Posted by: alvianiqbal | February 21, 2009

Mengenali Konsep Ketuhanan Wahabi

Konsep ketuhanan atau filsafat ketuhanan yang ditawarkan oleh kelompok yang terkenal dengan sebutan Wahabi tidak jauh berbeda dengan konsep ketuhanan yang ditawarkan oleh agama Yahudi dan Nasrani.

Pasalnya, dalam doktrin Wahabi ditemukan kesamaan keyakinan (Aqidah) tentang Tuhan dengan keyakinan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka meyakini Tuhan sebagaimana laiknya Yahudi dan Nasrani.

Pada hari minggu tanggal 1 Februari 2009 harian umum Jawa Pos memuat sebuah resensi buku yang berjudul “Einstein Tak Menemukan Tuhan”. Di dalam resensi disebutkan bahwa Albert Einstein tidak menerima konsep ketuhanan yang ditawarkan Talmud (Taurat) dan Al-Kitab (Injil). Mengapa demikian? Menurut Einstein konsep ketuhanan yang diajarkan Yahudi dan Nasrani (gereja) tidak sejalan dengan akal sehat.

Diantara konsep (Filsafat) ketuhanan yang tidak dapat diterima oleh Einstein adalah keyakinan tentang Tuhan yang dipersonalkan atau digambarkan seperti manusia (Antropomorfisme).

Yahudi dan Nasrani meyakini bahwa Tuhan mereka ada di atas langit. Keyakinan ini sama dengan keyakinan Wahabiyah (Pengikut faham yang diusung oleh Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi W.1206 H) yang meyakini bahwa Tuhan mempunyai tempat dan arah yakni terkadang mereka meyakini Tuhan ada di atas langit di samping mereka juga meyakini-Nya ada di atas Arsy. Di sinilah kesamaan aqidah Wahabi dengan agama Yahudi dan Nasrani bahkan tampak lebih rancu. Yakni aqidah yang dikenal di kalangan umat Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah dengan Aqidah Tasybih wat Tajsim (Menyerupakan Tuhan dengan makhluk-Nya atau Tuhan yang dipersonalkan seperti manusia)

Sebagaimana mafhum di kalangan Aswaja bahwa Dzat Tuhan tidak bertempat dan tidak diliputi oleh (Atau ‘meliputi’; Sanggahan terhadap buku karya Agus Mustofa yang berjudul “Menyatu Dengan Tuhan”) arah penjuru yang enam (Atas, bawah, kanan, kiri, depan dan belakang). Mengapa demikian? Karena apabila Tuhan bertempat maka ada beberapa keniscayaan yang tidak boleh (Mustahil) disandang oleh Tuhan.

Pertama, setiap yang bertempat meniscayakan kebutuhan eksistensinya kepada tempat yang ditempatinya. Sedangkan Tuhan Maha Kaya, tidak membutuhkan apa pun dan siapa pun dari makhluk-Nya. Bukankah tempat adalah makhluk Allah?Bala.

Kedua, setiap yang bertempat pasti berukuran (Mempunyai batas-batas). Ada tiga alasan logis mengapa yang bertempat (Duduk/bersemayam/menetap/berada di atas Arsy) pasti berukuran: Pertama, ada kalanya yang ditempati/diduduki lebih besar. Kedua, ada kalanya yang ditempati lebih kecil. Ketiga, ada kalanya yang ditempati sama persis dengan yang menempati/menduduki.

