang kayu besar yang dianggap oleh si pemberi sesajen mempunyai kekuatan. Dan ritual itu merupakan ritual lumrah di zaman Darwis (nama Dahlan muda sebelum berangkat haji).

Kedua, Dahlan memiliki istri yang solehah. Istri yang memilihnya dengan bukan dengan solat istikhoroh, bukan berarti istikhoroh itu tidak penting atau meremehkannya, tetapi karena Walidah, istri Dahlan sudah begitu yakin terhadap pilihannya. Ketika gelombang kehidupan menghantam rumah tangga mereka, ketika suami mulai redup api perjuangannya, sang istri menghalau gelombang, sang istri membawakan secerca cahaya harapan. Ia sulutkan cahaya itu pada sumbu api perjuangan sang suami tercinta.

Ketiga, pengembaraan merebut ilmu tidak cukup sekali hanya di Mekah, tetapi dua kali ia mengembara ke Mekah dilanjutkan Syiria dan negara-negara timur tengah lainnya yang merupakan basis ilmu keislaman. Ia tidak melulu membaca buku keislaman tapi juga merambah ke bacaan pergerakan.

Pembacaan Kyai Dahlan yang tanpa batas membuka cakrawala berpikirnya semampu otaknya menampung. Bahkan ia sendiri tidak tahu apakah yang ia lakukan itu benar. Karena yang mengetahui hakikat kebenaran hanyalah Allah Ta’ala. Ia hanya berusaha, berikhtiar mengamalkan yang ia telah ketahui. Ia mendirikan sekolah gratis dari uang saku pribadi dan keluarga. Ia juga mendirikan sebuah organisasi. Yang kemudian terkenal besar dengan Muhammadiyah (pengikut Kanjeng Nabi Muhammad).

Ia berpesan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah”. Artinya apa? Artinya berorganisasilah dengan ikhlas, tanpa digaji namum semangat mengabdi kepada ummat tetap tinggi. Hanya ridho Allah yang mereka cari. Pesan Kyai Dahlan ini singkat padat, lentur bisa dianalogikan dengan segala hal yang berbentuk lembaga apapun itu namanya. Silahkan kata “Muhammadiyah” pada pesan tersebut anda ganti dengan organisasi/lembaga anda masing-masing.

Dan tokoh ikhlas itu kini menitis/termanifestasi pada nama yang mirip, yakni Dahlan Iskan. Dahlan Iskan adalah orang Muhammadiyah yang telah tercerahkan oleh Ahmad Dahlan (walaupun mereka beda masa). Ia telah membuktikannya dengan menyulap PLN dengan profesionalismenya dan kesuksesan yang nyata dan sepeserpun ia tidak memungut gajinya, yang mana gaji itu adalah gaji dari APBN(R) RAKYAT INDONESIA. Lalu apakah ada pejabat Negara yang mau bekerja dengan tidak digaji? Wong cilik nyeletuk, “Lha wong digaji saja tidak bekerja, atau bolehlah ia bekerja, tapi apakah pekerjaannya maksimal? Atau para pejabat Negara itu malah tega main Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (menggunakan fasilitas Negara dan Rakyat demi anak, istri, cucu, cicit, dan keluarganya yang tak terkait dengan pekerjaan Negara alias pelesir)?”

Pesan lain dari Kyai Dahlan, “Jangan fanatik, karena fanatik itu ciri orang bodoh”. Ia tidak pernah menghalangi perbedaan. Ia menghormati perbedaan. Namun ia menentang aksi onar dan pengrusakan. Ia mudah bergaul dengan berbagai lapisan masyarakat bahkan dengan menir-menir kolonial, organisasi Boedi Oetomo dll.