Maka setiap sesuatu yang mahdud (Mempunyai ukuran/batas) pasti ada yang menciptakannya atas ukuran (Batasan-batasan) tersebut. Seperti meja. Meja mempunyai ukuran. Lazimnya, ukuran meja lebih besar dari kursi sekaligus lebih kecil dari lemari. Meja yang berukuran (Mempunyai batas atas, bawah, tinggi, lebar dan panjang) pasti ada yang menciptakan atas bentuk tersebut yaitu tukang kayu. Maka jika Tuhan diyakini mempunyai Ghayat dan Hudud (Batas dan ukuran) maka Tuhan adalah makhluk (Tercipta) karena pasti ada yang menciptakan-Nya atas ukuran tersebut ibarat meja. Maha Suci Allah dari semua itu. Al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi (W. 321 H) menyatakan dalam kitabnya al-Aqidah ath-Thahawiyah: Ta’ala ‘anil Hududi wal Ghayati wal Arkani wal A’dha’i wal Adawati La Tahwihil Jihatus Sittu Kasairil Mubtada’at “Maha Suci Allah dari ukuran, batas akhir, sisi-sisi, anggota tubuh yang besar (Seperti tangan dan kaki) dan anggota tubuh yang kecil (Seperti mata dan lidah) Dia tidak diliputi oleh arah penjuru yang enam sebagaimana semua makhluk (Diliputi oleh arah)”.

Konsekuensi logis lainnya bagi setiap sesuatu yang mahdud (terbatas) adalah muqaddar (Mempunyai ukuran) dan setiap yang muqaddar pasti makhluk. Makhluk (Menurut para teolog) ada dua; Jism dan ‘Aradh (Benda dan sifat benda). Jism (benda) terbagi menjadi dua: Jism Katsif (Benda kasar yang secara substansial dapat dipegang oleh tangan seperti manusia, batu, arsy, matahari dll) dan Jism Lathif (Benda yang tidak dapat dipegang oleh tangan, seperti ruh, cahaya, kegelapan, angin dll). Adapun ‘Aradh adalah sifat benda seperti berubah, turun, naik, berwarna, berdimensi, bervolume, bertempat, berarah, bergerak, diam dll. Sedangkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan Jism bukan pula Aradh. Allah tidak menyerupai apa pun dari makhluk-Nya dan tidak ada sesuatu apa pun dari makhluk-Nya yang menyerupai Allah, Laisa Kamislihi Syai’ (asy-Syura : 11).

Ketiga, setiap yang bertempat pasti diliputi oleh ruang, waktu dan arah. Padahal Allah Subhanahu Wa Ta’ala ada pada ‘Azal (Keberadaan tanpa permulaan) sebelum adanya ruang, waktu, arah dan makhluk-makhluk lainnya. Dalam shahih al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: Kanallahu Walam Yakun Syaiun Ghairuhu/Qablahu “Allah ada pada ‘Azal dan tidak ada sesuatu apa pun selain-Nya/sebelum-Nya”. Pendekar Ahlussunnah Wal Jama’ah al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari (W. 324 H) menyatakan: Innallaha La Makana Lahu “Allah tidak bertempat”.

Adapun perkataan Imam al-Asy’ari dalam kitabnya al-Ibanah ‘An Ushulid Diyanah: Ya Sakina as-Sama’ atau Walladzi Ihtajaba Bi Sab’is Samawat “Wahai Dzat Yang Tinggal di Langit/Demi Dzat yang tertutupi oleh tujuh langit” Para ulama seperti Syekh Abdullah al-Harari (W. 1429 H) dan Syekh Wahbi Sulaiman Ghawiji al-Albani (Pentahqiq kitab Idhahud Dalil) menyatakan bahwa kitab al-Ibanah yang beredar sekarang validitasnya tidak dapat dipertanggungjawabkan karena banyaknya das (Sisipan/penambahan dan pengurangan) dari pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dari nama besarnya.

Keempat, apabila diyakini Allah bertempat di atas langit atau duduk/bersemayam/berada/mustaqir di atas Arsy setelah sebelumnya (Pada ‘azal) tidak bertempat, maka Allah menyandang sifat Taghayyur (Berubah) dari tidak bertempat menjadi bertempat di langit atau di atas ‘Arsy.

Menurut Ulama dan ilmuwan at-Taghayyur (Perubahan) merupakan sifat yang paling menonjol (Dominan) pada makhluk. Semua makhluk pasti mengalami perubahan. Secara logika (Ilmu Manthiq); Sesuatu yang berubah pasti Haadis (baru) dan setiap yang Haadis pasti makhluk (Tercipta). Sedangkan Allah adalah al-Khaliq (Pencipta) dan al-Qadiim/La Awwala Lahu (Tidak didahului oleh permulaan) lawan dari al-Haadis/Lahu Awwalun (Mempunyai permulaan). Maha Suci Allah dari sifat Taghayyur.

Kelima, apabila Tuhan diyakini berada (Bertempat/duduk) di atas Arsy, maka ayat al-Quran akan bertentangan antara satu dengan lainnya (Tanaqudh).

Di satu tempat Allah berfirman Tsummas Tawa ‘Alal Arsy (al-A’raf : 54 & al-Hadid : 4) dan Ar-Rahman ‘Alal ‘Arsyis Tawa (Thaha : 5) kedua ayat ini apabila dipahami secara makna lahiriahnya menunjukkan bahwa Dzat Allah ada di atas Arsy.

Sedangkan di tempat yang lain Allah berfirman A-amintum Man fis Sama’i ‘An Yakhsifa Bikumul Ardh (al-Mulk : 16) dan Tsummas Tawa ilas Sama’ (al-Baqarah : 29) kedua ayat ini secara lahiriyah menetapkan bahwa Dzat Allah ada di Langit.

Di tempat yang lain Allah juga berfirman: Wahuwal Ladzi fis Sama’i ilahun wa fil Ardhi ilahun (az-Zukhruf : 84) Wahuwallahu fis Samawati wafil ‘Ardhi (al-An’am : 3) kedua ayat ini secara lahiriah menetapkan Dzat Tuhan ada di Langit dan ada di Bumi.

Di tempat yang lain Allah berfirman: Wahuwa Ma’akum Ainama Kuntum (al-Hadid : 4) dan Fainama Tuwallu Fatsamma Wajhullah (al-Baqarah : 115) kedua ayat ini secara makna lahiriah menetapkan Dzat Tuhan ada di mana-mana.

Keyakinan Allah di atas Arsy yang diyakini oleh Wahabi merupakan suatu konsep ketuhanan yang terbentuk dari pemahaman ayat mutasyabihat (Antropomorfisme) dengan cara mengambil makna lahirnya (Dzahiral ayat). Padahal seluruh Ulama Salafus shaleh (I-III H) dan Khalafus shaleh (IV-Sekarang) dari kalangan Aswaja menyatakan dengan tegas larangan memahami ayat mutasyabihat secara Dzahiral ayat, karena konsekuensi logisnya apabila berpegangan pada makna dzahir ayat maka akan menetapkan eksistensi Dzat Tuhan yang saling bertentangan yakni Dzat Tuhan yang ada (Bertempat) di Arsy juga ada di langit, di Bumi dan ada di mana-mana sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Al-Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad menyatakan: Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri “Jagalah aqidahmu dari berpegang teguh dengan dzahir ayat atau dzahir hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

Keenam, jika diyakini Allah duduk di atas Arsy maka keyakinan ini merupakan keyakinan yang bertentangan dengan akal sehat; Mengapa demikian?

Alasan pertama, setiap yang duduk pasti mempunyai dua bagian, bagian atas dan bawah. Menurut kaidah bahasa dan ilmu anatomi; Manusia bisa dikatakan duduk, anjing pun duduk, monyet pun duduk, tapi ikan tidak dapat dikatakan duduk karena tidak mempunyai dua bagian, yakni atas dan bawah. Oleh karena itu, jika Allah duduk maka Allah merupakan jism (Benda/tubuh/sosok) yang terdiri dari bagian-bagian, yang kemudian meniscayakan kesamaan Dzat-Nya dengan manusia, anjing atau monyet karena mereka semua duduk. Maha Suci Allah dari sifat duduk.