Ia tidak kaget dengan sesuatu yang baru (yang datangnya dari Barat/orang kafir). Karena ia memandang sesuatu pada esensi bukan kulit. Contohnya ketika ia mendirikan Madrasah Diniyah Ibtidaiyah (Sekolah agama pemula) dengan menggunakan bangku, kursi, papan tulis dan instrument biola tak ayal seorang tokoh masyarakat (Kyai) memprotesnya. Karena mungkin tokoh tersebut tidak membaca apa yang Kyai Dahlan baca, tidak melihat apa yang Kyai Dahlan lihat. Perbedaan presepsi dan wawasan menyebabkan perselisihan yang seharusnya tidak terjadi. Pikiran Kyai Dahlan maju melesat meninggalkan pemikiran masyarakatnya yang terbelakang dan kolot. Ibarat lokomotif TGV dengan gerbong kereta ekonomi kelas teri.

Ia membuka mata masyarakat Kauman kala itu. Ia merubah presepsi masyarakat tentang Kyai, “Kyai itu bau, tidak pakai sepatu jika mengajar, dan pendidikan agamanya tidak up to date alias tidak kreatif dan monoton tidak sejalan dengan semangat kemajuan zaman”.Tapi Kyai Dahlan berhasil membawa Kauman ke arah perubahan yang signifikan, tidak sekedar urusan keagamaan tapi juga sosial, ekonomi dan politik kemerdekaan Indonesia. Maka tidaklah berlebihan jika ia disebut pahlawan dan sudah pas jika sineas Hanung Bramantyo menjuluki filmnya ini dengan Sang Pencerah.

Bagaimana dengan saya dan Anda? Apakah anda Sang Pencerah (solusi bangsa/umat/lingkungan) berikutnya? Atau Anda adalah Sang Pencerca (bagian dari masalah bangsa/umat/lingkungan)? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Ayo berubah! Ayo membaca ulang diri kita masing-masing! Tidak usah saling menyalahkan dan mengklaim kebenaran, karena kita semua salah kecuali kebenaran dan Yang Maha Benar. Wallahu A’lam Bis Sowab

Aula PPI Maroko, 07 Maret 2012, 02.00 GMT, edited at 03.53 AM
~AIZ~

Posted by: alvianiqbal | February 8, 2012

Salju di Maroko

Tidak saya sangka bahwa di Maroko ada salju. Anggapan itu muncul karena Maroko terletak di benua Afrika. Ternyata anggapan saya salah.

Tempat wisata di Maroko pada musim dingin yang acapkali dikunjungi oleh wisatawan sependek pengetahuan saya ada dua. Pertama, Oukaimeden. Sebuah daerah pegunungan yang terletak di kota Marakech. Kedua, Ifrane. Kota kecil yang baru dibangun tahun 1930 M. Orang-orang Maroko menyebutnya sebagai Swiss-nya Maroko, karena arsitektur perumahannya seperti rumah-rumah di Eropa. Yakni berbentuk runcing dan memakai genteng. Sedangkan perumahan kota-kota lain di Maroko berarsitektur kotak-kotak (flat) tak menggunakan genteng.

Masing-masing dari kedua tempat wisata tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Sesuatu yang tidak ditemukan di Ifrane adalah kereta gantung. Kereta ini hanya didapatkan di Oukaimeden. Jadi, pelancong yang ingin merasakan naik kereta gantung di atas hamparan salju dipersilahkan memilih Oukaimeden. Sedangkan bagi turis yang ingin menikmati keindahan kota-kota layaknya di Eropa dianjurkan memilih kota Ifrane. Sebuah kota kecil yang tenang nan cantik dilengkapi dengan pepohonan ala Eropa dan taman-taman yang bersahaja. Inilah yang tidak dimiliki oleh Oukaimeden. Oukaimeden hanya pegunungan yang bersalju dan sedikit perumahan khas maroko (flat) layaknya rumah-rumah kebanyakan di negara-negara Arab.

Ketika wisatawan di musim dingin mengunjungi kota Ifrane disayangkan jika tidak mampir ke daerah Mischliffen dan hutan Cedres. Kedua tempat itu terletak tidak jauh dari kota Ifrane. Tepatnya di selatan Ifrane. Di kedua tempat tadi pelancong di musim dingin dimanjakan dengan lautan salju dan pohon-pohon cemara yang berselimut putihnya salju. Mereka juga bisa berselancar-ria di kaki bukit-bukit salju. Masih banyak daerah bersalju di Maroko ketika musim dingin tiba. Seperti daerah pegunungan Atlas dan dataran-dataran tinggi lainnya. Biasanya salju mulai turun di akhir bulan Januari dan awal Februari.

Inilah keistimewaan wisata di kerajaan Maroko. Di negara ini wisatawan disamping dimanjakan dengan lautan pasir sahara. Mereka juga dimanjakan dengan lautan salju. Di musim semi, wisatawan dimanjakan dengan bunga-bunga yang merekah. Sedangkan di musim panas, mereka dapat melancong ke daerah pantai, seperti Tanger, Tetouan dan Agadir. Di musim panas, bagi yang mempunyai hafalan Quran disarankan untuk tidak pergi ke daerah-daerah wisata pantai. Karena tidak sedikit turis domestik maupun asing berjemur di sana. Ironisnya, kata teman saya yang sudah lama di Maroko menceritakan pengalamannya, “Saya pernah lihat gadis pakai bikini, eh ibunya di sampingnya memakai kerudung”.

Di Maroko jika musim panas tiba, mesti kuat-kuat iman dan jaga pandangan. Pasalnya tidak sedikit di jalanan kita melihat aurat-aurat yang terbuka bebas dan ketat.

 

Hikmah Salju

Pelajaran apa yang dapat kita petik dari salju? Tentu Allah Ta’ala tidak pernah main-main dalam menciptakan makhluknya. Mungkin pertama kita bisa mempertanyakan kepada diri sendiri bagaimana proses terbentuknya salju? mengapa di Indonesia tidak ada salju? (Kecuali di beberapa tempat di Papua). Untuk pertanyaan ini pembaca bisa membaca sendiri jawabannya dengan lengkap di internet. Diharapkan dari pembacaannya dapat menarik kesimpulan bahwa Allah Maha Agung. Lalu mengagungkan-Nya dan mengucapkan Subhanallah al-Adzim, ma kholaqta hadza batila (Maha Suci Allah Yang Maha Agung, Tak Kau ciptakan ini dengan sia-sia).

Pelajaran kedua dari salju adalah bahwa kita mampu menahan dinginnya salju yang 0 derajat celcius di tempat-tempat wisata. Di sisi lain kita tidak mampu menahan suhu 5 derajat celcius di tempat-tempat non wisata. Mengapa demikian? Menurut saya, ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena adanya niat untuk melawan dingin demi tasliyah (perjalanan wisata). Kedua karena hati kita riang gembira di tengah kedinginan.

Andaikan kedua alasan tersebut diterapkan kepada pelajar-pelajar dan pekerja-pekerja asing (Indonesia) insya Allah mereka dapat belajar dan bekerja dengan tenang. Dalam artian ketika mereka dituntut bekerja, kuliah dan atau ujian di musim dingin kemudian mereka berniat untuk melawan rasa dingin tersebut dan menjalaninya dengan senang hati (layaknya saat berwisata di Oukaimeden atau Ifrane) insya Allah kedinginan itu terasa ringan. Orang bijak mengatakan, “Semua pekerjaan jika dikerjakan dengan senang hati, akan terasa ringan”. Bagaimana menurut anda?

 

Universitas Al Akhawayne

Di kota Ifrane sebaiknya kita meluangkan waktu untuk studi banding dengan Universitas Al Akhawayne. Sebuah universitas yang terkenal di Maroko dengan bayarannya. Maksudnya, [hampir] semua sekolah dan kampus milik pemerintahan Kerajaan Maroko gratis bahkan para [maha]siswa tiap bulannya menerima beasiswa. Nah, di Universitas ini sebaliknya. Para [maha]siswanya harus membayar mahal. Mungkin karena dikelola swasta dan bertaraf internasional dengan menggunakan bahasa pengantar Arab-Prancis-Inggris dan multikultur. Saya belum tahu persis tentang Universitas ini dan saya juga belum pernah kesana. Semoga lain waktu saya dan PPI Maroko bisa berkunjung ke sana, siapa tahu ada buku-buku menarik di perpustakaan sana. Lebih lengkapnya silahkan diklik http://www.aui.ma/en/

 