Diantara para ulama salaf maupun khalaf dari kalangan Aswaja tidak ada satu pun dari mereka yang mengartikan atau memahami Istawa (Thaha : 5) dengan makna duduk/qa’ada atau menetap/istaqarra. Kecuali Ibnu Taimiyah al-Harrani (W.728 H) dalam Majmu’ Fatawa, Bayan Talbis al-Jahmiyah, Ibnu Qayyim al-Jauziyah (W.751 H) dalam Ijtima’ al-Juyush al-Islamiyah, Muhammad Quraisy Syihab dalam tafsir Al-Misbahnya ketika menafsiri Surat (Thaha : 5) dan Surat (al-A’raf : 54).

Alasan kedua, apabila diyakini Tuhan duduk/bersemayam/bertempat di atas Arsy maka Tuhan akan mengecil Tadhoul ad-Dzat (Mengecilnya Dzat) sampai dzat-Nya tiba di langit dunia. Karena dalam hadis sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim disebutkan (Sesuai pemahaman Wahabi) bahwa “Dzat Tuhan turun secara hakiki setiap sepertiga malam terakhir ke langit dunia seraya berseru; Siapa yang berdoa akan aku dikabulkan, siapa yang meminta akan aku beri dan siapa yang beristighfar akan aku ampuni”.

Sebagaimana diketahui bahwa urutan makhluk Allah yang paling besar (Secara fisik) adalah Arsy kemudian Kursi kemudian langit yang tujuh. Ibnu Baththah al-‘Akbari (W.387 H) dalam al-Ibanah al-Kubra merekam suatu riwayat bahwa Abu Dzar al-Ghifari mendengar Rasulullah bersabda: Massamawatu as-Sab’u fil Kursiyi illa Kahalaqotin fi Ardhi Falatin, wa Fadhlul Arsy ‘ala al-Kursiyi Kafadhli Tilkal Falati ‘ala Tilkal Halaqoh “Perbandingan (Ukuran) langit yang tujuh dengan Kursi ibarat cincin berada di padang sahara, sedangkan perbandingan Arsy dengan Kursi ibarat padang sahara dengan cincin tersebut”.

Sebagaimana diketahui pula bahwa bentuk bumi adalah bulat. Dan sepertiga malam terakhir antara belahan bumi yang satu dan lainnya berbeda-beda. Lantas apabila Dzat Allah Turun ke langit dunia pada setiap sepertiga malam terakhir maka tidak ada kerjaan bagi Allah kecuali naik-turun. Dari Arsy turun ke langit dunia dengan cara mengecilkan dzat-Nya (Imam Ibnu Jama’ah dalam Idhahud dalil mengistilahkan ini dengan Tadhauludz Dzat) lalu naik ke Arsy dengan cara membesar sampai tiba di Arsy lalu turun lagi dan seterusnya. Maha Suci Allah dari keyakinan konyol ini.

Istawa ‘Ala al-Arsy dalam al-Quran

Tsummas Tawa ‘Ala al-Arsy di dalam al-Quran ada 6 (Enam) menjadi 7 (Tujuh) dengan lafadz ar-Rahman ‘Ala al-Arsyis Tawa (Surat Thaha : 5):

1. Surat al-A’raf : 54

2. Surat Yunus : 3

3. Surat ar-Ra’d : 2

4. Surat al-Furqan : 59

5. Surat as-Sajdah : 4

6. Surat al-Hadid : 4

7. Surat Thaha : 5

Makna Istawa

Di dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia susunan W.J.S. Poerwadarminta hal. 903, kata Semayam (= bersemayam): duduk; tinggal (di); berkediaman mis. baginda pun bersemayam di atas singgasana dihadap oleh segala menteri tumenggung hulubalang sekalian. Persemayaman: tempat duduk; tempat kediaman.

Adapun di dalam bahasa Arab Istawa mempunyai lebih kurang 15 makna. Makna dzahirnya adalah duduk (Qa’ada) atau bersemayam (Istaqarra). Sedangkan makna istawa lainnya diantaranya:

1. Tamma (Sempurna) seperti; Walamma Balagha Asyuddahu Wastawa (al-Qashash : 14) “Ketika Musa telah dewasa dan telah sempurna/matang pikirannya”.