Proses Terjadinya Salju

Di atas, penulis telah menganjurkan kepada pembaca untuk searching sendiri perihal proses terjadinya salju. Namun setelah penulis pikirkan alangkah baiknya jika saya copy-paste langsung saja. Dari pencarian di internet mungkin ini sumber yang terbaik dan yang menjadi rujukan di berbagai blog. http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?fenomena&1172922307&1Salju,

Fenomena Alam yang Menakjubkan: Cintaku Sehangat Salju

Oleh: Febdian Rusydi (Rijksuniversiteit Groningen)

Saat ini di Eropa dan wilayah utara bumi tengah musim dingin.Salah satu fenomena menarik saat musim dingin adalah salju. Menjadi unik karena kristal-kristal es yang lembut dan putih seperti kapas ini hanya hadir secara alami di negeri empat musim atau di tempat-tempat yang sangat tinggi seperti puncak gunung Jayawijaya di Papua. Kenapa salju secara alami tidak bisa hadir di wilayah tropis seperti negeri kita?

Proses Pembentukan Salju

Untuk menjawab itu, bisa kita mulai dari proses terjadinya salju. Berawal dari uap air yang berkumpul di atmosfer Bumi, kumpulan uap air mendingin sampai pada titik kondensasi (yaitu temperatur di mana gas berubah bentuk menjadi cair atau padat), kemudian menggumpal membentuk awan. Pada saat awal pembentukan awan, massanya jauh lebih kecil daripada massa udara sehingga awan tersebut mengapung di udara – persis seperti kayu balok yang mengapung di atas permukaan air.

Namun, setelah kumpulan uap terus bertambah dan bergabung ke dalam awan tersebut, massanya juga bertambah, sehingga pada suatu ketika udara tidak sanggup lagi menahannya. Awan tersebut pecah dan partikel air pun jatuh ke Bumi.Partikel air yang jatuh itu adalah air murni (belum terkotori oleh partikel lain). Air murni tidak langsung membeku pada temperatur 0 derajat Celcius, karena pada suhu tersebut terjadi perubahan fase dari cair ke padat.

Untuk membuat air murni beku dibutuhkan temperatur lebih rendah daripada 0 derajat Celcius. Ini juga terjadi saat kita menjerang air, air menguap kalau temperaturnya di atas 100 derajat Celcius karena pada 100 derajat Celcius adalah perubahan fase dari cair ke uap. Untuk mempercepat perubahan fase sebuah zat, biasanya ditambahkan zat-zat khusus, misalnya garam dipakai untuk mempercepat fase pencairan es ke air.Biasanya temperatur udara tepat di bawah awan adalah di bawah 0 derajat Celcius (temperatur udara tergantung pada ketinggiannya di atas permukaan air laut). Tapi, temperatur yang rendah saja belum cukup untuk menciptakan salju. Saat partikel-partikel air murni tersebut bersentuhan dengan udara, maka air murni tersebut terkotori oleh partikel-partikel lain.

Ada partikel-partikel tertentu yang berfungsi mempercepat fase pembekuan, sehingga air murni dengan cepat menjadi kristal-kristal es.Partikel-partikel pengotor yang terlibat dalam proses ini disebut nukleator, selain berfungsi sebagai pemercepat fase pembekuan, juga perekat antaruap air. Sehingga partikel air (yang tidak murni lagi) bergabung bersama dengan partikel air lainnya membentuk kristal lebih besar.Jika temperatur udara tidak sampai melelehkan kristal es tersebut, kristal-kristal es jatuh ke tanah. Dan inilah salju! Jika tidak, kristal es tersebut meleleh dan sampai ke tanah dalam bentuk hujan air.

Pada banyak kasus di dunia ini, proses turunnya hujan selalu dimulai dengan salju beberapa saat dia jatuh dari awan, tapi kemudian mencair saat melintasi udara yang panas. Kadang kala, jika temperatur sangat rendah, kristal-kristal es itu bisa membentuk bola-bola es kecil dan terjadilah hujan es. Kota Bandung termasuk yang relatif sering mengalami hujan es.

Jadi, ini sebabnya kenapa salju sangat susah turun secara alami di daerah tropik yang memiliki temperatur udara relatif tinggi dibanding wilayah yang sedang mengalami musim dingin.Struktur unik saljuKristal salju memiliki struktur unik, tidak ada kristal salju yang memiliki bentuk yang sama di dunia ini (lihat Gambar SnowflakesWilsonBentley.jpg) – ini seperti sidik jari kita.

Bayangkan, salju sudah turun semenjak bumi tercipta hingga sekarang, dan tidak satu pun salju yang memiliki bentuk struktur kristal yang sama!Keunikan salju yang lainnya adalah warnanya yang putih. Kalau turun salju lebat, hamparan bumi menjadi putih, bersih, dan seakan-akan bercahaya. Ini disebabkan struktur kristal salju memungkinkan salju untuk memantulkan semua warna ke semua arah dalam jumlah yang sama, maka muncullah warna putih.

Fenomena yang sama juga bisa kita dapati saat melihat pasir putih, bongkahan garam, bongkahan gula, kabut, awan, dan cat putih.Selain itu, turunnya salju memberikan kehangatan. Ini bisa dipahami dari konsep temperatur efektif. Temperatur efektif adalah temperatur yang dirasakan oleh kulit kita, dipengaruhi oleh tiga besaran fisis: temperatur terukur (oleh termometer), kecepatan pergerakan udara, dan kelembapan udara. Temperatur efektif biasanya dipakai untuk menentukan “zona nyaman”. Di pantai, temperatur terukur bisa tinggi, namun karena angin kencang kita masih merasa nyaman. Pada saat salju turun lebat, kelembapan udara naik dan ini memengaruhi temperatur efektif sehingga pada satu kondisi kita merasa hangat.

Jadi, Anda bisa mengirim ungkapan romantis kepada teman Anda, “cintaku sehangat salju”. Kalau dia tidak paham, kesempatan untuk Anda menjelaskan fenomena ini. Fisika pun bisa menjadi senjata yang andal bagi mereka yang sedang pedekate.***

Gambar: Contoh-contoh bentuk kristal salju yang diambil oleh Wilson Bentley pada tahun 1902.

Gambar diambil dari situs wikipedia.org.Sumber : Pikiran Rakyat (28 Desember 2006)

 

Posted by: alvianiqbal | February 5, 2012

Menulis Itu Berkah

Berangkat dari pengalaman pribadiku. Kutumpahkan pengalaman tersebut di lembar-lembar kertas. Karena menurutku—dan menurut para penulis—menulis itu membawa berkah.

Beberapa bulan yang lalu di musim panas (juli-agustus) saya diminta menulis oleh seorang teman (Burhan) tentang pengalaman mendapat beasiswa ke Maroko. Gayung bersambut, kebetulan saya juga berhasrat mengabadikan momen lika-liku pencarian beasiswaku, siapa tahu dibaca orang lain khususnya mereka yang ingin mencari beasiswa ke Maroko atau negara lain.

Ternyata benar firasatku. Setelah artikelku dimuat di internet—laman Motivasi-Beasiswa, Website PPI Maroko dan jejaring sosial—berdatangan permintaan nasehat, cara, trik-trik dan file terkait proposal beasiswa yang aku raih. Bahkan aku diminta artikel oleh Universitas UGM Jogjakarta Fakultas Hubungan Internasional yang nantinya dimuat di majalah nasional Airport.

Pujian ini merupakan anugerah yang sangat saya syukuri tanpa membusungkan dada. Betapa bahagianya ketika mendengar saudara-saudara sebangsaku mengucapkan “Ustad Alvian, tulisan antum bagus. Saya harus meningkatkan belajarku. Saya sangat termotivasi dengan tulisan antum”. Ada juga yang menyampaikan “Bagaimana mendapatkan beasiswa tersebut? Kirimin file proposalnya dong! Terima kasih”.

Keberkahan tersebut adalah kebahagian saat berbagi pengalaman dan ilmu kepada orang lain. Prinsip ini didasari firman Allah Ta’ala “Saling tolong menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa” (QS. Al-Maidah: 2).