2. Qashada (Bermaksud/berkehendak) seperti; Tsummas Tawa ilas Sama’ (al-Baqarah : 29) “Kemudian Dia bermaksud/berkehendak menjadikan langit”.

3. I’tadala (Sama) seperti; Hal Yastawi al-Ladzina Ya’lamuna Wa al-Ladzina La Ya’lamun (az-Zumar : 9) “Apakah sama (Tidaklah sama) orang-orang yang berilmu pengetahuan dengan orang-orang yang tidak berilmu pengetahuan”.

4. Nadhija (Matang) seperti; Istawat al-Fakihah “Buah itu sudah matang”.

5. Istaqama (Lurus) seperti; Istawuu Shufufakum “Luruskan shaf/barisan kalian”.

6. Qahara wa Istaula (Menguasai) seperti perkataan syair; Qadis tawa Bisyrun ‘Alal ‘Iraqi Min Ghairi Saifin wa Damin Muhraqi “Bisyr bin Marwan telah menguasai Negeri Iraq, tanpa perlawanan dan tanpa pertumpahan darah”. Syair ini digubah oleh penyair muslim yang bernama Abu Malik Ghiyats bin Ghauts al-Akhthal putra dari penyair yang bernama Farazdaq. Ada yang mengatakan bahwa al-Akhthal saudaranya Farazdaq dan beragama Nasrani, tetapi hal ini dibantah oleh Syekh ‘Abbasi Shamim dalam kitabnya Ma’ahid at-Tanshish ‘Ala Syawahid at-Talkhish.

Istawa menurut Salafus shaleh dan Khalafus shaleh

Pada dasarnya semua ulama, salaf maupun khalaf menta’wil ayat atau hadis mutasyabihat. Perbedaannya, mayoritas salaf menta’wil secara Ijmali sedangkan khalaf menta’wil secara tafshili.

Ta’wil adalah Sharfu/Naqlu al-Lafdzi ‘An Maknahu adz-Dzahir ila Ma’nan Yahtamiluhu “Memalingkan kata/lafadz dari makna dzahirnya kepada makna yang memungkinkan (Yang sesuai dengan dalil naqli dan aqli)”. (Dinukil dari Lisanul Arab dan Tajul ‘Arus).

Ta’wil menurut ulama ada dua; Ta’wil Ijmali dan Ta’wil Tafshili. Ta’wil Ijmali disebut juga Tafwidh yakni memalingkan makna dzahir teks mutasyabihat dengan tanpa menentukan salah satu dari makna-makna yang memungkinkan. Seperti lafadz Istawa mayoritas salaf memalingkannya dari makna dzahirnya, dalam artian tidak memahaminya dengan Qa’ada/Istaqarra/Bersemayam pun tidak mengartikannya dengan Qahara/Istaula/Tamma/Qashada/I’tadala/Nadhija dll. Tapi mereka menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala. Istawa menurut mereka (Mayoritas salaf) adalah istawa bukan bersemayam bukan pula menguasai. Jadi seharusnya (Sesuai metode mayoritas salaf) istawa di dalam al-Quran tidak diterjemahkan dengan bersemayam atau pun menguasai. Ar-Rahman ‘Alal ‘Arsyis Tawa (Thaha : 5) “Yang Maha Pengasih yang Istawa atas ‘Arsy”.

Dalam hal ini perlu fahami bahwa tidak semua ulama salaf menggunakan metode Tafwidh/Ta’wil Ijmali karena diantara mereka ada yang menggunakan Ta’wil Tafshili Seperti Ibnu Abbas, al-Imam al-Bukhari, Imam Ahmad bin Hambal, Imam al-Auza’i dll.

Ta’wil Tafshili adalah memalingkan lafadz dari makna dzahirnya dengan menentukan salah satu makna yang ada sesuai dengan dalil naqli maupun aqli. Seperti lafadz Istawa mereka memalingkan dari makna dzahirnya dengan menentukan salah satu makna yang ada yaitu Qahara/Menguasai. Ar-Rahman ‘Alal ‘Arsyis Tawa (Thaha : 5) “Yang Maha Pengasih yang Menguasai atas ‘Arsy”.