Keberkahan lainnya tidak sekedar kebahagian rohani, namun juga ekonomi. Bisa saja dan saya pastikan bahwa para penulis handal mendapatkan uang dari tulisannya. Dengan cara menulis, membukukannya lalu dipasarkan melalui penerbit yang kemudian sang penulis mendapatkan royalti dari penerbit setiap kali bukunya terjual. Wah, apalagi jika bukunya best-seller alias laku keras.

Keberkahan berikutnya adalah keliling dunia. Penulis handal bakal kebanjiran jobs dan undangan, seperti mengisi seminar, bedah buku, workshop, lokakarya, pelatihan menulis di belahan bumi Allah ini baik dalam maupun luar negeri. Contohnya, pada bulan Ramadan beberapa tahun silam, penulis perempuan idolaku, Asma Nadia—yang sekarang (mulai Januari 2012) diminta menulis di Resonansi (rubrik favoritku di koran Republika)—diundang ke luar negeri, kalau tidak salah di Eropa untuk mengikuti pelatihan menulis. Subhanallah. Gratis jalan-jalan ke luar negeri mendapat ilmu pula. Sungguh luar biasa keberkahan menulis.
Hampir serupa dengan keberkahan yang di atas, keberkahan yang dinikmati oleh guru saya, Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yakub pada bulan Ramadan beberapa tahun yang lalu mendapat undangan safari dakwah dari perwakilan ICMI di Amerika. Safari dakwah ini merambah ke 15 kota besar di Amerika. Saya yakin, faktor safari tersebut salah satunya karena berkah dari menulis. Karya tulis beliau sekarang sudah mencapai 30an. Dan waktu beliau safari ke USA ia mendapati beberapa bukunya berada di rak warga Indonesia yang berada di sana.
Ada pesan menarik dari guruku di atas tentang berkah menulis. Selepas subuh berjamaah, saat saya mengaji di Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah, beliau mengatakan bahwa Imam As-Syafi’i tidak akan dikenal jika ia wafat tidak meninggalkan Al-Umm. Begitu juga Imam Al-Ghozali, orang-orang setelahnya tidak bakal mengenalnya jikalau ia tidak menulis Ihya’ Ulumuddin. Kemudian guru saya di atas memberikan fatwa “nyentrik” kepada santri-santrinya terkait aktivitas tulis-menulis, “Wala tamutunna Illa wa antum Katibun (Dan janganlah kalian meninggal kecuali dalam status sebagai muslim)”. Nah, inilah yang saya sebut “fatwa nyentrik”, tahu kenapa? Karena fatwa tersebut serupa dengan sebuah ayat Alquran yang sangat akrab di telinga kita, yang artinya “Wala tamutunna Illa wa antum Muslimun (Dan janganlah kalian meninggal kecuali dalam status sebagai muslim)”.
Pesan kedua beliau dinukil dari sebuah syair Arab,

الخط يبقى زمانا بعد صاحبه # وصاحب الخط تحت الأرض مدفون
Tulisan itu akan abadi sepeninggal penulisnya
Sedangkan penulisnya di bawah tanah terkubur

Masih banyak keberkahan-keberkahan lain yang menarik dan mengasyikkan. Tetapi keberkahan hakiki yang paling menggiurkan adalah keberkahan dari Tuhan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jika penulis ikhlas insyaAllah “Nanti di hari kiamat tinta penulis akan ditimbang seberat tinta syuhada”. Jika Syuhada berjihad dengan pedang maka penulis berjihad melalui pena. Wallahu A’lam bis Showab

Kantor PPI Maroko, 5 Feb 2012, jam 21.25
~AIZ~

 

 

Posted by: alvianiqbal | February 3, 2012

Bu Dubes Yang Saya Kenal

Refleksi 40 hari wafatnya Ibu(ku) Makhsusoh Ujiati

Tidak lama saya mengenalnya. Dialah Ibuku, ibu semua warga Indonesia di Kerajaan Maroko, (Almh.) Mahsusoh Ujiati. Sekitar satu tahun sekian bulan saya mengenalnya. Terhitung dari pertama kali kakiku menginjakkan bumi Maroko (27 Sept 2010).

Namun perkenalan yang pendek itu sangat berkesan dalam bagiku. Berikut ini akan saya utarakan seikat kuntum pengalaman-pengalamanku dengannya.

Ia adalah sosok yang agamis. Setiap hari jumat ia selalu menggelar pengajian. Sependek pengetahuanku, pengajian itu diikuti oleh Ibu-ibu Dharma Wanita Persatuan (Istri-istri diplomat Indonesia di Maroko, baik home staff maupun local staff ) juga diikuti oleh beberapa orang Maroko dan non Maroko. Pengajian dimulai dengan Tadarusan, yakni satu orang membaca dan yang lain menyimak. Ibu Dubes sebagai guru yang mengingatkan ketika muqriah (pembaca Al-Quran) salah dalam membaca (baik makhroj, harakat maupun pelafalannya).

Usai Tadarusan, acara dilanjutkan dengan acara Tafaqquh fid Din (mengkaji ilmu fikih). Ibuku dan Ibu kita semua ini cerdas orangnya. Salah satu isi pengkajian Tafaqquh Fid Din yang saya dengar (menguping)—maklum beberapa bulan sebelum Ibu dipanggil Allah, saya selalu menyempatkan diri jumatan di KBRI selepas kuliah (disamping sebagai ajang silaturrahmi dengan KBRI, saya juga bisa makan enak ala Indonesia selepas jumatan, yummy3x…), tetapi detik-detik Ibu dipanggil oleh Allah saya tidak bisa jumatan di KBRI lagi karena selepas jumatan saya harus mengikuti kuliah ekstra Bahasa Spanyol di Dar El Hadith El Hassania—Ibu membacakan Ayat jika tidak salah
“إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat dan yang mensucikan diri) [Al-Baqoroh:222]”.

Ibuku menjelaskan kepada ibu-ibu pengkajian Tafaqquh Fid Din, “Kita tidak hanya dituntut mensucikan hati dari dosa-dosa hati, tetapi ayat ini juga bisa diartikan mensucikan anggota badan, terutama bagian kewanitaan dan yang berkaitan dengannya, seperti haid dll”.

“Subhanallah luar biasa” gumam hati kecilku sembari kukunyah bakwan di tangan. Betapa cerdas ibuku ini. Itu yang terlontar dari pikiranku. Berualang kali saya baca ayat di atas, namun belum pernah terpikir dalam akal saya penafsiran yang seperti itu.

Kedua

Ia adalah manusia pembelajar. Dia selalu membaca. Ini saya buktikan dengan tanggapan-tanggapan beliau saat saya menghadiri acara diskusi yang diadakan di KBRI yang bekerjasama dengan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Maroko. Ia memberikan tanggapan dan masukan-masukan yang sangat brilian. Saya terkagum.

Dan yang lebih dahsyat lagi, di beberapa event dan momen Bapak Dubes, Tosari Widjaja (Suami Almarhumah) seusai menyampaikan pendapat dan pengarahan, hampir tidak kelewatan ia menawarkan kepada Bu Dubes untuk memberikan tambahan ide maupun komentar. Benar, ternyata terkadang ada yang tidak dilihat dan dipikirkan Pak Dubes terpikirkan dan terlihat oleh Bu Dubes. “Maka hasilnya… sempurna”, Batinku berujar seusai diskusi.

Ketiga

Ia seorang nasionalis tulen. Pernah pada acara Indonesian Day ke-66 yang digelar di Wisma Duta, ketika para undangan dari diplomat-diplomat asing dipersilahkan menyumbangkan lagu, Istri Dubes Malaysia menyayikan lagu jika tidak salah Apuse, spontan Ibuku menegurnya dan memintanya untuk menyayikan lagu yang lain, “Eh itu kan lagu milik Indonesia, nyanyikan lagu Malaysia saja…”, Tegur Ibuku.