Metode ini digunakan oleh seluruh ulama khalaf karena darurat. Mereka menggunakan metode tersebut demi kemaslahatan dan keselamatan akidah orang awam yang jauh dari masa salaf. Jikalau bukan karena orang awam niscaya ulama khalaf menggunakan metode salaf.

Riwayat Imam Malik tentang Istiwa’

Redaksi perkataan Imam Malik ketika ditanyai tentang Istiwa‘ bermacam-macam tapi artinya sama:

Redaksi pertama: Al-Istiwa’ Ma’lum wal Kaifu/kaifiyah Majhul– Wal Imanu bihi Wajibun was Sualu ‘anhu Bid’atun

Redaksi kedua: Al-Istiwa’ Ma’lum wal Kaifu Ghairu Ma’qul– Wal Imanu bihi Wajibun was Sualu ‘anhu Bid’atun

Redaksi ketiga: Al-Istiwa’ Ma’lum wal Kaifu ‘anhu Marfu’– Wal Imanu bihi Wajibun was Sualu ‘anhu Bid’atun. Artinya: “Al-Istiwa’ sudah diketahui (Dalam al-Quran dan dalam bahasa Arab), al-Kaif (Tehnisnya/sifat makhluk) tidak masuk akal (Mustahil), mengimaninya wajib, dan merpertanyakan kaif suatu bid’ah”.

Untuk melengkapi informasi tentang ayat-ayat dan hadis-hadis mutasyabihat (Antropomorfisme) serta seputar tentang Ta’wil Ijmali (Tafwidh; Menyerahkan hakikat makna ayat antropomorfisme kepada Allah dengan tanpa menentukan salah satu dari makna-makna yang ada) dan Ta’wil Tafshili (Menentukan makna dari makna-makna yang ada sesuai dengan kaidah bahasa Arab, dalil aqli dan naqli) pembaca setia Aula dapat merujuk kitab Idhahud Dalil fi Qath’I Hujaji Ahlit ta’thil karya Imam Badruddin Ibnu Jama’ah.

Akhiran, dalam masalah ini cukuplah bagi kita dua pernyataan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib (W.40 H) Radhiyallahu ‘Anhu wa Karrama Wajhah;

Innallaha Khalaqa Al-‘Arsya Idzharan li Qudratihi, wa Lam Yattakhidzhu Makanan li Dzatihi “Sesungguhnya Allah menciptakan Arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya, bukan untuk menjadikan Arsy sebagai tempat tinggal-Nya”.

Kanallahu wa La Makan, Wa Huwal An ‘ala Ma ‘Alaihi Kan “Allah ada pada Azal (Keberadaan tanpa permulaan) dan Dia sekarang (Setelah menciptakan tempat dan arah) ada sebagaimana ada pada Azal (Tanpa tempat dan arah)”. (Kedua pernyataan Sayyidina Ali ini diriwayatkan oleh Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farqu Baina al-Firaq, hal. 321). Wallahu a’lam bis showab. Alhamdulillah artikel ini dimuat di majalah AULA, No. 03 Tahun XXXI Maret 2009

Advertisements

Responses

  1. ahsan kitabak………….

    • alhamdulillah, berkat doa Mas San Rihael, tulisan ini dimuat di majalah AULA (Majalahnya NU)

  2. jahil murokkab ente…

    • Terima kasih antum telah membaca artikel kami. Satu catatan buat antum; Mencaci tidak akan menyelesaikan pemikiran dan peradaban. Maka kami tunggu artikel balasan antum! Mari kita lestarikan artikel berbalas artikel, buku berbalas buku, guna peradaban yang cerdas dan membangun.

  3. ea sebaikxa kaum muslim jgn saling mencaci sesama muslim yg lainya,krn dgn sperti ini tdk akan menyelesaikan masalah,yg ada mlah mnimbulkan perselisihan d antara kaum muslim………:D

    • mencaci itu tidak dibenarkan walau atas nama kebenaran. Sedangkan perselisihan itu sunnatullah yang mesti disikapi cerdas dan bijak. bukankah demikian?