Keempat

Ia adalah seorang seniman. Lukisan-lukisannya menjadi bukti nyata, betapa beliau sungguh lembut hatinya. Mencintai seni dan peradaban. Ia lukis panorama alam Indonesia, Portugal dan Maroko beserta fisikal orang-orang dan adat istiadatnya. Terakhir ia belajar melukis kaligrafi. Ia merasa ajalnya sudah dekat, diambilnya kanvas, ditumpahkan firasat tersebut dalam warna-warni kaligrafi yang khas;

إلهي
قد قرب أجلي
وضعفت قوتي
وجئتك بذنوبي
لا تحملها الجبال
ولا تغسلها البحار
بل أسألك العفو
يا غفار
كل المخلوقات تحت قهر عظمة الله
مخصوصة طاساري ويجايا

Roja’ Ila Allah
My 1st Caligraphy
Augustus 2011

Artinya:
Duhai Tuhanku
Sungguh telah dekat ajalku
Dan telah melemah kekuatanku
Aku datang kepada-Mu dengan memikul dosa-dosaku
yang gunung-gunung tak sanggup memikulnya
dan samudera tak mampu membasuhnya
Tetapi, Aku mohon ampunan-Mu
Duhai Dzat Yang Maha Pengampun

Semua makhluk di bawah kekuasaan keagungan Allah
Makhsusoh Tosari Widjaja

Demikian sekuntum pengalaman-pengalaman saya selama mengenal Bu Dubes. Saya bersaksi kepada Allah bahwa beliau adalah wanita sholehah, senyuman selalu tersungging di bibirnya dalam suka maupun duka. Ibuku boleh jadi marah, namun kemarahannya ia simpan sendiri, sekilat ia tampilkan wajah kesabaran di depan saudara-saudara dan anak-anaknya.

Kesaksian saya rasa tidak perlu. Karena kesaksian realitas sudah cukup membuktikannya. Realitas Bu Dubes sebelum tidak sadarkan diri; waktu itu, selepas sholat Jumat di KBRI Rabat-Maroko seperti biasa Bu Dubes dengan para istri-istri diplomat makan siang bersama. Selepas makan mereka berbincang. Nah pada waktu itu salah satu jama’ah Tafaqquh Fid Din Ibu Fauziah Buzube’ meminta nasehat kepada beliau. Bu Dubes membuka surat Yasin. Di tengah menjelaskan Surat Yasin itulah Ibu Dubes tiba-tiba pingsan tidak sadarkan diri.

Seolah petir si siang bolong berita itu menyambar telingaku. “Ah masa Bu Dubes pingsan? Padahal kan kemarin sehat-sehat saja?” Batinku tertegun penuh tanya.

Dua jumat dirawat di rumah sakit terbaik di Maroko, Cheikh Zaid. Selama itu pula ikhtiar lahir batin dilakukan oleh keluarga; keluarga dalam arti hakiki, keluarga PPP, Keluarga Muslimat NU, keluarga KBRI, Keluarga PPI dll. Ikhtiar telah dimaksimakan, tetapi keputusan tetaplah di Takdir Allah.
Tepat 21 Desember 2011, 20.30 GMT bertepatan tanggal 22 Desember 2011, 03.30 Ibuku, Ibukita semua menghembuskan nafasnya yang terakhir untuk memenuhi panggilan Allah. Panggilan yang akan didengar dan dicicipi oleh setiap yang bernyawa. Maut.

Penutup
Semoga artikel singkat ini ada manfaatnya. Tentu kebaikan dan kiprah beliau di ranah dan bidang lainnya masih banyak. Namun, demikianlah artikel ini sebagaimana judulnya “Bu Dubes yang kukenal”. Saya yakin orang lain memiliki pengalaman berbeda dengan beliau. Tergantung kedekatan dan pendek panjangnya interaksi. Alla kulli hal (however) Aku mohon kepada-Mu, Duhai Tuhanku, Duhai Yang Maha Pengampun, ampuni dosa-dosa kami khususnya dosa ibu kami tercinta, Makhsusoh Ujiati. Dan tempatkanlah ia di tempat yang Kaucinta dan Kauridhoi.

Ditulis pada 01.07 GMT, Kamis, 02/Feb/2012, Kantor PPI Maroko.
Diedit pada 18.07 GMT, Jumat, pas adzan Magrib, 03/Feb/2012, Kantor PPI Maroko.
~AIZ~

« Newer Posts - Older Posts »

Categories