  4. oh berarti madzhab wahabi cikal bakalnya dari kaum yahudi ea………….

    • Bukan cikal bakal, tapi ada persamaan dalam akidah, baik itu disadari atau tidak.

  5. mantap kang, syukron… wah seru tuh bahasannya. selama ini kadang saya berpikir bahwa dengan wahabi hanya beda tipis yaitu masalah fiqih, ternyata beda nya besar banget, tidak mengakui madzhab, konsep ke Tuhanan nyapun mesti di analisa kembali .

    • Terima kasih. Semoga manfaat. Mereka mengklaim bermadzhab (fiqh) Hanbali. Dalam akidah bermadzhab ke Ibnu Taimiyah & Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dan Muhammad ibnu Adul Wahab.

  6. diantara 2 metode ta’wil ( ijmali & tafshili ), manakah yg digunakan oleh ulama salaf…???
    kalau digunakan karena darurat ( karena orang awam ), berarti 2 metode itu masih bias ( belum ada titik temu )..???
    terima kasih…….

    • beberapa ulama salaf ada juga yg menggunakan ta’wil tafsili, seperti Imam Ahmad Bin Hambal ketika menafsiri “Wa ja-a robbuka”, Ja-a amru robbika. Imam bukhari juga mentakwil “Kullu Syai-in Halikun illa wajhah” ai, kullu syaiin halikun illa amalun solih. silahkan lihat Sahih Bukhari bab tafsir ayat “Kulli Syai-in Halikun”
      terima kasih

    • Ulama salaf ada yg mentakwil seperti Albukhari dlm Sahihnya ketika berbicara ttg KULLU SYAIN HALIKUN ILLA WAJHAH

  7. trmksi bnyak mas…mga pemuda/i indonesia bisa menganalisa ini………apa lgi skrng org bnyak menganggap enteng agama itu…tpi bgi kita yg tdk mngetahxi na trnyata bnyak yg slh……lau bsa prbnyk lgi mas artikel pemhaman asxaja mas

    • kembali kasih akhi Basri.
      Insya Allah akan diperbanyak, punya cita2 ingin menulis ttg Akidah Aswaja sebagaimana yg saya galaukan selama ini hahahihi, mhon doanya

  8. Syabas atas penulisan artikel ini wlpn bahasa penyampaiannya agak teknikal tp mudah difahami org yg biasa2 (layman). Keep it up!

    • syabas itu apa Pak? terima kasih atas kritikannya.

    • Syukron

  9. Alhaqqu min robbika falaa takuunanna minal mumtariin.
    Bahasa iman tidaklah sama dg bahasa akal. Manusia boleh mengingkari al-aqur’an kalau dia bisa membuktikan kesalahan al-qur’an, sayangnya hal ini mustahil…:)

    • Bahasa iman dan akal tdk pernah benturan, tp seirama dan senada. Hanya org2 keji yg mengatakan akal dan iman tak saling mendukun.

  10. http://muslim.or.id/aqidah/sifat-istiwa-allah-di-atas-arsy.html#

    • Peringatan: HATI2 DENGAN SITUS DI ATAS, SITUS MI
      LIK WAHABI, MUJASSIMAH ALIAS GOLONGAN PENYERUPA ALLAH DENGAN MAKHLUKNYA. betapa kejinya mereka mengatakan ALLAH BERADA DI ATAS, BERTEMPAT DI ARSY. ini jelas2 bukan akidah SALAFUS SALEH. Jelas MENYALAHI ALQURAN DAN HADIS.

  11. […] Contoh uraian yang lebih lengkap pada https://alvianiqbal.wordpress.com/2009/02/21/mengenali-konsep-ketuhanan-wahabi/ […]

  12. […] Contoh uraian yang lebih lengkap pada https://alvianiqbal.wordpress.com/2009/02/21/mengenali-konsep-ketuhanan-wahabi/ […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: